<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425</id><updated>2011-11-30T13:23:32.271-08:00</updated><title type='text'>kata..</title><subtitle type='html'>Senjata yang paling kuat adalah kata. Bila rencong dan siwah meninggalkan bekas darah. Kalau anak bisa dilihat dari kejauhan. Racun bisa terdeteksi dan dihindari. Tapi kata bisa menghancurkan tanpa meninggalkan jejak. [Anonim]</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-8318768061963131968</id><published>2009-09-14T21:19:00.001-07:00</published><updated>2009-09-14T21:19:44.112-07:00</updated><title type='text'>Janji Berhenti Menulis, Blogger Vietnam Dibebaskan - techno.okezone.com</title><content type='html'>&lt;a href="http://techno.okezone.com/read/2009/09/15/55/257552/janji-berhenti-menulis-blogger-vietnam-dibebaskan"&gt;Janji Berhenti Menulis, Blogger Vietnam Dibebaskan - techno.okezone.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shared via &lt;a href="http://addthis.com"&gt;AddThis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-8318768061963131968?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/8318768061963131968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/8318768061963131968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2009/09/janji-berhenti-menulis-blogger-vietnam.html' title='Janji Berhenti Menulis, Blogger Vietnam Dibebaskan - techno.okezone.com'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-5629818613339161734</id><published>2008-12-06T04:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-05T00:23:23.495-08:00</updated><title type='text'>'Senyum Dong, Karim'</title><content type='html'>Nyaris semua pencinta sepakbola tahu bahwa Karim Benzema adalah salah satu mutiara terbaik. Tetapi, ada citra tak sedap yang menempel padanya. Makanya, senyum dong, Karim!&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan usia baru 20 tahun, ketajaman Benzema sudah membuat jeri lawan-lawan Lyon, klubnya, atau timnas Prancis. Menjadi top skorer Liga Prancis musim lalu dengan 21 gol menjadi bukti tak terbantahkan dari kehebatan Benzema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popularitas Benzema memang kian menanjak dari hari ke hari. Tetapi kehidupan bergelimang ketenaran dan kemewahan bukanlah hal yang mudah untuk bisa ditanggapi dengan bijaksana oleh seorang pemuda berusia 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pendapat Gregory Coupet, mantan rekan Benzema di Lyon. Benzema dianggap kiper yang kini berlabuh di Atletico Madrid itu bagaikan 'gangster' yang sudah kehilangan pegangan nilai-nilai luhur olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karim adalah seorang pemain yang luar biasa. Seorang pemain yang punya masa depan kelas dunia. Tetapi dia baru 20. Saat ini kita menerima semua dari pemain muda dan memberi mereka terlalu banyak," kata Coupet di Goal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak pemain muda yang tertelan oleh popularitas mereka sendiri. Sudah banyak pemain muda berbakat yang jadi contoh sempurna. Coupet tidak ingin hal ini menimpa Benzema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karim tak akan memiliki sikap seperti saat ini jika dia mendapat saran yang lebih baik. Jika saja saya ini jadi humasnya, yang pertama adalah saya akan memintanya tersenyum  sedikit karena ia punya muka yang jahat di setiap foto," ujar kiper berumur 35 tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melihatnya membuat saya sedih karena saya kenal baik dengannya dan bisa bilang bahwa dia orang yang hebat. Tetapi di usia 20 tahun, dia sudah menjadi 'gangster'," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini Karim lebih fokus ke dirinya sendiri, tentang rencana bisnis. Itulah yang membuat olahraga ini mati karena kita sudah tidak memberikan kesenangan kepada fans seperti dulu," tutup Coupet.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-5629818613339161734?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/5629818613339161734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/5629818613339161734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2008/12/senyum-dong-karim.html' title='&apos;Senyum Dong, Karim&apos;'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-4694576537166920747</id><published>2008-02-25T08:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T04:53:07.371-08:00</updated><title type='text'>Lingkungan</title><content type='html'>Kecemasan adalah tema pokok berita utama Kompas kemarin (Senin, 24/09/07). Laju pengrusakan hutan dan pesisir berjalan cepat sementara laju rehabilitasinya tertaih-tatih terabaikan. Di tengah ancaman pemanasan global yang makin konkret, kita di Indonesia justru terus sibuk merusak lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan hidup adalah isu mendasar yang terpinggirkan dalan simpang siur dan hiruk-pikuk isu-isu politik permukaan. Benar, masa depan demokrasi perlu diperjuangkan dan program-program penyejahteraan sosial-ekonomi masyarakat perlu digalakkan. Tapi, bisakah demokrasi dan kesejahteraan tegak di tengah punahnya daya topang ekologi? Bisakah kita terus berdiri gagah sebagai bangsa demokratis di tengah kepungan kerusakan lingkungan tak terpanai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jawabannya adalah “tidak”, lalu apa yang seyogianya kita lakukan? Izinkan saya masuk ke isu yang tak seksi tetapi sesungguhnya penting dan genting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran Kasip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari cukup alasan untuk mencemaskan kerusakan lingkungan sebagai persoalan pokok kita. Berbagai fakta dan data memilukan tentang kerusakan dan pengrusakan lingkungan dengan mudah kita deretkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu, badan dunia FAO melansir sebuah hasil riset yang menempatkan Indonesia sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Laju kerusakan hutan kita, menurut data itu, adalah 2 persen atau 1,87 juta hektar per tahun. Dengan kata lain, 51 km persegi hutan kita rusak setiap setiap hari atau atau 300 kali lapangan sepak bola setiap jamnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga lain (UNEP/GRID-Arendal) Mei lalu mempublikasikan perubahan wajah Pulau Kalimantan dalam enam dekade ke belakang dan satu setengah dekade ke depan. Pada tahun 1950, Kalimantan nyaris dipenuhi hijau hutan. Tahun 2005, Kalimantan sudah kehilangan sekitar 50% hijaunya. Pada 2020, diestimasikan bahwa hanya sedikit warna hijau (sekitar 25% saja) yang akan tertinggal di pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gambar satelit menggambarkan perubahan Jakarta secara dramatis. Tahun 2010 nanti, permukaan air laut diestimasikan sudah makin merambah masuk ke daratan. Pada 2020, sebagian Bandara Sukarno-Hatta sudah mulai tergenangi air laut. Bahkan pada 2050, permukaan air laut sudah mengancam kawasan Monumen Nasional di pusat ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut yang diakibatkannya adalah ancaman konkret yang tak bisa dihindari. Majalah Times (edisi 1 Oktober 2007) memperlihatkan bahwa lapisan es di Kutub Utara yang sudah menyusut lebih dari 20% dalam 25 tahun terakhir. Pencairan es ini akan terus berlangsung hingga tinggal sekitar 20% saja pada 2040. Pada saat itu, Indonesia diestimasikan akan akan kehilangan lebih dari 2.000 pulaunya yang tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta dan data bisa dibikin makin panjang. Tapi, celakanya, sungguh sulit membuat kita tersadar akan ancaman kerusakan lingkungan beserta akibatnya itu. Pun, sungguh sulit membangun motivasi untuk melawannya secara saksama. Umumnya kita memang punya kesadaran yang kasip – kesadaran yang secara terlambat dating di saat bencana sudah kita jelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, setelah berbagai pintu perubahan terbuka lebar sejak hampir sepuluh tahun lampau, kita tetap terlelap dan tak memanfaatkannya untuk menaikkan kepedulian dan aksi penyelamatan lingkungan. Akibatnya, sukses demokratisasi secara politik dan proseduran justru secara ironis berbanding terbalik dengan sukses pengelolaan lingkungan. Tetapi, tak ada kata kasip untuk memperbaiki langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertobatan Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kerusakan lingkungan bukanlah buatan alam atau kiriman Tuhan. Ia adalah buah tangan kita sendiri. Ia adalah konsekuensi logis dari kecenderungan kita untuk menempatkan produksi di atas koservasi, pertimbangan hari ini di atas kebutuhan masa depan, kepentingan semasa di atas kepentingan generasi mendatang, pencapaian material-segera di atas pemeliharaan kualitas hidup berdaya jangkau panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi dan pendekatan pembangunan yang kita kelola pun akhirnya gagal untuk memenuhi tiga kriteria mendasar dalam pengelolaan ekologi. Pertama, kita membiarkan pemanfaatan “sumber daya alam terbarukan” melebihi laju regerenasinya. Sekadar missal, hutan kita eksploitasi habis-habisan sambil mengabaikan rehabilitasi dan penghijauan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kita membiarkan laju penipisan “sumber daya tak terbarukan” sambil tak menimbang pengembangan sumber daya substitusinya. Dalam konteks inilah minyak bumi kita eksploitasi sambil alpa menyiapkan sumber energi alternatif jauh-jauh hari. Ketiga, kita membiarkan produksi limbah yang melebihi kemampuan asimilasi lingkungan. Sampah, misalnya, kita produksi tanpa menimbang kemampuan lingkungan menyerap dan mengasimilasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekeliruan mendasar dan struktural yang kita pelihara dalam rentang waktu yang lama, kerusakan lingkungan pun berjalan dalam deret ukur sementara kemampuan kita memperbaiki kerusakan itu berjalan dalam deret hitung. Dalam kerangka ini, ancaman terhadap masa depan demokrasi dan peluang sukses penyejahteraan sesungguhnya pertama-tama dan terutama tidak datang dari kekeliruan strategi demokratisasi dan penyejahteraan itu. Ancaman terpokok datang dari ssumber yang jauh lebih mendasar: kegagalan kita memelihara daya dukung ekologi bagi kelangsungan hidup umat manusia di atas permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menurut hemat saya, salah satu ukuran apakah kita seorang demokrat yang otentik-asli atau tidak adalah seberapa jauh kita punya sensitivitas lingkungan, seberapa jauh kita tergerak untuk melakukan perubahan radikal dalam pengelolaan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa setiap orang punya sumbangan atas kerusakan lingkungan sekaligus punya potensi untuk memberi kontribusi bagi perbaikannya. Benar bahwa pada level aksi sehari-hari, setiap orang bisa memberi sumbangan melalui aktivitas yang amat bersahaja (menghemat penggunaan listrik, kertas dan segala hal yang bahan bakunya dieksploitasi dari hutan, mengelola sampah rumah tangga dengan saksama, dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari itu semua, perubahan pada level kebijakan dan penguatan kelembagaan lingkungan hidup (di pusat dan di daerah) sangat diperlukan sebagai fondasi bagi perubahan yang lebih bersifat struktural dan berdimensi jangka panjang. Dalam kerangka itu, kesungguhan langkah serta mobilisasi sumber daya manusia dan anggaran mendesak diperlukan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa atau dengan menjadi penyelenggaran Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim (yang rencananya akan diadakan di Bali akhir tahun ini), pemerintah ditunggu untuk menegaskan bahwa mereka tak sekadar pidato dan menghimbau tapi benar-benar berbuat secara konkret. Sudah terlampau lama kita menunggu menguat dan berkembang biaknya kesadaran akan lingkungan hidup dari para penyelenggara negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, sebuah pertobatan nasionak dibutuhkan. Di dalamnya, setiap orang melakukan bagian pertobatannya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-4694576537166920747?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/4694576537166920747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/4694576537166920747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2008/04/lingkungan.html' title='Lingkungan'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-6916285724821479573</id><published>2008-02-01T06:43:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T06:47:44.901-08:00</updated><title type='text'>Banyak Blog....</title><content type='html'>Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pengunjung nan budiman...&lt;br /&gt;Mohon maaf bila anda banyak menemukan blog dengan tukang posting yang sama. Memang saya punya beberapa blog untuk menyimpan banyak coretan yang belum sempurna. Maklum saya harus banyak belajar lagi dalam mengolah kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita panjang kenapa saya banyak weblog. Akibat kealpaan psswd juga membuat saya harus dimigrasi ke new blogger. Karena itulah, banyak bloh saya yang terkadang amburadul. Mohon maaf atas 'ketidaknyamanan' ini,:-) dan terima kasih atas kunjungan anda semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mounawardi Ismail&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-6916285724821479573?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/6916285724821479573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/6916285724821479573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2008/02/banyak-blog.html' title='Banyak Blog....'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-116632994372926831</id><published>2006-12-07T20:29:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T04:04:52.023-08:00</updated><title type='text'>"Jeut Bacut-bacut"</title><content type='html'>Membludaknya orang asing ke Banda Aceh, membuat Usman tergelitik untuk sedikit-sedikit ngomong bahasa inggeris. Sebaliknya, bule pun juga ikut-ikut belajar bahasa Indonesia. Kalau tidak, bahasa tarzan yang berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pentinglah kalau sekarang ini bahasa inggeris, kan banyak bule. Tapi kalau saya sudah tua gak bisa belajar lagi, paling satu dua saja yang saya ngerti lihat dari film,” ujar Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang pengemudi becak motor. Sehari-hari mangkal di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dia punya pengalaman tak sedap, saat mengantar seorang bule yang ingin ke Kapal PLTD Apung di Punge Blang Cut. Kapal ini terdampar dibawa tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bingung, si bule pun binggung tanya berapa ongkosnya, akhirnya saya tanya kepada seorang anak mahasiswa yang sedang menunggu labi-labi, kalau sepuluh ribu bahasa inggerisnya bagaimana?, “ cerita Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sambil menunjukkan sepuluh jari, saya bilang, cuma ten tousen, sir,” kenang Usman sambil tertawa. Keterbukaan Aceh terhadap kehidupan global, memang membawa cerita tersendiri bagi warga seperti Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja termasuk, Rahmat yang biasa mangkal di Peunayong. Untuk mencari penumpang bule, dia kerap over acting. “&lt;em&gt;Wer du yu gon ngoen&lt;/em&gt;?,” sapanya sambil terkekeh, karena mencampur aduk bahasa. &lt;em&gt;Ngoen&lt;/em&gt; sendiri adalah kosa kata Aceh yang artinya teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi cerita seorang staf Departemen Luar Negeri dari Jakarta yang baru lima hari bertugas di Aceh memfasilitasi pemantau asing yang memonitor Pilkada. Ketika bertemua dengan seorang jurnalis asing dia bertanya, ”Sudah bisa bahasa Indonesia?.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Jeut bacut-bacut&lt;/em&gt;,” jawab si jurnalis sekenanya tanpa beban. Mendengar jawaban itu, giliran staf Deplu bingung. &lt;em&gt;Jeut bacut-bacut&lt;/em&gt; itu bahasa Aceh yang artinya sudah bisa sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Alah mak&lt;/em&gt;, ditanya bahasa Indonesia, malah dijawab bahasa Aceh,” bisiknya kepada &lt;em&gt;Ceureumén &lt;/em&gt;sembari terkekeh. Bisa bahasa Indonesia; &lt;em&gt;jeut bacut-bacut&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-116632994372926831?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/116632994372926831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=116632994372926831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/116632994372926831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/116632994372926831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/12/jeut-bacut-bacut.html' title='&quot;Jeut Bacut-bacut&quot;'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-116031834731065072</id><published>2006-10-08T07:34:00.000-07:00</published><updated>2006-10-08T07:54:12.616-07:00</updated><title type='text'>Sabang, Tanah Surga Yang Terlantar</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Pulau Weh sarat potensi. Sebagai sentra pariwisata, Sabang punya segalanya. Mulai dari danau, sumber air panas, hutang lindung, hingga mineral. Jangan cerita soal panorama bawah lautnya; nomor satu di dunia. Pantai berpasir putihnya juga. Sabang is very beautiful...!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAVID Sandler berulang kali bilang; &lt;em&gt;Sabang is very beautiful...!&lt;/em&gt; Pria asal Amerika Serikat ini tidak sesumbar atau sengaja memuji. Meresapi panorama Sabang membuatnya jatuh hati. Sandler mengaku sulit mengungkapkan dengan kata-kata. &lt;em&gt;Hmmm…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba matanya terpejam. &lt;em&gt;Hmmm&lt;/em&gt;…, dia kembali menarik nafas dalam-dalam. Saat ditemui &lt;em&gt;Waspada&lt;/em&gt; akhir pekan lalu, David sedang weekend dengan rekan-rekannya di Pantai Gapang. Gapang salah satu objek wisata di Kota Sabang, selain Pantai Iboih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berusia 29 tahun ini sudah berulangkali ke Sabang. Tak heran jika dia dapat kesempatan datang berkali-kali. Sebab, sudah setahun dia Aceh. Bahasa Indonesia tidak begitu lancar.&lt;br /&gt;Dulunya dia berkerja di sebuah &lt;em&gt;Non Government Organization &lt;/em&gt;(NGO). Satu dari ratusan NGO yang ikut membantu korban tsunami di Tanah Rencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dia menjadi dosen tamu di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Dia faham akan teori rakit roket, namun menitik berat pada ilmu mesin. Sandler juga mengajari bahasa Inggris dan mentranslet proposal-proposal ke dalam bahasa dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Serambi Mekah, David Sandler kini kian popular dengan panggilan “Daud”. “Saya senang juga dipanggil Daud,” katanya. Tak ada yang istimewa pada nama itu. Cuma beda Barat dan Timur saja. Seperti Abraham di Barat, disebut Ibrahim di Timur. Sama juga dengan Yusuf yang di Barat disapa Yosef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk liburan akhir pekannya, Daud alias David kerap mengarung Selat Malaka; berlabuh ke Gapang. Dengan belasan rekan-rekannya, Daud meninggalkan Banda Aceh yang penat dengan seabrek rutinitas. “Di sini alamnya indah, bikin pikiran tenang,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barbara juga senada. Wanita Prancis ini sama dengan Daud. Dalam perjalanan antara Pulau Rubiah dengan Teluk Sabang, dia mengekspresikan kekagumannya. “&lt;em&gt;Woooww…&lt;/em&gt;, air lautnya bening sekali,” kata gadis Paris yang bekerja pada sebuah NGO di Tijue, Pidie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan dia, Jhon juga tak jauh beda. Meneropong dasar bagai melihat lewat lapisan kaca, membuat pria berambut kribo pirang itu menyimpan pesona. Rasa lelah sebulan bekerja bisa hilang disapu riak Rubiah yang menderu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi Daud, dia bukan semata-mata mencari ketenangan. Kenyamanan menjadi tujuan selanjutnya. Kenyamanan itu yang kurang didapati pria berkaca mata ini. Bagaimana tidak, pasca tsunami Pantai Gapang belum berbenah. Ini bisa membuat turis tak betah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitasnya masih sisa-sisa tsunami. Itu kalau tak ingin disebut sisa “purbakala”. Bungalow ada tak terawat. Kursi rehat banyak yang meujungkat (jungkir). Mungkin ini bisa dimaklumi. Karena sudah tiga tahun –sejak konflik– dia tanpa penghuni. Kondisinya miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sarana, jangan harap turis kerasan. Daud menekan poin ini. “Itu harus mendapat perhatian. Perlu perbaikan fasilitas segera untuk menarik turis lebih banyak lagi,” urai laki-laki yang hobi main bola ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip Daud, banyak yang harus dibenahi untuk memanjakan turis. Jadi bule-bule itu bukan cuma berenang di laut. Mereka juga ingin berenang di kolam renang. Lengkap dengan air panasnya. Begitu pula toilet harus lebih baik dan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berambut ikal ini ingin bilang pariwisata harus dikelola dengan profesional. Syahrial, 35, tahun sepakat dengan Daud. Syahrial, orang lokal. Tinggalnya di Sindoro Kota Atas. Sebelum tsunami, dia punya geleri di situ. Usahanya menjaul souvenir serta pernak-pernik lainnya dan rental alat-alat selam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah 26 Desember 2004 itu melumat semuanya. Kini dia memulai dari nol lagi. Usahanya tetap menjual benda-benda seni seperti sebelum tsunami. “Pariwisata itu memang harus dikelola oleh orang yang berjiwa seni,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang, pariwisata itu hidup berdempetan dengan alam. Makanya segala fasilitas meniru nuansa natural. “Jangan kita bikin sarana seperti pemerintah bangun,” keluh dia. “Yang dicari turis kan suka nuansa alamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di objek wisata Gapang sejumlah kursi dibangun dari beton dilapisi keramik putih kehijau-hijauan ukuran 20 x 20 cm. Tapi, tak banyak lagi yang tersisa. Sebagian sudah digulung ombak. Katanya, turis juga jarang duduk di situ. “Banyak yang milih di kursi plastik,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrial berani menilai, yang dikembangkan pemerintah daerah bukan pariwisata. Akan tetapi semata-mata mencari proyek. “Makanya seperti ini,” kata pria berpredikat “Pemuda Pelopor Pariwisata” ini. Gelar itu dianugerahi Menteri Pemuda dan Olahraga pada 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisinya seakan menambah runyam. Lihat saja pantainya. Pasir putih berserak sampah. Mulai dari daun kering, hingga batang-batang kayu tua. Termasuk tangan jahil yang buang sampah sembarang. Ini merusak keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal sudah ada peringatan, jangan buang sampah sembarangan,” tambah Dodent. Tapi sial, “Tak ada yang peduli.” Dodent adalah figur paling tenar. Bukan cuma di Sabang, turis-turis asal Eropa paling akrab dengan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria ubanan ini nama aslinya Mahyuddin. Dia pelaku wisata. “Jangan tanya saya kenapa lebih popular nama Dodent,” cetusnya dengan mimik tak serius. Dia manusia pertama yang mengelola usaha rental alat-alat diving (menyelam) di Pantai Iboih. “Turis-turis asing yang paling senang diving.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Cuma dilarang buang sampah. Warning lain pun dipasang, yakni soal terumbu karang. Bicara biota laut ini, Dodent selalu cemas. Sebab banyak tangan usil yang berotak perusak. “Dibandingkan belasan tahun lalu, kini terumbu karang tinggal 10 persen lagi,” sebut dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisanya ke mana? “Dibom, dicuri tangan-tangan jahil. Menunggu tumbuh lagi butuh waktu lama. Satu tahun saja bisa tumbuh hanya lima centimeter saja,” ujar pria asal Garot, Pidie ini sedih. “Makanya kami tulis jangan injak terumbu karang beracun.”&lt;br /&gt;Begitulah. Sentra wisata yang punya nilai jual tinggi dibiarkan terbengkalai. Meski fasilitas masih seadanya, Daud tetap bilang; &lt;em&gt;Sabang is very beautiful...!&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-116031834731065072?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/116031834731065072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=116031834731065072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/116031834731065072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/116031834731065072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/10/sabang-tanah-surga-yang-terlantar.html' title='Sabang, Tanah Surga Yang Terlantar'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-116031767857505122</id><published>2006-10-08T07:25:00.000-07:00</published><updated>2006-10-08T07:27:58.580-07:00</updated><title type='text'>Sejenak Di Makam Qadhi Malikul Adil</title><content type='html'>Bagi Rakyat Aceh, Syiah Kuala menempati “tahta” tersendiri dalam khasanah sejarahnya. Syiah Kuala yang bernama asli Syeikh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Fanshury As Singkily, adalah satu di antara ulama yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ulama lainnya adalah Hamzah Fanshuri yang dikenal penganut paham Wahdatul Wujud dan Syekh Nuruddin Ar- Raniry, pengarang kitab Bustanus Salatin (Taman Raja-raja) yang juga sekaligus mengusung faham Wahdatul Syuhud, yang jadi lawan faham Wahdatul Wujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran Syeikh Abdurrauf alias Syiah Kuala tercermin dalam pepatah Aceh, Adat bak Po Teumeureuhôm, Hukôm Bak Syiah Kuala, Kanun Bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana. Pepatah itu mengandung arti; Persoalan adat diatur oleh raja yang bergelar Po Teumeureuhôm, Perkara hukum diputuskan Abdul Rauf yang bergelar Syiah Kuala. Hal-hal yang berkenaan dengan qanun ada pada Puteri Pahang/Kamaliah, sedangkan reusam pada Laksamana (Bentara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai literatur sebutkan, nama Syiah Kuala bukan hanya kesohor dalam lingkup nusantara dan Aceh semata-mata. Memang namanya di Aceh abadi sepanjang masa. Dalam skop Aceh Abdurraug dianggap sebagai pelita yang menyalakan syiar Islam pada abad ke 17. Ulama yang lain ialah Hamzah Fanshury, Nuruddin Ar-Raniry dan Syamsuddin As Sumathrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Buya Hamka didalam makalahnnya berjudul Aceh Serambi Mekah yang “disisip” dalam buku Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia - Prof. A Hasjmy, Al Maarif, 1993) menyebut, “Apabila kita sebut nama dua orang ulama Aceh akan samalah arti seribu atau dua ribu orang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu dirujuk kepada salah seorang ulama yakni Syeikh Kuala. Artinya kehebatan dan kealiman Syeikh Kuala akan setara dengan kealiman seribu hingga dua ribu manusia lain. Dalam bahasa Arab ditamsilkan dengan kalimat "Rajulu yusaawi uluufa rijaali" (Seorang laki-laki yang sama nilainya dengan beribu-ribu laki-laki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau adalah Qadhi Malikul Adil, pada Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sulthanah Safiatuddin Meukuta Alam,” ujar salah seorang Ahli Waris Makam Syiah Kuala, Machmud Ika, kepada Waspada belum lama  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Machmud mengaku keturunan kedelapan dari Syiah Kuala. Makanya tak heran, bila dia faham betul dengan leluhurnya. Karena itu kehebatan Syiah Kuala memang tidak boleh dinafikan di Aceh. “Beliau terkenal ke seantero Indonesia, kepulauan Melayu dan bahkan dunia,” sambung dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disebutkan tadi, nama asli Syiah Kuala adalah Abdurrauf. Nama lengkapnya Syeikh Amiruddin Syeikh Abdurrauf Al- Fanshury As-Singkly. Dia lahir pada 1001 H (1593 M) di Singkil sebuah perkampungan di pesisir pantai di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya bernama Ali Al- Fanshury yang tak lain pengasas Sekolah Agama Dayah Simpang Kanan dan seorang ulama terkenal di daerahnya. Nama Fanshury diakhir namanya adalah dilakabkan dari salah seorang guru idolanya yakni Hamzah Fanshury.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendapat pendidikan awal dari ayahnya sendiri di Dayan Simpang Kanan, di kawasan pedalaman Singkil. Setelah itu ke sekolah tinggi di Barus (Dayan Tengku Chik) yang dipimpin oleh Hamzah Fanshury. Di sekolah ini beliau belajar ilmu agama, sejarah, mantik, falsafah, sastra Arab/Melayu dan juga bahasa Parsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menamatkan “kuliah” di sekolah itu, lalu meneruskan pengajian ke sekolah Samudra Pase yang dipimpin oleh Syeikh Syamsuddin As Samathrani, salah seorang ulama yang juga merupakan pengikut kepada Hamzah Fanshury yang beraliran atau faham “wahdatul wujud”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Syamsuddin diangkat menjadi Qadhi Malikul Adil (Kadi Besar) pada zaman Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah, Abdurrauf bertolak ke Mekah dan merantau ke beberapa negara Asia Barat lain untuk mendalami ilmu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa di Mekah beliau tinggal di Qusyasy dan belajar dengan Sheikh Sharifuddin Ahmad Al Dajaany Al Qusyasy (1583 - 1660) bertempat di rumah Aceh. Beliau dibantu oleh muridnya Sheikh Ibrahim Al-Kauraany (1616-1689). Di Mekah, dia sempat belajar dengan Sheikh Nuruddin Ar-Raniry semasa ulama terkenal dengan faham “wahdatul syuhud” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa di Arab, Syiah Kuala bergaul dengan banyak ulama terkenal yang berasal dari Indonesia seperti Sheikh Nawawi Bantan, Sheikh Abdul Samad Pettani dan lain-lain. “Beliau 19 tahun belajar di Mekah dengan 27 ulama besar di sana,” sebut keturunannya, Machmud Ika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi musibah tsunami 26 Desember 2004, lokasi kuburan bekas ketua Mahkamah Agung Aceh itu menjadi sorotan berbagai kalangan. Berbagai elemen berbondong-bondong berkunjung ke sana. "Para tamu asing itu menyatakan, rasanya belum 'afdhal' datang ke  Aceh bila belum berziarah ke Makam Syiah Kuala," ujar Machmud Ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pemerintah belum memperbaiki makam Syech Abdul Rauf Al Singkili "Pemerintah pusat dan Pemda Aceh pernah berjanji akan membangun kembali kawasan Makam  Syiah Kuala, namun sampai saat ini belum juga terealisasi," sambung Machmud, Ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Syech Abdul Rauf yang wafat pada abad 17 dalam usia 105 tahun itu diabadikan di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di daerah Tanah Rencong yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Kini Unsyiah sudah berusia 45 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Machmud merasa kecewa dengan rektorat Universitas Syiah Kuala, karena tak punya perhatian apapun dari lembaga itu. "Jangankan mendapat perhatian, para dosen dan mahasiswa Unsyiah tidak pernah datang ke Makam Syiah Kuala, khususnya pasca tsunami," papar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Machmud, nama besar Syiah Kuala sampai ke negara Turki dan Timur Tengah, Malaysia, sehingga pasca tsunami banyak relawan negara asing menyempatkan diri berziarah ke makam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Machmud sangat menyayangkan, di tengah banyaknya arus penziarah, kompleks makam Syiah Kuala yang luasnya 2,6 hektare hanya terdapat sebuah mushalla dan fasilitas MCK seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan makam dibangun sederhana oleh ahli waris dengan rangka kayu dan atap seng. Di samping makam terdapat bangun berukuran 5x2 meter untuk peziarah membacakan doa dan shalat sunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ahli waris makam, ketika Azwar Abubakar menjabat Pelaksana tugas Gubernur Aceh , dia pernah menyatakan bahwa Pemda telah menyediakan dana Rp1,5 miliar untuk merehab makam tersebut dan bangunan lainnya.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Departemen Sosial juga sudah menyediakan dana Rp1,4 miliar untuk membangun cungkop (rumah) Makam Syiah Kuala, dan Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias juga menyediakan dana Rp818 juta untuk membuat pagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, janji-janji itu hingga saat ini belum juga terealisasi. Harapan kita agar kompleks makam ini segera dibangun, karena ini peninggalan sejarah," ungkap Machmud prihatin. Tapi sayang tak ada yang menangkap keprihatinan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-116031767857505122?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/116031767857505122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=116031767857505122' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/116031767857505122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/116031767857505122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/10/sejenak-di-makam-qadhi-malikul-adil.html' title='Sejenak Di Makam Qadhi Malikul Adil'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-115788933162283831</id><published>2006-09-10T04:51:00.000-07:00</published><updated>2006-09-17T09:47:15.776-07:00</updated><title type='text'>Karina, Banyak Jalan Menuju Roma</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;JIKA Allah ingin menunjukkan rahmat-Nya buat seorang hamba, akan banyak corak dan langgamnya. Bisa lewat sepotong kaos bola atau selembar lukisan saja. Reka Karina, bocah korban tsunami yang sejak kecil "bermimpi" jadi dokter meresapi rahmat itu. Siapa nyana, bila gambar coretannya setahun silam membawa berkah kemudian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selasa sore diawal Agustus di Lambaro Skep, Karina kembali membolak-balik dokumen simpanannya. Sebuah bundel biru tua berisi beberapa lembar penghargaan, plus buku "antologi" lukisan. Salah satu isi buku, sebuah coretan berwarna biru berupa dua lintasan gelombang. Karina menatap lagi coretan pembawa berkah ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Saya mau lukis tiga buah gelombang, tapi ngak muat kertasnya," ujar Karina seraya terkekeh. Katanya, dia cuma melukis saja pada saat ikut lomba melukis disuatu hari pada April 2005. Makanya dia bilang, "Saya cuma ingat tsunami, saya lukis aja gelombang tsunami." Inilah lukisan tsunami versi Karina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lukisan "dua gelombang" itulah yang kemudian menghayutkan Dr Elio Matacana, Ketua Yayasan Ponte diArcimede (PdA) di Messina, Italia. Seakan ikut merasa ekses dari terpaan gelombang dalam lukisan Karina, Matacana lantas mengucurkan kocek yayasannya. Karina pun dapat beasiswa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerita beasiswa itu tidak muncul serta merta. Ini bermula ketika Matacana kepicut goresan Karina yang dipamerkan bersama 44 buah lukisan anak-anak Aceh korban tsunami di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma. Waktunya 14 Februari lalu. Saat itu, KBRI menggelar acara bertajuk "Memperingati Setahun Tsunami". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini cukup menyedot perhatian pengunjung. Salah satunya Elio Matacana ketua PdA. Dari 44 lukisan yang ada, Matacana jatuh hati pada "dua gelombang" polesan Karina. Lantas dia memutuskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada lukisan "dua gelombang". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu, Karina pun disodor beasiswa sebesar Euro 10.000. Dana ini jika rupiahkan dengan kurs sekira Rp12.000, maka ada Rp120 juta isi tabungannya. Pria Roma itu berharap dengan pemberian beasiswa itu, Karina dapat menyelesaikan pendidikan yang tinggi serta mengembangkan bakatnya dalam seni setinggi mungkin. Semua bagi masa depannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya, Duta Besar Republik Indonesia di Roma Sutanto Sutoyo meminta BRR untuk membukakan deposito berjangka atas nama Karina dari beasiswa yang diberikan yayasan tersebut. "Tujuannya agar bunganya dapat digunakan untuk membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi yang dia cita-citakan," begitu pesan Dr Elio Matacana yang dikutip staf kedubes RI, Minister Counselor Artanto S. Wargadinata. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;"Dokter" Cilik Karina &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasanya tak sia-sia Elio mengalirkan kocek yayasannya buat gadis yang punya banyak nama kecil ini. Pasalnya, Karin, Aina atau Nana ---begitu sapaan dalam keluarga--- sejak kecil sudah mematok cita-cita tinggi; dokter. Sebuah asa yang amat mulia. "Ina tetap ngotot ingin jadi dokter," kata Ny Yulia Rosalina, ibunda Karina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karina punya kisah panjang. Cita-citanya tak bisa ditawar. "Apapun ceritanya dia tetap mau jadi dokter, bapak tawarin kuliah di fakultas hukum saja tak mau," kata Abdul Hamid Bujai, ayahnya. "Saya sempat berpikir tentang biaya yang mahal kalau jadi dokter, harga buku saja sudah berapa," timpal sang ibu Yulia Rosalina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akibatnya, Karina merasa down semangatnya dan selalu termenung. Namun dengan sikap keibuannya, Yulia membimbing gadis manis itu. "Saya selalu bilang agar dia bersabar. Allah sayang dengan orang-orang yang sabar. Mungkin suatu saat Allah akan menunjukkan jalannya." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nasihat itu amat meresapi sanubari si alis tebal ini. Dia pun sabar, dan Karina pun menjalani hari-harinya sebagai anak yang mandiri serta inovatif dan suka membantu orang tuanya. "Diam Karin adalah tidur, kalau udah tidur baru nggak ada yang dia kerjakan lagi," sambung ayahnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitu juga dengan hobi melukis. Waktu senggang dia kerap melukis apa saja. Coretan mencoret di kertas sudah dimulai sejak sekolah dasar sampai sekarang. Antara cita-cita menjadi dokter dan hobi melukis memang bak laut dan darat. Tapi Karina tak peduli. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitu pun, dia sama sekali tak pernah melukis sosok seorang pasien yang sedang diobati. Atau seorang pasien yang sedang diinfus. Barangkali dia trauma, sehingga jarang kepikir ke sana. Sebab, menurut ibunya, ketika masih bayi, calon dokter itu kerap diserang diare. Tak pernah reda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bayi yang bernama Chik Wita ini kerap keluar masuk rumah sakit. "Bentar-bentar ke rumah sakit," keluh ibunya. Kedua orang tuanya nyaris putus asa. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengganti nama bayi mungil itu. Lantas dipilihlah nama Reka Karina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ajaib. Diare yang akrab dengan adik dari Stranye Apramilia hilang bak ditelan bumi. "Ada kepercayaan seperti itu dalam masyarakat kita. &lt;em&gt;Alhamdullillah&lt;/em&gt;, setelah ganti nama dia tidak diare lagi," papar Hamid, bekas Kepala Desa Lambaro Skep ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini Karina beranjak remaja. September nanti umurnya 11 tahun. Saat ini dia tercatat sebagai siswi kelas 1.1 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lampriek, Banda Aceh. "Dia salah satu siswi kelas inti di sini," kata Salma Ismail, S.Pd, wakil kepala bidang kurikulum sekolah itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Praktis orang tuanya sangat bangga dengan bekas siswi MIN Banda Aceh ini. Bukan itu saja, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hamid juga merasa surprise dengan beasiswa yang diperoleh Aina. "Dana itu akan dipakai semata-mata untuk pendidikan dia. Terima kasih banyak dari kami sekeluarga," imbuh Abdul Hamid. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keduanya bertekad untuk mengelola dengan baik depositnya guna kepentingan sekolah Karina. Tentu saja untuk biaya-biaya sekolahnya hingga perguruan tinggi nanti. Otomatis dia memilih Fakultas Kedokteran. "Kan untuk mencapai cita-cita jadi dokter?," sambung Aina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitulah rahmat yang diterima anak ketiga pasangan A Hamid Bujai dan Yuli Rosalina ini. Pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", kini benar-benar menyelingkupi hati Katina. Bagaiman tidak, dengan beasiswa dari Roma dia menggapai cita-citanya. &lt;em&gt;Selamat&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-115788933162283831?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/115788933162283831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=115788933162283831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/115788933162283831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/115788933162283831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/09/karina-banyak-jalan-menuju-roma.html' title='Karina, Banyak Jalan Menuju Roma'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-115849367048903270</id><published>2006-08-30T16:39:00.000-07:00</published><updated>2006-09-17T09:43:31.473-07:00</updated><title type='text'>Haba Peukateun</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Saleum hai apa lon buka kalam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bak teungoh malam ulon keureuja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lon peu-ek saleum dum seukalian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Handai ngon tulan, gampong ngon banda&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Deungoe lon suson na saboh kisah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masa bang Dolah geumat kuasa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Geupimpin nanggroe ngoen apoh-apah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sampe ka reubah dalam penjara&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Laen lom dinoe adoe mutuah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Na laen kisah ka diputa-puta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sideh di Banda tempat mutuah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dikorup leupah peng rakyat jelata&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Na leumbaga meugaji mewah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Die peudong bagah bantu beusigra&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Leupah that seudeh watee kaleupah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rakyat lam sosah mantong meurana&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yue peuget rumoh beumeurie mewah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi dipeugah ka kureueng dana&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dipeuget buku cetak bu bagah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rupa jih payah bak bagi jeumba&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* * * &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-115849367048903270?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/115849367048903270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=115849367048903270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/115849367048903270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/115849367048903270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/08/haba-peukateun.html' title='Haba Peukateun'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-115182800357287473</id><published>2006-07-02T01:12:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T01:59:26.330-07:00</updated><title type='text'>All European Semifinal</title><content type='html'>BENUA Eropa betul-betul menunjukkan tajinya dalam Piala Dunia ke-18 kali ini. Bagaimana tidak, dari empat negara yang melaju ke semifinal tak ada satu pun wakil dari benua lain. Tapi benua Amerika masih pegang rekor juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menghapus catatan dengan sepakbola Asia. Namun tidak dengan Amerika Latin. Biasanya latin senantiasa berjaya di World Cup, terutama lewat Brazil dan Argentina. Tapi kali ini mereka harus angkat koper lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benua Amerika mungkin boleh saja mengklaim dirinya gudang pemain hebat. Memang, di sana ada pencetak gol terbanyak sepanjang Piala Dunia Ronaldo. Pemain Terbaik Dunia 2005, Ronaldinho. Tapi untuk kali ini benua biru benar-benar menistakan dan mendepak tim Amerika dari tanah air mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik kabar sejarah dalam 20 tahun terakhir, Eropa kembali mengulang memori Piala Dunia 1982 di Spanyol. Setelah di negeri Matador, untuk pertama kalinya, seluruh semifinalis Piala Dunia berasal dari Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini perhelatan akbar Piala Dunia 2006 sudah menkerucut. Empat negara segara bertemu di semifinal, di mana Der Panzer Jerman akan menyambut tantangan Azzurri Italia. Runner- up Euro 2004, Selecao Portugal bersabung dengan Les Blues Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik empat semifinalis kali ini, hanya tuan rumah yang sejak awal bergulir Piala Duniaa disebut-sebut sebagai favorit. Jerman tidak sendiri ada Argentina, Inggris, dan tentu saja juara bertahan Brazil. Sayang, semuanya terdepak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portugal yang dijuluki Samba Eropa tampil sebagai kuda hitam. Setelah menang adu penalti dengan Inggris, kans mereka untuk berlaga di final terbuka lebar. Begitu pula dengan Perancis yang menjadi lawan mereka di Muenchen, 7 Juli nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim “Ayam Jantan” tua Perancis, tampil tertatih dibabak penyisihan. Namun langsung berkokok begitu berlaga diputaran kedua. Klimaksnya adalah saat mematuk talenta-talenta Samba 1-0. Memori 1998 kembali di benak Zinedine Zidane, juara dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan itu kini kembali dipupuk playmaker Real Madrid itu. Tentu dia berharap bisa berlaga di putaran final. Syaratnya, Thierry Henry Cs wajib menuntaskan aksi fenomenal anak asuh Luiz Felipe Scolari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun yang menang dalam laga pamungkas di Kota Berlin 10 Juli itu, tak akan berpengaruh pada rivalitas Eropa dan Amerika. Sebab jawara sudah pasti ditangan benua Eropa. Pun begitu, gengsi benua Amerika hingga kini masih dijaga tim Samba Brazil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan Eropa lewat altar yang bernama Jerman terasa tidak begitu fantastis. Bagaimana tidak, nyaris hampir semua pemain tim kontestan yang berlaga di Jerman merumput di liga-liga elite Eropa seperti Lega Calcio, La Liga serta Liga Primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini menjadi pembuktian bahwa kompetisi Eropa lebih maju dan menjanjikan. Sehigga tak heran bila banyak seniman lapangan hijau dataran Amerika bahkan Asia mencari rezeki ke Perancis, Jerman, Italia, Spanyol dan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati Eropa menempatkan empat negara di semifinal, akan tetapi Brasil mewakili benua Amerika, yang masih memegang rekor sebagai pemegang dengan lima gelar juara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-115182800357287473?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/115182800357287473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=115182800357287473' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/115182800357287473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/115182800357287473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/07/all-european-semifinal.html' title='All European Semifinal'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-114447121609939233</id><published>2006-04-07T21:37:00.000-07:00</published><updated>2006-04-07T21:40:16.113-07:00</updated><title type='text'>Ketika Presiden Bank Dunia Bersua Para Janda</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIANG di Desa Tampoek Baro, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar sedikit menyengat. Tapi itu tak mengurangi minat ratusan warga yang didominasni kaum hawa. Mereka mengerumuni meunasah setempat. Tak ada duek pakat gampong atau kenduri? Tapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sedang menunggu presiden?," tukas Halimah seakan-akan menjawab pertanyaan Waspada, Kamis (6/4). Pun demikian, dia mengaku belum tahu presiden mana yang mau keloyoran ke gampongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena yang berkunjung seorang presiden, makanya mereka ingin melihat dari dekat. Maka berkumpullah banyak warga. "Katanya presiden ini bukan kayak presiden kita," katanya dalam bahasa Aceh. Ternyata Halimah sudah bisa memilah dan membeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas siapa presiden itu? Tentu saja Halimah tidak ragu lagi menjawab. Sebab belakangan cukup banyak orang yang berstatus seperti itu berkunjung ke Aceh. Terutama dalam tiga hari terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, sebut saja Sepp Bletter, Presiden FIFA yang pertama kali berkunjung ke Aceh. Lalu Presiden World Vision, Dean Hirsch. Dan yang ditunggu warga Sibreh itu tak lain Presiden World Bank, Paul Wolfowitz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, mayoritas perempuan itu dapat kesempatan bertatap muka langsung dengan Paul Wolfowitz. Mereka adalah bagian dari program pengembangan perempuan kepala keluarga (Pekka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekka itu tak lain program pemberdayaan masyarakat yang didanai Bank Dunia. Presiden ke-10 Bank Dunia itu meninjau dan mendengar langsung manfaat program yang dibiayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan itu umumnya diikuti para janda. Mereka sudah mencicipi manfaat menjadi anggota Pekka. "Kami sekarang sudah bisa mandiri meski kecil-kecilan. Tidak lagi menggantungkan hidup pada orang lain," kata Junidar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita asal Desa Tielip Teungoh ini mengaku sebelum masuk Pekka merasa minder, tidak ada tempat berbagi keluh kesah. "Kini kami jadi perempuan perkasa, mudah-mudahan bisa berkembang lagi," ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada lima wanita yang curhat dengan profesor bidang hubungan internasional itu. Selain Junidar, ada Nuraini, Khairani, Zaidawati dan Rukiyah. Bukan saja berkata dengan pengakuan polos, mereka juga jujur mengutarakan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berterima kasih sekali dengan program ini. Karena sudah cukup membantu keluarga saya," kata Rukiah, janda beranak tiga asal Baet Lampu'ut kecamatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mengharap Pak Presiden bisa berkunjung lagi ke sini. Semoga ini bukan kunjungan pertama sekaligus yang terakhir," timpal Rukiyah yang diamini rekannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi "keluh-kesah" itu, mantan Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia ini terlihat salut dengan semangat hidup perempuan yang umumnya janda sekaligus kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengaku bisa memahami ketika seorang ibu harus menjadi tulang punggung keluarga. Oleh karena itu, Bank Dunia, katanya merasa sangat bangga bisa membantu kaum ibu-ibu itu. Acara itu sebagai dari acara yang diikuti Paul selama kunjungan kerja tiga hari di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Program Pekka ini adalah program favorit World Bank," kata Paul Wolfowitz yang diterjemahi Nani Zulminarni, koordinator program yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kunjungan itu, Paul juga "belanja" barang-barang kerajinan produksi rumah tangga. Selain rencong Aceh yang dibelinya, dia juga dua membeli tampi (jeu-ee), kerupuk muling, meuseukat, keripik pisang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis larisnya dagangan itu, membuat mereka mengumbar senyum. "Mereka ini bagian dari 332 kepala keluarga yang menjadi anggota Pekka," kata Iskandar, seorang konsultan program.&lt;br /&gt;Kata dia, ada 70 kepala keluarga yang datang bertemu Presiden Bank Dunia. Untuk Kecamatan Suka Makmur ada 14 kelompok yang tersebar dalam 15 desa. Pekka juga terdapat di kabupaten dan kota yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-114447121609939233?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/114447121609939233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=114447121609939233' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114447121609939233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114447121609939233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/04/ketika-presiden-bank-dunia-bersua-para.html' title='Ketika Presiden Bank Dunia Bersua Para Janda'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-114443285541030716</id><published>2006-04-07T10:53:00.000-07:00</published><updated>2006-04-07T11:00:55.430-07:00</updated><title type='text'>Zaskia: Panggil Saja Aku Sarah!</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNGGUH mulia hati wanita berkulit putih ini. Perhatiannya untuk kaum jelata cukup luar biasa. Atas dasar itulah, dia rela meninggalkan hutan beton di Jakarta bertandang ke hutan Aceh di Pulau Sumatra. Tujuannya menjenguk anak-anak korban tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Zaskia A. Mecca, tokoh Sarah dalam sinetron "Kiamat Sudah Dekat" yang ditayangkan stasiun televisi swasta nasional. "Aku sih seneng banget, kalo lihat mereka," ucapnya dalam logat Jakarta ketika ngobrol dengan &lt;em&gt;Waspada&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya tak heran, bila kesehariannya juga tak jauh beda dengan peran di dunia akting. Akrab dengan anak-anak, suka membantu mereka yang nasibnya kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa (4/4) siang lalu, cuaca Desa Geunteut, Kec Lhoong, Aceh Besar, memang cukup terik. Namun itu tidak membuat dara cantik ini kegerahan, kendati tubuhnya dibalut abaya merah plus jilbab coklat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Zaskia plus dua bintang sinetron lainnya, David Khalid dan Muhammad Haikal yang tak lain adiknya, hadir ke Lhoong menghadiri peresmian SMP Lhoong yang dibangun Pundi Amal SCTV. Selain itu mereka juga menyerahkan bantuan kepada siswa-siswi sekolah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah untuk kedua kali Zaskia menginjak kaki di Tanoh Aceh. Sebelumnya, sekira tiga bulan lalu dia juga pernah bertandang ke Banda Aceh, Sigli dan sekitarnya. Tentu saja, masih dalam kegiatan amal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara David, menjadi lawatan untuk keempat kali.Sedang Haikal yang pernah membintangi sinetron "Bidadari" ini, baru pertama kami menginjak tanah rencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Zaskia, pada lawatannya yang kedua, dia merasa cukup banyak mengutip kesan. Pasalnya dia harus menjelajah pesisir barat sejuah 60 km dari Banda Aceh, plus masuk ke pelosok desa yang dulu cukup rawan di masa konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, berangkat ke Aceh juga bukan tanpa konsekuensi. Gadis kelahiran 8 September 1987 di Jakarta ini harus absen ikut ujian tengah semester di kampusnya. Zaskia kuliah di jurusan Psikologi,Paramadina Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena ingin melihat anak-anak korban tsunami, makanya aku putuskan tunda ujian. Tapi aku sudah minta izin sama dosen," tutur anak 2 dari tujuh bersaudara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini, Zaskia mengikutsertakan adiknya Muhammad Haikal. Haikal, sambung Zaskia, adiknya yang kedua, atau anak keempat dalam keluarganya. Saat ini Haikal sekolah di SMP Al Azhar Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tak ada kaitannya dengan sinetron itu. Tapi ketika ditawari SCTV ke Aceh, aku kepengen banget. Aku pengen lihat dari dekat anak-anak di sini," tutur mantan model majalah remaja ini.&lt;br /&gt;Saat bertemu anak-anak Lhoong, Zaskia mengaku bisa merasa semangat belajar mereka cukup luar biasa. Katanya, meski sudah mendapat musibah yang amat dahsyat, tapi spirit hidupnya patut ditiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita perlu mendukung terus mereka. Aku seneng banget denger cerita-cerita mereka tadi," ujar Zaskia, juara 2 pada pemilihan model majalah remaja Kawanku pada 2001 lalu.  Zaskia melihat, musibah tsunami adalah ujian paling berat bagi warga Serambi Makkah, namun itu menjadi ladang amal bagi warga di luar Aceh, termasuk dirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas landasan itu, dia ingin mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan sosial. "Aku ingin hidup aku bisa bermanfaat bagi orang lain," tutur gadis yang kelak bercita-cita ingin berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas main sinetron? "Itu bukan cita-citaku," cetus gadis yang membisu saat ditanya hubungannya dengan Syahrul Gunawan ini. "Aku tak mau jawab kalau ditanya masalah itu."&lt;br /&gt;Pun demikian, nona semampai yang pertama uji akting di sinetron "Cinta SMU" serta "Senandung Masa Puber" ini tetap konsen diseni peran. Sama konsennya dengan busana muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku merasa enjoy. Aku tidak takut kehilangan peran. Allah sudah mengatur rezeki kita. Dengan memakai jilbab tidak mengurangi rezeki aku," Zaskia yang mulai berjilbab pada 2005 itu berargumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan, kata dia, tiga bulan lagi sinetron "Kiamat Sudah Dekat 2" akan ditanyangkan. Wanita yang senang dipanggil Sarah ini, juga akan membintangi sinetron favorit Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi, perannya sedikit berkurang," kata Sarah, eh Zaskia A. Mecca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-114443285541030716?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/114443285541030716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=114443285541030716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114443285541030716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114443285541030716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/04/zaskia-panggil-saja-aku-sarah.html' title='Zaskia: Panggil Saja Aku Sarah!'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-114431915782879374</id><published>2006-04-06T03:21:00.000-07:00</published><updated>2006-04-06T03:31:08.740-07:00</updated><title type='text'>"Sherina" Pun Manggung Di Kampung Mulia</title><content type='html'>&lt;p&gt;Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;TEMBANG Indonesia Menangis mengalun sendu di halaman sebuah gedung sekolah baru di Kampung Mulia. Pelantunnya tak lain Sherina. Penonton pun sembab berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan marahkah KAU padaku, sungguh deras curah murka-MU, Kau hempaskan jari-MU di ujung Banda, tercenganglah seluruh dunia...," &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nyanyian itu memang amat manis divokali Sherina. Semua hadirin yang hadir tak kuasa menahan haru. Mata pun sembab. Apalagi saat Sherina menutup not terakhir lagunya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari itu, Selasa (4/4) Sherina menghibur ratusan murid dan undangan dari dalam dan luar negeri di Kampung Mulia, Kec Kuta Alam, Banda Aceh. Tentu saja dalam hajatan peresmian SD 20 dan SD 21. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi jangan terkecoh dulu. Kali ini "Sherina" yang manggung di Kampung Mulia itu bukan yang asli. Pun begitu, "Sherina" Aceh ini, suaranya tak kalah merdu dengan yang orisinil. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dialah Rahmi Amalia, 9 tahun. Siswa kelas 4 SD 20 Kampung Mulia yang memimpin belasan rekannya yang lain menyanyikan lagu Indonesia Menangis. Semua hadirin berdecak kagum. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan memang, jika lagu itu dibawakan amat persis seperti aslinya. Kalau pun beda, paling-paling beda tipis, setipis kulit bawang. Vokalnya juga jernih. Mimiknya, juga cukup serius bak biduan profesional. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasalnya, Rahmi ini adalah jawaranya PMI Idol yang digelar Palang Merah Indonesia di Taman Ratu Safiatuddin beberapa bulan silam. "Suara kamu bagus ya," puji Dean Hirsch. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Presiden World Vision International itu memuji vokal anak pasangan Mahmud Ali dan Nelfi ini di sela-sela makan siang. Dean Hirsch datang ke Kampung Mulia guna menghadiri hajatan organisasinya. World Vision yang membangun sekolah Sherina, eh Rahmi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siang itu Rahmi tidak sendiri. Dua temannya, Fira Fudhla, 11, dan Dudi Afrialnaldi, 11, juga diajak ngobrol Hirsch. Mereka adalah anak-anak korban tsunami yang menghempas Banda Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004 lalu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan dibantu transleternya, Presiden World Vision itu mengaku kagum dengan anak-anak Aceh. Makanya tak heran jika Hirsch pun berpesan, "Belajarlah dengan giat, kalian adalah masa depan Aceh dan dunia." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang beda di antara ketiganya. Bila Rahmi unggul diolah vokal, maka Fira Fudha tampil memukau berorasi. "Setelah peristiwa itu, kami kucar kacir bagaikan ayam kehilangan induknya," tukas murid kelas 6 ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fira mengatakan, masih akibat musibah itu, mereka terpaksa pindah sekolah atau menumpang belajar di luar Aceh bahkan ada yang belajar di bawah tenda. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Semua kami lakukan agar tidak kehilangan pengetahuan dan masa depan, walau kami hidup dalam keadaan apapun," tutur bungsu dari dua bersaudara ini. Mendengar itu, Dean Hirsch pun mangut-mangut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Dua bulan setelah tsunami, barulah kami tahu di mana posisi sekolah sementara kami, yakni SD Negeri 28 Kp Kramat. Tak lama kemudian kami pindah lagi ke SD Negeri 4 Kuta Alam, belajar sore hari. Meski rasa kantuk yang tak tertahankan, Alhamdulillah kami dapat belajar dengan tenang," sambung calon dokter ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian, cerita dia dalam pidatonya, atas bantuan World Vision yang menyewa pertokoan tak jauh dari sekolah asal, mereka dapat belajar dengan tenag. Kendati tetap ada rasa takut yang menghantui, karena belajar di toko berlantai tiga. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fira juga berterima kasih kepada lembaga donor yang sudah membangun sekolahnya serta memberi berbagai fasilitas belajar berupa buku, sepatu, baju, jilbab dan lain-lain. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Terima kasih kepada Presiden World Vision atas bantuannya, semoga kami tak pernah melupakan ini sepanjang hidup kami sebagai generasi penerus bangsa kelak. I hope you successfull for yours job next times," tukas Fira yang disambut tepuk tangan meriah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara Dudi Afrialnaldi lain lagi. Bak WS Rendra, bocah hitam manis, kelas 6 ini pun membaca puisi. "Hanya Kami yang Tersisa," ujar Dudi memulai membaca judul puisi karya salah seorang gurunya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menarik lagi, isi puisi Dudi ditulis dalam bahasa Inggeris. Dia menceritakan kehidupannya yang hidup sebatang kara. Usai membaca puisi, Dudi disambut peluk haru para guru sekolahnya.&lt;br /&gt;Ternyata Dudi memang hidup sendiri. "Sekarang saya tinggal di rumah bibi. Ayah, ibu dan adik-adik jadi korban tsunami," ucapnya terbata-bata saat menjawab &lt;em&gt;Waspada&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memahami psikologisnya, tak banyak yang harus ditanya ke Dudi. Apalagi jika sesuatu itu tentang masa lalu. Kita cuma bisa menggantung asa, seperti harapan Dean Hirsch,"Belajarlah dengan giat, kalian adalah masa depan Aceh dan dunia." &lt;em&gt;Semoga!&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-114431915782879374?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/114431915782879374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=114431915782879374' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114431915782879374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114431915782879374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/04/sherina-pun-manggung-di-kampung-mulia.html' title='&quot;Sherina&quot; Pun Manggung Di Kampung Mulia'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-114408043658961894</id><published>2006-04-03T09:03:00.000-07:00</published><updated>2006-04-07T22:32:44.216-07:00</updated><title type='text'>Goresan Dari Negeri Tak Bertuan</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SITI&lt;/strong&gt; Zainon Ismail dikenal sebagai penyair wanita ternama dari Malaysia. Hampir semua seniman di Tanoh Aceh akrab dengannya. D Kemalawati salah satu di antaranya. "Kita bisa mengutip sejarah dari batin penyair ini," tulis Zainon Ismail tentang penyair Aceh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zainon, puisi-puisi D Kemalawati meredah batin para inong, membawa amanat kasih sayang, sedih atas petaka alam, antara citra api, gemuruh bedil senjata, hingga air mata ibu, adalah cinta bumi ibunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah goresan penyair serta Dosen Universitas Kebanggsaan Malaysia itu pada cover belakang antologi puisi D Kemalawati yang berjudul,"Surat Dari Negeri Tak Bertuan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tak berlebihan goresan Zainon. "Puisi-puisi D.Kemalawati seperti merepresentasikan gebalau kegelisahan rakyat Aceh; menyusuri masa lalu dengan luka akibat konflik berdarah dan bencana alam dan memandang masa depan dengan optimisme yang menyisakan kepedihan," timpal Maman S Mahayana, seniman dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Dari Negeri Tak Bertuan adalah satu dari 70 judul puisi D Kemalawati yang dirangkum dalam sebuah antologi puisi dengan titel sama. Antologi tersebut, Minggu (2/4) diluncurkan di Taman Budaya Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran karya penyair Aceh yang akrab dengan nama Deknong ini tak terlepas dari gebrakan Lapena (Institute for Culture and Society) Banda Aceh. Lapena, tak lain sebuah lembaga "kecil" yang tidak main-main dalam goresan seniman Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Lapena, Helmi Hass kepada Waspada mengatakan, ada alasan kuat mereka menerbitkan buku penyair Aceh. "Selain mendokumentasikan karya penyair yang sudah puluhan tahun di laci, juga ingin mempublikasikan kepada masyarakat dunia, supaya mereka tahu apa yang direkam para sastrawan pada zamannya," sebut Helmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain, tambah dia, agar generasi penerus di Aceh nanti tahu dan kenal penyair yang sudah melahirkan karya tak kalah dengan penyair dari belahan dunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam wahana itu pula, pada medio Mei nanti, Lapena juga akan meluncurkan buku puisi Mohd. Harun Al Rasyid berjudul ”Nyanyian Manusia”. Harun, kini sedang menunggu ujian disertasi doktoralnya di Universitas Negeri Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya menjadi tak heran bila Lapena yang berkarya minim dana ini sudah meluncurkan tiga buku pascatsunami. Sebelumnya ada antologi puisi Aceh, Indonesia dan Malaysia, ”Ziarah Ombak” (2005). Pada sore menunggu setahun tsunami, 25 Desember 2005, diluncurkan buku cerpen tiga bahasa Sulaiman Tripa, ”Menunggu Pagi Datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menariknya, buku antologi puisi “Surat dari Negeri Tak Bertuan” yang ditulis seorang penyair perempuan produktif, diterbitkan dalam dua bahasa, Inggeris dan Indonesia.&lt;br /&gt;Penulis buku, Kemalawati, kepada pers mengungkapkan, puisi yang terkumpul dalam antologi ini berjumlah 70 puisi. ”Puisi-puisi ini berasal dari karya tahun 1985 sampai sekarang (2006),” kata Deknong Kemalawati, yang tak lain isteri Helmi Hass, mantan Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deknong alias Kemalawati yang lahir di di pantai Barat, Meulaboh, 2 April 1965 cukup akrab di telinga seniman Aceh. Ia juga sering diundang untuk membaca puisi di berbagai tempat, di Indonesia dan Malaysia.Dia juga menulis puisi, esai, opini, juga beberapa cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, cerpennya, Lelaki Berbahasa Ibu, menjadi nominasi Lomba Penulisan Cerpen Guru se-Indonesia (2004). Selain sebagai seniman, penyair wanita ini dikenal sebagai guru Matematika di SMK 2 Banda Aceh. Guru Matematika jadi penyair? Ini bukan aneh tapi nyata!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-114408043658961894?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/114408043658961894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=114408043658961894' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114408043658961894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114408043658961894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/04/goresan-dari-negeri-tak-bertuan.html' title='Goresan Dari Negeri Tak Bertuan'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-114407992710771721</id><published>2006-04-03T08:50:00.000-07:00</published><updated>2006-04-03T09:01:57.676-07:00</updated><title type='text'>Juragan Kosmetik Asal Inggris Didik Anak Neuheun</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ANITA&lt;/strong&gt; Roddick, yang dikenal sebagai juragan kosmetik di Inggris, ternyata memiliki &lt;em&gt;sense&lt;/em&gt; lebih dengan anak-anak. Dari belantara London, wanita kelahiran Littlehampton pada 1942 ini, bertandang ke sebuah desa pesisir di Aceh Besar. Tepat Desa Neuheun, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak kakinya membuahkan sebuah pusat kegiatan masyarakat di sana. &lt;em&gt;Community Centre &lt;/em&gt;namanya. Pusat Kegiatan Masyarakat itu dipakai buat lokasi pemulihan bagi anak-anak dan masyarakat Aceh yang terkena bencana tsunami. Di sini ada playgroup, taman kanak-kanak, pusat kegiatan remaja dan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gemuruhnya irama musik khas Aceh, aktivis lingkungan dan sosial itu, Sabtu (1/4) meresmikan &lt;em&gt;Community Centre &lt;/em&gt;yang didanainya. Bersama anak-anak TK dia juga mengikuti tarian Ranup Lampuan, serta menggunting pita bersama Pj Bupati Aceh Besar, A. Majid AR, MM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas tersebut merupakan kontribusi &lt;em&gt;Children on the Edge (&lt;/em&gt;COTE), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan Anita Roddick pada 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COTE mendedikasikan fasilitas tersebut kepada masyarakat Neuheun, termasuk di antaranya pengungsi dan anak yatim piatu. Tercatat sekitar 1.500 pengungsi berasal dari Alue Naga (411 jiwa), Neuheun (645 jiwa) dan Ulee Kareng/TVRI (615 jiwa) dan 100 anak yatim piatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, ibu dua anak ini mengunjungi keluarga Suryadarmawati yang sedang hamil tujuh bulan. Kepada wanita ini, Anita Roddick memberikan perlengkapan bayi serta menanyakan kondisi kehidupan warga di barak-barak yang sudah rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal sebagai aktivis lingkungan dan sosial, Anita Roddick juga dikenal sebagai juragan kosmetik. Perusahaan kosmetiknya, The Body Shop Internasional berkembang amat pesat. Sekarang sesudah 30 tahun, The Body Shop telah memiliki toko 2.070 unit, melayani lebih dari 77 juta pelanggan di 55 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di setiap outlet The Body Shop diberbagai negara ada kota-kota amal untuk bantuan korban tsunami di Aceh. Perhatian ke Aceh lebih besar ketimbang korban Katrina di Amerika," katanya dalam temu pers dengan wartawan di barak pengungsi Neuheun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut istri petualang Amerika, Gordon ini, membangun kembali bukanlah semata-mata menumpuk batu-bata dan pondasi, tetapi menyangkut juga masalah pembangunan jiwa. "Itu sebabnya kami memutuskan untuk membangun &lt;em&gt;Community Centre&lt;/em&gt; di Neuheun ini," katanya dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita yang didampingi pimpinan The Body Shop Indonesia, Suzy D. Hutomo mengatakan cikal bakal lahirnya COTE berawal di tahun 1990 nketika dia termotivasi untuk membantu anak-anak di rumah yatim piatu di Rumania. "Sejak itu lembaga ini mencoba menjalankan programmnya ke seluruh dunia," ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Children on The Edge adalah contoh sempurna dari semangat kerja manusia. Lembaga merupakan perwujudan definisi Ghandi tentang kerohanian yaitu untuk melayani yang lemah dan rentan," tukas Anita Roddick. Dia juga komit pada program perlindungan anak di kawasan konflik, seperti Rumania, Kosovo dan Timor Leste.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga ini di daerah bekas provinsi Indonesia itu mencapai sukses besar. Sehingga inisiatif tersebut diterapkan di Aceh. "Untuk biaya operasionalnya akan didukung sepenuhnya oleh The Body Shop Indonesia," sambung Suzy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kompleks &lt;em&gt;Community Centre&lt;/em&gt; itu, tidak hanya disediakan pendidikan pra sekolah, namun juga memberikan rasa normal dan memberikan anak-anak tempat yang aman untuk bermain dan berinteraksi sekaligus membentuk dukungan dan para pengasuh dan anggota masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasiltias itu didirikan sesuai dengan standar UNICEF untuk ruang yang ramah bagi anak-anak. "Ini penting karena anak-anak masih terlalu muda untuk dapat memahami kehilangan harta benda dan orang yang mereka sayangi," kata dia. "Bermain dan belajar dapat membuat mereka kembali kehidupan normal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid, seorang pengungsi setempat mengaku menyambut baik kehadiran lembaga tersebut, terutama untuk mendukung pemulihan trauma anak-anak mereka. Hal ini didukung pula hasil jajak COTE pada masyarakat Neuheun menunjukkan sebanyak 49 persen orang tua menyatakan sifat/kelakuan anak berubah pasca bencana tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Munawardi Ismail &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-114407992710771721?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/114407992710771721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=114407992710771721' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114407992710771721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/114407992710771721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/04/juragan-kosmetik-asal-inggris-didik.html' title='Juragan Kosmetik Asal Inggris Didik Anak Neuheun'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-113610380897581401</id><published>2006-01-01T00:22:00.000-08:00</published><updated>2006-01-01T00:29:16.746-08:00</updated><title type='text'>Tahun Mulai Berganti Di Kampung Kami</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETAHUN lalu kota ini gelap. Bencana bukan saja menguburkan kota kami, tapi juga waktu seakan berhenti. Banda Aceh 365 hari lalu adalah kota mati. Hari-hari lainnya adalah buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh sudut kota adalah kelam dengan ribuan mayat-mayat yang bergelimpangan. Tak ada yang berdenyut. Kecuali ringkih kodok sahut-menyahut. Hanya Krueng Aceh yang bergerak mengangkut mayat-mayat yang berserak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau bangkai menyengat di setiap gang dan jalanan. Banyak graffiti yang berbunyi; Di Sini Ada Mayat. Masih syukur bukan "Di Sini Ada Setan". Orang pada lari, bukan karena melihat setan, tapi karena getaran bumi yang tak pernah lekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sudah 370 hari Banda Aceh dalam duka. Duka maha dahsyat itu ikut menghilangkan banyak jasad. "Dia" juga meng-stipo peta-peta kampung di pesisir. Tsunami juga menenggelamkan tawa dan canda para balita. Bencana itu menguburkan keangkuhan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika kemudian dalam hitungan menit gelombang raksasa itu membuat 280.000 manusia kehilangan nyawa. Di Aceh dan Nias 160.000 korban wafat. Belum lagi di Sri Lanka, 31.000 orang tewas, dan 4.000 lainnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai selatan India kehilangan 8.000 jiwa, dan kepulauan Andaman dan Nicobar menelan korban lebih dari 2.000 jiwa. Kematian di Thailand mencapai 5.300 orang, 2.800 jiwa lainnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun kemudian, pemimpin negeri ini mengajak kita untuk mengingat jasad-jasad beku. Menghormati mereka, sekali lagi, untuk mereka orang-orang baik, perempuan, laki-laki, anak-anak kita, orang dewasa, yang hilang dibawa gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kita tundukkan kepala, memanjatkan doa khusuk, agar arwah mereka yang kita cintai, baik yang ditemukan maupun yang tidak kita temukan, yang dinisankan di perut bumi, maupun terkubur didasar laut, kesemuanya memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa tahun sudah berganti. Suasana tak lagi lengang. Tidak diam dalam amis mayat. Kini dia mulai bergerak dengan gairah muda-muda mengumbar dosa. Seakan mereka tak ingat peringatan setahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya mereka mengisi shaf-shaf di dalam masjid. Bertafakkur dan merenungi apa yang sudah kita lakoni selama ini. Bukan malah “menari-nari” dengan suara terompet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang tak ada larang di sana. Penguasa bisanya diam. Mungkin juga ikut larut. Melihat itu, seakan-akan setahun yang lalu kota ini tak pernah kelam. Tidak sunyi dalam keheningan ketika lidah hitam menjilat tubuh-tubuh yang tak berlumur dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini budaya kita? Sebelum saya menjawab, seorang senior alumni Lembaga Pers Dr Soetomo menghentak pikiran saya. Tentang tahun baru dia memberi secuil surah. “Penanggalan Masehi ternyata diambil dari lahirnya Jesus Kristus 1 Januari tahun masehi. Sebuah aqidah bisa terbelah jika kita memberi ruang toleransi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Masehi adalah ciptaan Julio Caesar, tulisnya. Islam punya penanggalan 1 Muharram. Hijrah, simbol peradaban Islam. Pemaknaan tahun baru Masehi sering bias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perenungan berubah menjadi hura-hura. Remaja muslim tak mau kalah. Ingin dibilang keren, gaul, ngetren dan sebagainya. Mereka lupa, itu bukan punya kita. Memang tak jelas! Sepeti belum jelasnya nasib ribuan “manusia tenda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Banda Aceh memang tak lagi kelam. Krueng Aceh juga sudah mulai bergerak. Tak ada lagi mayat bergelimpangan. Ternyata bencana “ikut” menata wajah kota, setelah waktu kembali berdetak ke 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-113610380897581401?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/113610380897581401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=113610380897581401' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113610380897581401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113610380897581401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2006/01/tahun-mulai-berganti-di-kampung-kami.html' title='Tahun Mulai Berganti Di Kampung Kami'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-113595735119540167</id><published>2005-12-30T07:39:00.000-08:00</published><updated>2005-12-30T07:42:31.200-08:00</updated><title type='text'>Jejak-Jejak Kompeni Disapu Tsunami</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK banyak bangunan monumental peninggalan kolonial di Banda Aceh. Apalagi bangunan berarsitektur Eropa yang sarat historinya. Dalam teritorial Aceh, bangunan bikinan Belanda, boleh dibilang dapat dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan wilayah lain di Nusantara yang banyak gedung-gedung “berseni” peninggalan kolonial. Sementara di Tanah Rencong, Belanda nyaris tak punya kesempatan menancapkan kukunya. Makanya tak heran, jika bangunan yang berserak pun adalah tangsi-tangsi militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bicara bangunan tua peninggalan kafe Belanda di Kutaraja alias Banda Aceh tak ubah bagai mengungkit lagi sejarah kelam kegagalan Belanda di Serambi Makkah. Pasalnya tak cukup waktu buat menir-menir itu untuk “membangun” daerah jajahannya (baca: Aceh) di tengah gempuran pejuang Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejuang-pejuang Aceh tak memberi angin apalagi membiarkan Belanda bernafas lega sejak memulai agresinya pada 26 Maret 1873. Sehigga tidak heran jika kompeni Belanda dibawah komando Mayor Jenderal J.H.R Kohler serta 3.000 serdadunya terkapar merenggang nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan ini dapat dipatahkan patriot-patriot Aceh yang berujung pada tewasnya Kohler pada 10 April 1873. Bahkan pihak Belanda sendiri mencatat Perang Aceh sebagai perang paling dahsyat. Selain menguras tenaga dan nyawa, juga paling banyak menguras gulden mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang kedua, dibawah Jenderal Van Swieten, Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Untuk memperkuat barisan pertahanannya Belanda mendirikan sejumlah gedung permanen tanda mereka “menguasai” Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, yang paling dominan dibikin kompeni itu tak lain tangsi-tangsi militer. Ini cukup beralasan mengingat gempuran prajurit Aceh tak pernah surut, sehingga mau tidak mau baik van Swieten hingga van Dallen “wajib” menjaga diri dari tusukan rencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tangsi militer, mereka juga membangun gedung-gedung yang dapat menopang usaha-usaha mereka dalam menguasai Aceh. Seperti Gedung Sentral Telepon Militer (kini dipakai untuk Kantor PSSI Aceh), Kantor Atjeh Tram (digunakan untuk Universitas Iskandar Muda), Atjeh Internaat (dipakai untuk kantor Bazis), Gedung Pergadaian, Bioskop Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan gedung-gedung purba itu tidak banyak berubah. Hanya saja minimnya perawatan, sedangkan fungsinya ada yang dipakai untuk perkantoran namun tidak sedikit yang jadi pajangan seperti Bangunan Instalasi dan Menara Air, Tugu Nege Dach Tenis dan Mercusuar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gempa dan tsunami menerjang Aceh 26 Desember lalu, ada sejumlah bangunan yang ikut runtuh dan hancur akibat bencana. Misalnya Kantor Der Nader Land Sche Harrdy Matsschappy yang dipakai untuk kantor PDIA (Pusar Dokumentasi dan Informasi Aceh), Gedung MULO yang bangun tahun 1922 yang dipakai untuk SMP I Banda Aceh, Gedung SMP 4 Peunayong dan Rumah Potong Hewan di Keudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan kuno itu cuma tinggal mimpi setelah dirusak tsunami. Di bekas pertapakannya didirikan bangunan lain untuk maksud senada. Bahkan sebagian pertokoan Belanda di jalan Ahmad Yani Peunayong juga roboh ketika gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca-bencana, bangunan “made in” Belanda yang tersisa dan selamat antara lain Gedung SMU 1 Banda Aceh. Gedung Loge be Boow itu dikenal dengan sebutan Gedung Setan. Pada masa kompeni gedung Teo Sofi ini berfungsi sebagai tempat pertemuan para agamawan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu bangunan publik yang sempat dibangun Belanda dan selamat dari bencana, De Atjeh Bruk Keri (bekas gedung percetakan) di jalan Diponegoro, Gedung Sentral Telepon Militer, Atjeh Internaat (dipakai untuk kantor Bazis), Gedung Pergadaian dan Bisokop Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi, Kerkoff Poucut Meurah dan Gereja Hati Kudus, Meuligoe (kediaman resmi gubernur NAD), Kompleks Baperis. Dua nama gedung yang disebutkan terakhir jauh dari jangkauan gelombang maut tsunami. Hanya Kerkoff dan beberapa gedung yang sudah disebut tadi juga ikut dibalut lumpur tsunami, namun tak merusak fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Kerkoff menjadi bukti sejarah kelam serdadu Belanda di Tanah Aceh, maka De Javasche Bank boleh dibilang sebaliknya. Gedung berarsitektur Eropa itu menjadi satu-satunya bangunan fenomenal yang menjadi bekas jejak Belanda di Aceh yang hingga kini tetap lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi De Javasche Bank yang terletak di jalan Cut Meutia atau di samping Kantor Polda NAD itu tidak berubah. Kini dijadikan Kantor Bank Indonesia Banda Aceh. “Dulu fungsinya juga tidak jauh beda dengan sekarang. Semacam bank sentralnya Belanda ketika itu,” ujar pemerhati sejarah, Ridwad Aswad, kepada Waspada baru-baru ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, peletakan batu pertama Masjid Raya Baiturrahman juga dilakukan pada masa Belanda. Dia menyebutkan sekira Oktober 1979 dan diresmikan pada Desember 1881. Ketika itu Gubenur Belanda Karen van der Heijden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan Aswad yang pegawai PDIA itu mengakui, bicara bangunan tua “bersejarah” di Aceh tak ubahnya membuka cakrawala masa lalu Belanda yang bernasib kelabu. Bagaimana tidak, sejarah mereka di Aceh tidak semulus yang mereka idamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya menjadi tidak heran, jika di Kutaraja banyak dibentengi Rumah Opsir militer Belanda. Setidaknya ada tiga kompleks yang dibangun buat perwira-perwira Marsose. Bukan cuma rumah, dalam kompleks ini mereka juga mendirikan Leger Museum (Museum Tentara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon museum ini mengoleksi buku-buku taktik perang yang menjadi bacaan wajib tentara Marsose. Rumah peninggalan Belanda itu hingga kini masih lestari, kendati sudah ada yang keropos di sana-sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kini fungsinya tidak jauh berbeda ketika semula dibuat Belanda. Rumah Opsir Militer I- III yang terletak di Kuta Alam, Neusu dan Peunayong itu kini sebagian ditempati petinggi Kodam Iskandar Muda dan ada juga yang dijadikan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kompleks rumah opsir militer Belanda dan kantornya yang dulunya juga ada dekat Rex Peunayong, kini hilang bak ditelan bumi. Bahkan di atas tanah-tanah yang sudah ruislag itu berdiri kokoh pertokoan di jalan Sri Ratu Safiatuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun nasib sederetan pertokoan dibekas tanah itu juga tak jauh beda dengan yang lain. Hancur digoyang gempa dan lebur dirusak tsunami. Lalu apakah nasib bangunan sisa kolonial yang tersisa akan tetap lestari. Kita lihat nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-113595735119540167?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/113595735119540167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=113595735119540167' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113595735119540167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113595735119540167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/12/jejak-jejak-kompeni-disapu-tsunami.html' title='Jejak-Jejak Kompeni Disapu Tsunami'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-113595710416120523</id><published>2005-12-30T07:37:00.000-08:00</published><updated>2005-12-30T07:38:24.163-08:00</updated><title type='text'>“Sungguh Berat Cobaan Allah…” (2)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Munawardi Ismail &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu pula dengan Deni. Dia tak menyangka, ketika tersadar ia melihat dirinya tidak lagi di tempat semula. Banyak orang yang merintih kesakitan, begitu pun, sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan lagi. Sedikit saja bergeser, sakitnya minta ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak bisa membayangkan mengapa saat itu saya berada di tempat tersebut. Tak satu pun diantara mereka yang saya kenal. Yang saya ingat hanya orang-orang panik berlarian,” kisah Deni kepada Waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya hitungan detik, kata Deni, tiba-tiba gelombang laut setinggi lebih dari 10 meter menghantam dirinya. Sejak itu, ia tidak mengingat apa pun. Deni tak sadarkan diri, entah kemana dirinya dibawa arus deras yang menerjang daratan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya tersadar, ia melihat semua sekitarnya bagaikan lautan, tidak ada bangunan apa pun yang terlihat. Sementara ia merasaka sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Saat itu Deni mencoba bangkit, namun rasa sakit mengalahkan niatnya untuk bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua jam lamanya, akhirnya Deni mengetahui bahwa dia terdampar di Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. “Jaraknya sekitar empat kilo dari tempat saya semula. Rasanya hanya hitungan detik,” ungkap dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami ikut merenggut ibu bapak dan tiga saudara kandungnya. “Jenazah mereka tidak pernah diketemukan,” kisah Deni. “Saya pernah mencoba mencarinya, namun kondisi tubuh yang tidak memungkinkan, saya hanya bisa pasrah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dirinya masih belasan tahun, ia tidak ingin terus berlarut dengan duka kehilangan orang tuan dan saudaranya. Bagi Deni, bencana 26 Desember 2004 merupakan cobaan paling berat dari Allah SWT selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang cobaan Allah itu berat, tetapi semua itu sudah kehendak Sang Khalid. Semuanya Allah SWT yang menentukan. Bencana itu mengajak kita untuk introspeksi diri, kembali meningkatkan keimanan. Di balik bencana pasti ada hikmahnya,” ungkap Deni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini yatim tsunami menjadi penghuni tetap barak pengungsi di Desa Lambung. Entah kapan ia akan menetap di tempat itu. Yang pasti hingga bantuan rumah terwujud. Namun ia merasa kurang yakin bakal mendapatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jadi Pemburu Tiram&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setahun musibah berlalu, di mana pada saat semua elemen ingin “merayakan” bencana dahsyat itu, warga malah masih hidup di tenda. “Jadup saja baru tiga bulan kami terima. Padahal sudah satu tahun di barak,” tambah Nuraini, warga Lamnga, Neuheun Aceh Besar itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dua anak itu mengaku hingga kini belum ada yang berubah dari hidupnya. Selain tinggal di barak, rumah pun yang dijanjikan masih sekadar pondasi. “Untuk menghidupi keluarga, ayah anak-anak narik beca,” ujar wanita berkulit kuning langsat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Fatimah, 35, warga Ganoe, Lambaro, Kuta Alam yang kehilangan dua anak mengaku tetap teringat dengan musibah itu. Sayang, hingga kini Fatimah dan tiga saudaranya masih tinggal di tenda yang kini sudah rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kegiatan kami sehari-hari mencari kerang buat dijual. Penghasilannya lumayan lah untuk menutupi biaya dapur. Umumnya kami melakukan itu,” katanya sembari menambahkan bahwa suaminya menjadi penarik beca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bencana itu menghumblang kampung dia, ibu berkulit hitam ini menjual nasi di kaki lima. Namun, setelah semuanya hilang dan tak punya modal, dia beralih menjadi pencari tiram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ini tidak kita buat, mau makan apa. Berharap dari jadup tak mungkin memenuhi kebutuhan dapur. Apalagi setelah BBM naik, penderitaan kami tambah parah, apalagi jadup belum dibagi,” cerita dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tak banyak income yang diperoleh dalam satu hari, namun dia bersyukur sekali bisa menambah uang jajan buat keluarganya. “Lumayanlah, kadang satu hari dapat Rp50 ribu,” tambah Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib Fatimah beda dengan Badriyah, 43, warga Lampaseh Aceh yang cukup tenar di kalangan pengungsi setempat. Ibu sembilan putra-putri yang sudah memulai “hidup baru”. Pun demikian, belum mampu melupakan kehilangan orang-orang yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang disebut “Pahlawan” oleh Majalah TIME Asia ini sudah memulai kegiatan dagang kecil-kecil. “Saya buka usaha kecil-kecilan di barak. Itu satu kios yang dibikin anak,” katanya seraya menunjuk objek yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa dagang Neneh, begitu dia disapa tidak muncul seketika atawa pasca-tsunami. “Sebelumnya saya pedagang kain keliling. Sekarang tak punya modal lagi, makanya berjualan kecil-kecilan,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati cuma bermodal alakadar, Neneh tidak tinggal diam. Semangatnya untuk melanjutkan hidup yang tersisa bersama anak-anak tercinta tetap membara. “Di mana dek kita bisa dapat bantuan modal,” tanyanya kepada Waspada belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejuta kisah dahsyat yang belum semuanya terangkum dari korban tsunami. Ada yang diselamatkan oleh binatang berupa ular, kerbau, hiu. Tak jarang banyak pula “malaikat-malaikat kecil” (baca: anak-anak) yang ditolongi lelaki bersurban berjenggot putih panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang memang sulit dimengerti, tapi itu semua terjadi. Yuliana, Salamah, Nurfina dan Deni adalah secuil kisah yang mungkin “hambar” jika dibandingkan dengan cobaan yang dialami orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, tsunami pun dianggap sulit dipahami, tapi begitulah kekuasaan Ilahi. Ada yang dulunya kaya raya, kini jatuh miskin, begitu pula sebaliknya. Ada yang tak dikenal malah menjadi tenar. Tapi semua itu cobaan Allah. Kita yang harus syukur dan tabah. &lt;em&gt;Semoga&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-113595710416120523?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/113595710416120523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=113595710416120523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113595710416120523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113595710416120523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/12/sungguh-berat-cobaan-allah-2.html' title='“Sungguh Berat Cobaan Allah…” (2)'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-113595699240761944</id><published>2005-12-30T07:34:00.000-08:00</published><updated>2006-01-01T00:27:12.140-08:00</updated><title type='text'>“Sungguh Berat Cobaan Allah…” (1)</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK ada yang mengira, kalau keheningan di Minggu pagi pada 26 Desember lalu menjiprat maha duka. Di pagi buta alam memang masih bersahabat, setelah itu semua terasa kiamat. Setelah gempa, laut pun menggelegar; tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memori musibah dahsyat itu dibuka lagi, semua akan berkomentar sama. “Jangan diungkit lagi, saya cukup sedih. Saya belum bisa melupakan itu,” kata Yuliana, warga Kampung Bitai, Banda Aceh sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang setelah semua panik pasca-gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter. Semua warga tak menyangka bakal ada gelombang raya yang menghempas dan menghancurkan daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah bumi “bergoyang” ada tiga kali dentuman yang meledak dari arah utara (baca: laut). Pikiran masyarakat kian tak menentu, mereka menerka beragam. Mungkin perang, karena status Aceh ketika itu masih dalam keadaan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lon pikee kok sampe hate, ban lheueh gempa ka ditiek bom, bit han utak. Saya pikir kok sampai hati begitu selesai gempa, kenapa dilempar bom lagi, betul-betul tak punya otak,” ujar Salamah, 47, warga Lamreh Krueng Raya, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, usai suara dentuman, dumm… dummm.. dumm…, lalu ditingkahi bunyi raungan seperti helikopter. “Lon pike leueh gempa biet-biet ka prang, lheueh 3 go su bom, su helikopter teuga that, saya pikir setelah gempa benar-benar perang, setelah 3 kali suara bom, datang suara helikopter,” tambah dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Salamah bersama anaknya yang sedang hamil 9 bulan naik ke bukit Soeharto, sekira 2,5 km dari Pelabuhan Malahayati. “Kami langsung lari begitu ada yang berteriak, air naik…air laut naik…,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa dahsyat itu bukan hanya dialami Salamah saja. Sulaiman, warga Aceh Jaya yang ditemui di Banda Aceh juga mengaku sama. Pasca gempa dia mendengar tiga kali suara dentuman di tengah laut. Kemudian disusul suara raungan helikopter yang terbang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terasa Sudah Kiamat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua warga yang mengalami langsung musibah itu punya kisah yang beragam. Apalagi banyak yang mengamini bahwa gelombang yang melibas daratan pada akhir Desember 2005 berhawa membunuh. Airnya hitam pekat, karena ada lumpur laut yang mengendap. Aromanya sudah jelas tak sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngeri untuk diingat lagi. Airnya mencari mangsa. Di mana ada orang ke situ dia datang,” urai Yuliana lagi. Tsunami, memang bukan saja menenggelam daratan Aceh dan isinya. Semua usia ikut menjadi korban, tak peduli tentara, polisi, pejabat, anggota terhormat, petani atau nelayan semua tamat dalam kiamat kecil itu. Masya Allah, Innalillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya yang dialami Nurfida, 28. warga Desa Cot Lamkeuwuh, Kecamatan Meuraxa Banda Aceh yang menjadi korban tsunami 26 Desember 2004. Dia “harus” mengikhlaskan kehilangan enam saudara kandungnya ketika bencana akhir tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya kisah sedih dihari minggu, bak sebuah judul lagu, perempuan yang biasa disapa Ida ini berkisah. Berawal minggu pagi kelabu. Pagi itu, ia dan suami serta adik bungsu sedang berada di rumah kontrakkannya yang akan mereka tempati. Nurfida meninggalkan bapak, kakak, dan abang ipar serta adik dan dua kemanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi itu saya tidak sempat pamit karena ada mereka masih tidur. Sedangkan bapak sudah pergi, biasanya dia duduk di warung kopi dekat rumah,” kisah Nurfida kepada Waspada. “Tidak ada firasat apa-apa saat itu, semuanya berlangsung seperti biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam di rumah kontrakan di kawasan Desa Punge Ujong, tiba-tiba terasa bumi bergoncang. Mulanya lambat, lama kelamaan guncangan terasa begitu kentara. Suami sempat berteriak, “Gempa, gempa, gempa.” Semua yang di rumah berhamburan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di depan, kata dia, dirinya sempat terjerembab. Hatinya ada sedikit kacau, karena memikirkan janin yang tengah dikandungnya berusia empat bulan. “Saya sempat was-was memikirkannya,” tutur Nurfida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai gempa, suaminya pamit ke warung kopi yang jaraknya sekitar 30 meter dari rumah yang baru disewanya seharga Rp2,5 juta pertahun. Selang beberapa menit setelah kepergian suaminya, tiba-tiba orang berteriak kepanikan, “Air, air, air laut naik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar teriakan itu, Nurfida pun ikut kalut. Pikirannya menewarang kepada sang suami yang sedang mencicipi kopi paginya. Namun, tanpa terasa pikirannya kosong, ada suara yang mengajaknya ke sebuah rumah berlantai tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya kemari,” tiru Nurfida seraya mencoba mengingat kisah setahun silam. “Tanpa pikir panjang saya langsung mengikutinya. Saya hanya bisa pasrah, ingatan kepada suami sempat menghilang beberapa detik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di lantai tiga, Nurfida melihat semuanya berubah menjadi lautan. Pikirannya kepada suami kembali menerawang dengan hati yang gundah. Ia sempat berdoa agar suami masih selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak henti-hentinya istri MH Setiady itu berdoa sambil mengucapkan asma Allah SWT. Sambil melirik ke sana kemari, dengan harapan suaminya terlihat. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sosok yang akrab dikenalnya sedang duduk di atas atap bangunan toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu, saya meyakini yang duduk itu adalah suami saya. Saya mencoba melambaikan tangan. Mulanya tidak ada balasan, setelah beberapa kali melambai, dia pun membalasnya,” aku Nurfida dengan linangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu yakin suaminya masih selamat, ia langsung berlutut mengucapkan syukur seraya mengucapkan keagungan kepada Allah SWT. Saat itu, tiada kekuatan apa pun, kecuali menyebut keagungan Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikirannya bahwa gelombang dahsyat minggu pagi itu merupakan cobaan berat dari Allah SWT. Cobaan itu merupakan petunjuk agar semua kembali mengingat-Nya. “Selama ini kita lalai dan lupa kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT, sebut Nurfida, telah menunjukkan kebesarannya. Sang Khalid memberikan bencana dahsyat agar kita tidak melupakan-Nya. Di balik bencana ada hikmahnya, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan makhluk ciptaan Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berlalu, ia telah kembali ke desa asal bersama suami dan bayinya yang berusia enam bulan. Ia tidak sendiri, walau enam keluarga kandungnya menjadi korban, dua abang dan dua adik menemani hari-harinya di gubuk yang mereka bangun bersama. (&lt;em&gt;bersambung&lt;/em&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-113595699240761944?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/113595699240761944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=113595699240761944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113595699240761944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113595699240761944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/12/sungguh-berat-cobaan-allah-1.html' title='“Sungguh Berat Cobaan Allah…” (1)'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-113593038291802168</id><published>2005-12-30T00:11:00.000-08:00</published><updated>2005-12-30T00:24:45.070-08:00</updated><title type='text'>Warkah Terakhir Dari Komando Pusat</title><content type='html'>Munawardi Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERIKNYA matahari dipertengahan Desember tidak membuat pria bertubuh tambun ini gerah. Kaos T-shit hitamnya terlihat dibasahi keringat. Wajah “montok”-nya juga sama. Sorot mata bak elang mengincar mangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran prajurit Teuntra Neugara Aceh (TNA) ini bukan untuk mengepung musuh. Lantas? Tetapi tak lain untuk melihat dari dekat proses pemotongan senjata. Bukan itu saja, dia juga meliput. “Saya hanya bikin dokumentasi saja,” katanya kepada Waspada ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang dalam kalangan militer GAM bersandi Komandan Robot ini mengaku sedang “dinas” khusus dari penerangan Komando Pusat Di Tiro. Komando Pusat Di Tiro adalah markas besar sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah markasnya Muzakkir Manaf, Panglima Tinggi GAM serta Jurubicara Militer GAM, Sofyan Dawood. Pun demikian jangan harap “pentagon”-nya GAM itu mirip dengan Cijantung di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Robot, instruksi Markas Komando Pusat itu tak membuatnya gerah. Karena dia menyadari, penyerahan senjata dengan Perundingan Helsinki 15 Agustus. “Kami prajurit hanya menjalankan perintah komando. Perintah serahkan senjata, kami kasih,” ujarnya membuka suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadarinya, prajurit tanpa memanggul senjata tak lebih bak gajah tanpa gading. Itulah yang membuat dia mengikhlaskan “mesin pembunuh” itu dikoyak tim Aceh Monitoring Mission (AMM). “Kini bukan saatnya lagi berjuang dengan kekerasan, dijalur politik mungkin bakal lebih baik,” urai berlagak diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjata bagi Komandan Robot dipakai buat membentengi diri. Meski kini tanpa “tameng” untuk membalas serangan, Komandan Robot mengakui tidak takut. “Dalam kondisi darurat militer saja tak takut, apalagi sudah damai,” gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rasa sedih juga sedikit terbersit dari wajah Robot yang datang khusus dari Wilayah Pidie. Sama seperti sedihnya Syahrul, TNA Wilayah Aceh Besar. "Saya terharu dan sedih sekali begitu senjata yang selama ini kami miliki, tiba-tiba harus dimusnahkan,” katanya seusai pemotongan senjata tahap akhir di Blang Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrul memang tak punya tubuh seperti “Robot”. Dia merasa masih takut. Dia juga merasa amat sedih untuk menyerahkan senjata. Alasanya, ya karena hingga kini belum hilang rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami yang di lapangan masih merasa takut, karena kondisinya masih belum stabil dan kami masih belum bisa memegang janji yang diberikan pemerintah," kata mantan TNA GAM lainnya.&lt;br /&gt;Karena itu, Syahrul mengharapkan isi MoU yang sudah ditandatangani di Helsinki harus betul-betul dilaksanakan semua pihak, baik itu GAM maupun Pemerintah. “Memelihara perdamaian itu merupakan kewajiban semua elemen masyarakat Aceh, sehingga akan tercipta kondisi Aceh yang aman dan sejahtera,” kata mantan TNA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubar TNA Dahsyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, 27 Desember lalu dicatat hari bersejarah bagi GAM. Bagaimana tidak, senjata dilucuti, TNA didemobilisasi. Setelah TNA bubar, lalu untuk veterannya dibentuk Komite Peralihan Aceh (KPA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelucutan senjatan dan pembubaran TNA, menurut mantan Jurubicara Militer Komando Pusat Di Tiro, Sofyan Dawood, merupakan langkah paling dahsyat. Namun biar itu terasa pahit, semua dilakukan dalam kerangka MoU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita membubarkan TNA, menyerahkan senjata. Yang paling dahsyat membubarkan TNA dan itu semua adalah dalam rangka MoU. Kalau tidak karena MoU kita tidak mau membubarkan TNA,” tukas Jubir KPA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori TNA masih terasa dibenak Sofyan Dawood. Pada awalnya GAM hanya memiliki 12 personel militer. Namun jumlahnya membengkak setelah mengalami regenerasi pada tahun 1980, 1986, 1990, 1998, 2000 dan 2001. “Jumlahnya mantan TNA kini ada 3.000 orang, dulu ada 4.000 lebih” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut nama untuk sayap militer ini, kata Sofyan, pada awalnya bernama Aceh Merdeka, lalu diganti menjadi Angkatan GAM pada 1990-an, lalu berubah lagi menjadi TNA yang ditetapkan pada pertemuan Sigom Donya GAM di Norwegia 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perintah MoU, GAM pun membubarkan TNA lewat sebuah warkah yang dikeluarkan elite GAM. Warkah itu sendiri diteken Muzakkir Manaf. Itulah warkah terakhir Komando Pusat Di Tiro. Akankah menjadi pembawa berkah damai tanpa kekerasan. &lt;em&gt;Semoga&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-113593038291802168?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/113593038291802168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=113593038291802168' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113593038291802168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/113593038291802168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/12/warkah-terakhir-dari-komando-pusat_30.html' title='Warkah Terakhir Dari Komando Pusat'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-112211253916504709</id><published>2005-07-23T02:51:00.000-07:00</published><updated>2005-07-23T02:56:41.286-07:00</updated><title type='text'>Selangkah Lagi Martunis Jadi Artis</title><content type='html'>JAKARTA (Waspada): Jika tak ada aral yang melintang dan berumur panjang, Martunis bakal segera terjun ke dunia akting. Jadi artis bukan lagi cuma mimpi. Masalah teknis dari Multivision Plus sudah kelar, tinggal nonteknis di pihak manejemen Martunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama ini cuma terkendala pada persoalan nonteknis,” ujar Marzuki Ibrahim, seorang manager PT Multivision Plus kepada &lt;strong&gt;Munawardi Ismail&lt;/strong&gt; dari &lt;em&gt;Waspada&lt;/em&gt;, Sabtu (23/7) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkannya, pihak Multivision yang mengajak bocah berusia Martunis, 8 tahun, main sinema elektronika sudah final, tinggal produksinya saja. “Tidak ada masalah lagi. Seperti saya sebutkan tadi, tinggal masalah non teknisnya saja,” kata Marzuki yang enggan menjelaskan secara detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marzuki, kendala nonteknis yang tidak begitu fatal itu ada dipihak manejemen Martunis. Apalagi Martunis sendiri sekarang sedang sekolah di kampung neneknya, Desa Lamreueng, Kecamatan Barona Jaya, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut dengan produksi sinetron yang bakal dibintangi Martunis, pria asli Aceh itu mengatakan pada prinsipnya tidak masalah. “Pak Raam niatnya baik. Beliau ingin memberi kail kepada Martunis. Kita tidak merugikan dia,” katanya seakan-akan menjawab tudingan segelintir orang yang menganggap sudah mengekspoitasi anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila rencana membintangi sinetron final, pihak Multivision juga akan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan Martunis. Terutama menyangkut dengan masa depan anak itu, seperti pendidikan agama dan umum. “Pendidikan akan menjadi prioritas kita nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ayah Martunis, Sarbini kepada &lt;em&gt;Waspada&lt;/em&gt; belum lama ini mengatakan sebelum terjun ke dunia akting, dia sempat minta “bernafas” dulu beberapa bulan, “Kalau bisa kita tunda dulu barang dua bulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan sebulan lalu, perusahaan yang kerap bikin sinetron laris di pasaran ini mengundang Martunis dan ayahnya, Sarbini ke Jakarta pada (16/6) silam. Di ibu kota, bocah yang hobi bola kaki menjadi tamu istimewa Raja Sinetron Raam Punjabi yang tak lain pemilik Multivision.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, di sinilah Raam mengajak bocah yang selamat dari amuk tsunami ini untuk main sinetron. Raam sendiri mengaku tertarik dengan “perjuangan” Martunis yang mampu bertahan hidup 21 hari setelah musibah tsunami yang merusak kampungnya pada 26 Desember silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raam Punjabi mengaku melihat bakat besar pada anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sarbini dan Salwa ini. “Dia orangnya cukup percaya diri. Tapi kita tidak buat cerita soal tsunami. Kita lebih mengangkat figur anak-anaknya,” kata dia saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Martunis yang sudah duduk di Kelas IV SD No 2 Lamreueng, Kecamatan Barona Jaya, Aceh Besar, tak jauh dari rumah neneknya. Sementara ibundanya dan dua saudara kandung ikut menjadi korban dalam bencana dahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemukan kru televisi Inggris, ditubuh anak ini melekat baju replika tim nasional Portugal dengan nomor kustum 10 yang bertuliskan Rui Costa. Dari sinilah perjalanan hidupnya berubah. Sehingga awal Juni lalu dia dan ayahnya diundang ke negera itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lisabon, ibu kota Portugal, Martunis menjadi tamu kehormatan. Selain bertemu idolanya Rui Costa, Cristiano Ronaldo, Luis Figo dan lain-lain di juga mendapat hadiah baju orisnil timnas Portugal. Kostum nomor 1 itu bertuliskan namanya, Martunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat dia bangga, di atas baju itu ada 23 tandatangan skuad Portugal, tentu saja termasuk bintang Manchester United, Cristiano Ronaldo. Yang membuat Martunis tambah senang, sepekan pulang dari Portugal, Ronaldo melakukan kunjungan balasan ke Banda Aceh pada 11 Juni silam. (b03)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-112211253916504709?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/112211253916504709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=112211253916504709' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/112211253916504709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/112211253916504709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/07/selangkah-lagi-martunis-jadi-artis.html' title='Selangkah Lagi Martunis Jadi Artis'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111767685542939644</id><published>2005-06-02T18:41:00.000-07:00</published><updated>2005-06-01T19:24:38.123-07:00</updated><title type='text'>Lukisan Alam di Lhok Nga</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/Langit.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111767685542939644?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111767685542939644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111767685542939644' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767685542939644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767685542939644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/06/lukisan-alam-di-lhok-nga.html' title='Lukisan Alam di Lhok Nga'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111767756778109091</id><published>2005-06-01T18:58:00.000-07:00</published><updated>2007-11-15T07:00:00.269-08:00</updated><title type='text'>Rajawali Menerkam Mangsa</title><content type='html'>&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/RajawaliMenerkamMangsa.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111767756778109091?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111767756778109091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111767756778109091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767756778109091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767756778109091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/06/rajawali-menerkam-mangsa.html' title='Rajawali Menerkam Mangsa'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111767749788616110</id><published>2005-06-01T18:57:00.000-07:00</published><updated>2005-06-01T19:25:03.096-07:00</updated><title type='text'>Mengantar Matahari Pulang</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/Mataharipulang.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111767749788616110?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111767749788616110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111767749788616110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767749788616110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767749788616110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/06/mengantar-matahari-pulang.html' title='Mengantar Matahari Pulang'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111767703253176605</id><published>2005-06-01T18:49:00.000-07:00</published><updated>2005-06-12T04:59:53.080-07:00</updated><title type='text'>Tasbih Alam</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/lukisanalam.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111767703253176605?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111767703253176605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111767703253176605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767703253176605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767703253176605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/06/tasbih-alam.html' title='Tasbih Alam'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111767718637132489</id><published>2005-05-30T18:52:00.000-07:00</published><updated>2005-06-01T19:05:22.730-07:00</updated><title type='text'>Berarak Menuju Senja</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/lukisanalam1.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111767718637132489?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111767718637132489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111767718637132489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767718637132489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767718637132489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/05/berarak-menuju-senja.html' title='Berarak Menuju Senja'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111767685243536067</id><published>2005-05-29T18:41:00.000-07:00</published><updated>2006-09-17T09:18:37.120-07:00</updated><title type='text'>Lukisan Alam di Lhok Nga</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/Langit.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111767685243536067?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111767685243536067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111767685243536067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767685243536067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111767685243536067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/05/lukisan-alam-di-lhok-nga.html' title='Lukisan Alam di Lhok Nga'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111565124167775913</id><published>2005-05-09T09:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T12:20:03.468-07:00</updated><title type='text'>Goresan Panjang Duka Aceh</title><content type='html'>“Saya terharu sekali melihat foto-foto ini,” ujar seorang pelajar SMA 8 Banda Aceh. Tak salah, karena dia sudah melihat 54 karya terbaik jurnalis foto Aceh tentang musibah tsunami yang dipamerkan di Museum Negeri Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Wakil Ketua DPRD NAD, Raihan Iskandar Lc, yang menulis, “Semoga menjadi pelajaran bagi para penglihat.” Itulah goresan Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera ini ketika membubuhkan komentarnya di sebuah foto yang disiapkan panitia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pengunjung yang lain menulis dibuku tamu. Banyak di antara mereka yang kagum dan bahkan tak kuasa menatap lama-lama hasil jepretan para wartawan dan jurnalis ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang foto-foto 26 wartawan dan fotografer Aceh itu menyita animo warga. Mereka yang singgah ke situ ada dari berbagai elemen. Siswa, mahasiswa, pegawai negeri, petani, pejabat tinggi, nelayan, warga korban tsunami dan NGO-NGO asing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran foto yang digagas Pewarta Foto Aceh ini mengusung tema “Jalan Panjang 2.880 jam Tragedi Luka Aceh” Duka 26 Desember lalu itu dipotret para jurnalis yang juga menjadi korban dalam musibah dahsyat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi panggilan hati nurani untuk menghadirkan yang terbaik bagi masyarakat, adakalanya sanak keluarga kami yang jadi korban terlupa sesaat,” ungkap Imran Joni, Ketua PFA kepada Waspada, kemarin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, kata Joni, kepiluan itu bukan milik orang yang jadi korban saja. Para jurnalis juga merasakan itu, meski ia terlihat tegar untuk tetap menghadirkan informasi yang terbaik pada pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, lanjut dia, rasa kemanusiaan mereka terlihat seolah-olah sudah hilang, hanya demi sebuah karya terbaik. “Namun dibalik itu, kehadiran pameran foto ini kami harapkan dapat menjadi jawaban tentang kepedulian kami atas kepedihan masyarakat tanah rencong,” papar Joni.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain bentuk kepedulian yang dipersembahkan lewat karya nyata melalui bidikan kamera, foto-foto itu akan dijual bagi peminat seni dan publik. “Sebagian dananya akan kami sumbangkan kepada para korban bencana gempa dan tsunami di Aceh,” kata Joni yang diamini Ketua Panitia, Iranda Novandi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pameran foto yang baru sehari berlangsung itu, banyak meninggalkan duka, terutama keluarga korban. Karenanya tak heran, jika ada sejumlah pengunjung seketika histeris, berurai air mata. Mereka seakan-akan bilang tak kuat menyaksikan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saja tak kuasa, sepatah kata pun rasanya enggan mereka nukilkan. Apalagi ketika melihat sebuah goresan menganga di lengan kiri seorang wanita yang sedang ditolong seorang pria melalui seuntas tali. Malang, keduanya tidak selamat, setelah 2.880 jam tragedi itu berlalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111565124167775913?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111565124167775913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111565124167775913' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111565124167775913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111565124167775913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/05/membidik-goresan-panjang-duka-aceh.html' title='Goresan Panjang Duka Aceh'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111062943138201812</id><published>2005-05-06T04:05:00.000-07:00</published><updated>2006-09-17T09:22:50.353-07:00</updated><title type='text'>Mulut</title><content type='html'>Oleh Suka Hardjana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKALI-dua pernah saya mendapat kesempatan berkenalan dengan anggota parlemen dari sebilangan negara orang-orang pintar. Kesan yang tertinggal membuat saya berangan-angan tentang bagaimana seharusnya orang menjadi fungsionaris dan penyelenggara negara. Mereka berperforma correct dan menjaga integritas pekerjaan dan tanggung jawab. Sikapnya terpelajar, menarik diajak bicara tentang banyak hal, dan menunjukkan minat untuk mendengarkan pendapat orang lain. Orang Melayu bilang, mulut, mata, dan telinganya terjaga. Elegant, kata orang Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pejabat publik memang sebaiknya demikian. Terpelajar dan elegan dalam tingkah laku dan tutur bahasa. Menjadi pejabat publik semestinya bertingkah laku terkendali dan lebih cerdas dari awam. Maka, adalah hal yang wajar bila banyak orang lantas merasa ngenes dan prihatin melihat tingkah laku anggota parlemen dan pejabat publik negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur bilang, seperti anak TK. Kata-kata banal, kasar, dan kotor tak terkontrol keluar dari mulut di dalam sidang terbuka yang bisa dikuping orang banyak. Sampai-sampai wartawan pun dalam laporannya kepada publik tak tega mengutip umpatan-umpatan harfiah yang terlontar dari mulut-mulut tak terjaga para wakil rakyat dan fungsionaris negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti gerbang kehidupan, mulut memang seharusnya terjaga agar tak menimbulkan masalah dan bencana karena faktanya mulut memang punya posisi dan peran strategis dalam kehidupan. Nalarnya, tanpa mulut orang tak mungkin hidup (layak), dengan mulut orang bisa hidup tak layak. Itu rewelnya orang punya mulut. Anehnya begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya 9 lubang di seantero tubuh luarnya, 7 di bagian kepala, sisanya ada di bagian tubuh lainnya. Dari 7 lubang di bagian kepala itu, 5 ada di depan dan 2 ada di samping. Tak ada lubang sama sekali di bagian atas dan belakang kepala. Tak ada yang tahu mengapa demikian. Sama tak tahunya kita mengapa lubang-lubang itu berjumlah 9 buah, bukan 10 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI kesembilan lubang (silakan hitung sendiri!), lubang mulut agaknya adalah yang paling penting, paling fungsional, dan paling efektif. Padahal dibanding dengan lidah, bibir, langit-langit, gigi, dan gusi, mulut itu abstrak saja adanya. Wujudnya hanya rongga kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang yang tak bisa diraba dan dirasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, ukuran diametrik mulut adalah yang terbesar di antara kesembilan lubang-lubang organik yang dapat kita kenali. Tak percaya? Silakan ukur sendiri. Mulut itu lebar, panjang, dan dalam, lebih dari samudra kata orang Minang. Mulut orang punya daya telan (put in) dan daya muntah (out put) yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut adalah gerbang dunia, kata pepatah. Lewat gerbang dunia inilah benda-benda dan zat hilir-mudik keluar-masuk. Kadang tak terukur dan tak terkontrol. Dalam banyak mitologi diceritakan, mulut menelan Rembulan, Matahari, dan Bumi. Bahkan menelan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiasan dongeng masa lalu itu biasnya masih tersirat hingga hari ini. Mulut para koruptor dan benalu negara tidak hanya menelan nasi dan roti rakyat dalam jumlah tak terbilang, tetapi juga gedung, jalan tol, pesawat udara, hutan, sungai, laut, dan gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut koruptor menelan semua benda dan zat hidup yang menjadi hajat orang banyak. Panjang jalan bisa diukur, panjang mulut (koruptor) tak bisa diduga, kata orang. Padahal mulut yang dibilang abstrak itu pada dasarnya-sebagaimana selang plastik-hanyalah alat. Alat atau medium penghantar keluar-masuk materi untuk banyak kepentingan dan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ceritera wayang, mulut diklasifikasi dalam berbagai bentuk kode-kode figuratif menurut sifat, watak, temperamen, dan perilaku penyandangnya. Ada mulut kasar, mulut lancang, mulut retorik, mulut culas, mulut lugu, mulut cengengesan, dan seribu mulut stereotip lainnya. Tak ada dua mulut yang sama di setiap kepala orang. Semua tergantung dari watak, perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan bagaimana mulut itu difungsikan oleh pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mulut politik, mulut pejabat, mulut polisi, mulut maling, mulut jaksa, mulut pokrol, pedagang, wartawan, seniman, ulama, dan sebagainya. Semua mulut berbeda. Tak mungkin menyamaratakan mulut- mulut. Mulut pejabat tentulah lain dari mulut pencuri. Mulut politisi lain dari mulut pembohong. Tak baik menyamakan mulut jaksa dengan mulut calo, mulut hakim dengan mulut pedagang. Sama tak arifnya menyamakan mulut ulama dengan mulut sales promotor atau mulut penguasa dengan mulut buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyamaratakan semua mulut orang (mulut demokrasi?) adalah tindakan sembrono dan tak bertanggung jawab karena yang paling penting adalah bukan mulut apa dan mulut siapa, tetapi bagaimana mulut itu dipakai. Maka, hati-hatilah dengan mulut yang ada di bagian depan kepala Anda. Apalagi kalau Anda itu pejabat publik atau anggota parlemen. Sing cerdas-cerdas bae lah, kata orang Banyumas!*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Asal Usul, Kompas, 6 Maret 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111062943138201812?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111062943138201812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111062943138201812' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111062943138201812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111062943138201812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/05/mulut.html' title='Mulut'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111295604757797631</id><published>2005-04-08T03:24:00.000-07:00</published><updated>2005-04-08T03:29:59.610-07:00</updated><title type='text'>Revita, Kisah Seorang Bidan Desa</title><content type='html'>REVITA mungkin tak kenal dengan Srikanti. Memang keduanya hidup di zaman yang berbeda. Kini, Srikanti sudah tiada, sedangkan Revita masih mengabdi. Keduanya amat mencintai profesi dan sama-sama punya dedikasi untuk membantu masyarakat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas siapa Srikanti dan apa hubungan keduanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikanti adalah bidan keluarga Bung Karno yang menolong kelahiran putra-putri presiden pertama RI itu. Separuh hidup Sri dipakai untuk mengabdikan diri kepada keluarga Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan Revita, 29 tahun. Wanita asal Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar ini sudah pasti bukan Srikanti. Akan tetapi, dia sangat dekat dengan warga desa setempat yang membutuhkan pertolongannya. Seperti amat dekatnya Srikanti dengan keluarga proklamator itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Revita barangkali lebih dramatis lagi. Perjuangannya tidak ringan. Bagaimana tidak, tatkala tsunami menghancurkan desanya yang berada di bibir Selat Malaka, dia sedang hamil tua. Saat itu pula dia wajib menolong warga yang butuh pengobatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk kebutuhan obat saya suruh warga mengutip di toko saya yang sudah hancur berserak,” katanya ditanya Waspada, 98 hari pasca musibah tsunami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revita tidak sendiri. Sedikitnya ada enam wanita lain yang berbadan dua. Hanya menunggu waktu bersalin saja. Sementara di sana cuma ada dua bidan. Dia dan satu lagi Noviyanti, adik kandungnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pamrih, dia bekerja seadanya. Tak ada klinik, konon lagi tempat praktek yang memadai. Apalagi saat itu, ratusan warga Lamreh yang selamat dari tsunami mengungsi ke atas gunung. Ada empat gunung yang dijadikan lokasi pengungsian, Bukit Soeharto, Gunung Malahayati, Tanoh Mirah dan Ujong Lancang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revita dan keluarga mengungsi ke Gunung Malahayati. Malahayati adalah nama seorang wanita janda (Inong Bale) yang menjadi panglima laut pertama di dunia pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tak jauh dari kuburan admiral terkenal itu dia melahirkan akan keduanya. “Jauhnya ratusan meter dari kuburan Malahayati. Di sini kuburan beliau, saya ke naik ke atas lagi. Di situ saya melahirkan,” ceritanya sambil memperagakan pakai tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya, kata dia, tepat 10 hari setelah musibah tsunami menghancurkan Nanggroe Aceh Darussalam. Saat itu, 4 Januari 2005. Sekira pukul 9.30 Wib malam, di bawah sebuah tenda, dia melahirkan adik perempuan buat Askal Fata 4,5 tahun. Anak kedua itu diberi nama Zakira Malahayati.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setalah Zakira lahir, beberapa hari kemudian Revita harus menolong wanita lain melahirkan. Persalinan itu dia lakukan di bawah tenda yang semuanya berada di atas perbukitan. “Waktu mengeluarkan bayi pun harus pakai lampu teplok,” ujar Revita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa mendapat bayaran? Mengenai yang satu ini, dia terkadang tak kuasa mengutarakannya. Dia seringkali menolak bayaran dari warga yang tidak mampu. Apalagi ketika musibah itu menerjang, nyaris tak lagi warga ada yang berkantong tebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ikhlaskan saja,” ujarnya lirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan itu tak selamanya membuat dia senang. Kadang-kadang, Revita sempat putus asa juga. Apalagi jika mengingat dirinya cuma seorang bidan desa yang berstatus pegawai tidak tetap. “Saya sudah delapan tahun menjadi bidan,” ujar wanita kelahiraan 10 Agustus 1976 ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewindu memang bukan waktu singkat, terasa amat panjang. Sepanjang harapan Revita yang ingin menjadi pegawai negeri di Dinas Kesehatan setempat. “Sudah delapan kali saya ikut tes, nggak lulus juga,” tuturnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dia amat sedih, ketika membaca daftar nama-nama mereka yang lulus PNS di sebuah koran akhir bulan lalu. “Sedih sekali, saya sudah lama mengimpikan itu, tapi nggak dapat juga,” ujarnya yang dengan seketika bermata sembab. Bulir bening pun menetes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat itu, Revita uring-uringan. Bahkan sempat terlintas dibenaknya untuk berhenti menjadi bidan. Sampai-sampai sang suami, Saufin Har, 31, turun tangan. “Kalau tidak ingin membantu, sebaiknya dari dulu, bukan berhenti sekarang saat warga membutuhkan,” ungkap Ravita menirukan ucapan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu kembali melecut semangat Revita. Akhirnya dia cuma bisa tabah dan hanya mengharap pahala dari Allah. Pun demikian, dia amat menyayangkan sikap instansi terkait yang bagaikan tak peduli dengan kesehatan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tak ada bantuan yang diberikan, dokter di puskesmas setempat pun menghilang saat dibutuhkan warga, terutama beberapa hari pasca tsunami. Begitu pula dengan bidan tetap, malah tak menginap di desa tempat tugasnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati warga, selama ini dia mendapat bantuan obat-obatan dari Unicef, termasuk tenda tempat dia merawat banyak pasien. “Semua warga yang butuh bantuan lari ke Kak Ita. Biarpun tengah malam dia mau membantu kami,” ujar Saifullah seorang warga Lamreh kepada Waspada di tempat terpisah.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah warga menilai sosok Revita. Ternyata balada bidan desa yang tinggal 35 km dari Banda Aceh itu belum berakhir. Sama seperti belum berakhirnya harapan dia untuk menjadi seorang pegawai, konon lagi menjadi seperti Srikanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikanti pernah menjadi "Bidan Teladan Nasional Tahun 1991". Wanita yang dilahirkan di Majenang Kulon, Kediri 7 Januari 1928 tersebut dikenal sebagai bidan kesayangan Bung Karno. Dia meninggal Selasa 4 Mei 2004 sekira pukul 9.30 Wib dalam usia 76 tahun. &lt;br /&gt;Revita tidak berharap menjadi bidan teladan, apalagi bidan kepresidenan. Anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan Alm Muhammad Ibrahim dan Rohani ini cuma ingin menjadi bidan kesayangan warga Lamreh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, wanita sederhana lulusan Bidan C Kesdam Bukit Barisan itu tak punya hasrat yang muluk-muluk dan tak berharap seperti Srikanti. Atau mungkin karena Revita sadar, sebab Srikanti hidup di era Soekarno, sedangkan dirinya di masa tsunami. Benarkah, Entahlah! [Munawardi Ismail]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111295604757797631?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111295604757797631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111295604757797631' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111295604757797631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111295604757797631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/04/revita-kisah-seorang-bidan-desa.html' title='Revita, Kisah Seorang Bidan Desa'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111261334348717071</id><published>2005-04-04T04:07:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:42:41.293-07:00</updated><title type='text'>Meski Kaki Diamputasi, Tara Tetap Sekolah</title><content type='html'>&lt;em&gt;Here is something to remember us onboard USNS Mercy&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEPENGGAL&lt;/strong&gt; kalimat itu terus dieja Tara Aulia. Meski dia sendiri tak tahu paham maknanya. Kini, bocah berusia 8 tahun itu terpaksa bersahabat dengan dua tongkat setelah kaki kanannya diamputasi. Lalu, apa hubungannya antara Tara dengan USNS Mercy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih ingat wajah pemilik tulisan itu, Windsor Z. Solar. Dialah yang merawatnya selama di rumah sakit terapung Amerika Serikat yang lepas jangkar di Selat Malaka. Kalimat tersebut ditulis Solar khusus untuk Tara pada 13 Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pesan terakhir, Tara yang mendapat perawatan selama 18 hari di sana mengaku senang. Dia amat bersahabat dengan Solar yang selalu merawatnya. “Kami juga foto bersama,” kata anak pertama pasangan Sulaiman dan Juliawati ini kepada Waspada, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas foto itulah, Solar menulis, “To: Tara, &lt;em&gt;Here is something to remember us onboard USNS Mercy&lt;/em&gt; by Windsor Z. Solar, ABFC (AW/SW) USNS Mercy (DAH-19)”. Foto tersebut adalah satu dari belasan gambar lainnya yang masih disimpan sebagai kenang-kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri semata wayang Sulaiman ini praktis tak bisa melupakan orang-orang yang menolong dia, termasuk Solar. Pun demikian dia tak membuat dia terus bermuram durja. Apalagi kini dia hidup tak normal, setelah pembengkakan di kaki kanannya pasca tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelumnya, kaki dia tak apa-apa. Namun akibat pembengkakan terus menerus, akhirnya diamputasi. Sudah dua kali diamputasi,” cerita Sulaiman yang disambut senyum getir Tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tiga bulan lalu itu, masih terkenang dibenak siswi Kelas 2 SD Negeri Unoe, Kecamatan Geulumpang Baro, Kab Pidie ini. “Watee bengoh nyan lon teungoh meuen-meuen, waktu kejadian pagi itu, saya lagi main-main,” katanya menceritakan tragedi Minggu 26 Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tara adalah satu dari ratusan korban tsunami yang menderita cacat. Kehilangan kaki, tak membuat langganan juara kelas ini patah hati. Meski dibantu dua tongkat, Tara sebisa mungkin ingin mandiri, termasuk dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat belajar Tara didukung ayahnya. Karena itu bantuan yang baru dia dapatkan akan dimanfaatkan untuk masa depan anaknya. “Dia termasuk anak pinter, di sekolah selalu juara,” kata Sulaiman, ayah Tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma di sekolah, dalam mengaji pun, dengan cepat bisa dia pahami. “Kalau ngaji, sekali kita ajarkan langsung bisa,” timpal nenek Tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pinter, anak ini juga ingin membiasakan hidup mandiri. Dia tak ingin dibantu orang lain, kecuali jika dia sudah tak mampu. Padahal, bocah seusia dia lazimnya masih ingin bermanja-manja. Manja, nampaknya bukan milik Tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan itu nampak terlihat pada diri si hitam manis itu. Dengan dibantu dua tongkat, Tara melangkah ke tempat duduknya. Hanya saat hendak duduk dia minta dipapah sang ayah. “Saya masih ingin sekolah,” ujarnya singkat seusai menerima bantuan pendidikan dari Persatuan Penyandang Cacat Indonesia, di Aula SMK Banda Aceh, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain, Tara ada sedikitnya 35 penyandang cacat lainnya yang menerima bantuan serupa. Mulai dari korban tsunami hingga mereka yang cacat sejak lahir. “Kita membantu bukan cuma kepada korban tsunami, tapi penderita cacat lain juga,” kata Herman, fasilitator PPCI di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya, untuk tahap pertama ini mereka baru bisa mengumpulkan 35 penyandang cacat dari Aceh Jaya, Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan Lhokseumawe. Dia berharap, bantuan yang diberikan PPCI pusat itu hendaknya bukan yang pertama atau sekaligus terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua PPCI pusat, Siswadi dalam sambutan singkatnya menyebutkan sudah jamak dipahami publik seakan-akan orang cacat harus menjadi miskin, begitu pula sebaliknya. “Padahal Allah tidak membedakan antara cacat atau tidak. Yang beda adalah amal ibadahnya,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, lanjut pria yang juga cacat tangan kirinya ini, solusi masalah tersebut adalah pendidikan. Dengan ilmu pengetahuan, mereka bisa berjuang hidup mandiri. “Kita akan perjuangkan supaya adek-adek ini mandiri,” ujar Siswadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, PPCI menyerahkan santunan pendidikan sebesar Rp2.5 juta per orang. Kepada Dinas Sosial, Siswadi mengatakan seyogyanya penyandang cacat itu diprioritaskan mendapat bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Imam CH dari Depsos Pusat mengatakan penyandang cacat juga punya hak yang sama. Namun pada intinya, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dia juga minta kepada instansi terkait di Aceh untuk memperhatikan para penyandang cacat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan yang diberikan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan pendidikan. Ini mengingatkan kita pada sebuah pesan tersirat dari group musik &lt;em&gt;Seurioes&lt;/em&gt;, rocker juga manusia. Begitu pula dengan penyandang cacat. Mereka juga butuh sekolah. [&lt;strong&gt;Munawardi Ismail&lt;/strong&gt;]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111261334348717071?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111261334348717071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111261334348717071' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111261334348717071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111261334348717071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/04/meski-kaki-diamputasi-tara-tetap.html' title='Meski Kaki Diamputasi, Tara Tetap Sekolah'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111243777648030390</id><published>2005-04-02T02:24:00.000-08:00</published><updated>2005-04-04T04:24:29.986-07:00</updated><title type='text'>Panik Pascgempa</title><content type='html'>&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/blog2.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111243777648030390?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111243777648030390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111243777648030390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111243777648030390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111243777648030390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/04/panik-pascgempa.html' title='Panik Pascgempa'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111243718531117150</id><published>2005-04-02T02:11:00.000-08:00</published><updated>2005-04-04T04:44:58.276-07:00</updated><title type='text'>Antara Dante’s Peak Dan Gempa Aceh</title><content type='html'>DUA jembatan layang di kota kecil Dante seketika ambruk, hampir bersamaaan dengan gunung berapi di kota itu yang “batuk-batuk”. Lusinan mobil yang sedang melintas segera mencium tanah. Dari puncak gunung, kepulan asap hitam meninju langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getarannya merobek bangunan megah. Kepanikan melanda kota yang dipimpin seorang wanita ini. Dalam suasana panik, Walikota Dante, Rachel Wando dan pakar vulkanologi, Harry Dalton sedang berusaha menenangkan warga yang berlarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si walikota malah teringat dua anaknya Graham dan Lauren. Dua bocah itu tak ada lagi di rumahnya. Dengan menyetir mobil, Graham menerobos badai lahar yang dimuntahkan Gunung Dante. Mereka berniat menyelamatkan neneknya yang bermukim di kaki gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meletusnya gunung tersebut, Dalton sudah mencium tanda-tanda adanya kemungkinan Gunung Dante meledak. Kepada walikota dia sudah meminta anggota legislatif setempat untuk membicarakan pengungsian. Usul itu ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan didapat bukti kuat bahwa gunung yang tidak aktif selama ratusan tahun itu akan meletus dan laharnya menyapu kota kecil di bawahnya. Warga hanya mempunyai waktu terbatas untuk mengungsi sebelum Dante meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat mengungsikan warga, puncak Dante pun meletup. Wando kalut, apalagi ketika tidak mendapatkan anaknya di rumah. Yang ada cuma selembar pesan. Lalu dengan dibantu Dalton, dia segera menyusul si anak ke kaki gunung. Dengan susah payah mereka menerobos muntahan lahar yang menghancurkan kota wisata ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sebagian kisah kehancuran kota Dante yang dikutip dari film &lt;em&gt;Dante’s Peak&lt;/em&gt; yang ditayangkan Indosiar, Senin (28/3) malam. Saat itu, goncangannya terus menghancurkan Dante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum usai menyaksikan muntahan larva yang masuk kota Dante, pukul 23.09, warga Banda Aceh dan sekitarnya merasakan getaran serupa. Kini, bukan ekses dari meletusnya gunung dalam film yang dibintangi Pierce Brosnan dan Linda Hamilton, diliris pada 1997 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotak ajaib yang sedang menanyangkan film besutan sutradara Roger Donalson&lt;br /&gt;itu memang bergetar. “Ini benar gempa,” ujar seorang warga Lambuk, kemarin malam seakan tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, tak lama kemudian, bangunan menderit. Tanah bergetar. Pepohonan bergoyang kencang, namun bukan diterpa angin badai. Dalam hitungan menit ribuan warga &lt;em&gt;Serambi Makkah&lt;/em&gt; sudah berhamburan ke luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpakaian seadanya. Tanpa menunggu getaran susulan, warga yang sudah trauma bergegas ke luar dari kota. Ada yang berjalan kaki, pakai beca mesin serta mengendarai apasaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatnya cuma satu, semua ingin menjauh dari kawasan yang pada 26 Desember lalu dihempas tsunami. Tujuannya Lambaro, Jantho, Mata Ie dan Blang Bintang. Kawasan ini memang luput dari gelombang tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa semalam berpusat di sebelah barat Pulau Sumatra berkekuatan 8,7 Skala Richter. Bukan hanya di Aceh, gempa tersebut dirasakan juga di Thailand, selain Medan, Padang, Jambi dan Pekan Baru. Nias dilaporkan mengalami kerusakan paling parah, banyak rumah rata dengan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa itu mengingatkan warga pada peristiwa tiga bulan lalu. “Pokoknya kita pergi dulu dari Banda Aceh. Kalau nanti air nggak naik, kita balik lagi ke rumah,” ujar Jakfar, warga Beurawe kepada &lt;em&gt;Waspada&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga sudah mempunyai “pengalaman” dengan tsunami Desember lalu. Karena itu, tanpa menunggu perintah mengungsi seperti dilakukan Brosnan dalam filmnya, mereka langsung angkat kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jakfar, karena sudah trauma dengan tsunami yang menelan korban 200 ribu lebih pada Desember, maka dia memilih mengungsi. “Apalagi gempa yang kita rasakan tadi malam, hampir setara dengan 25 Desember,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalutan bukan saja dirasakan ayah dua putri ini. Semua warga membicarakan hal yang sama. “&lt;em&gt;Ho kaplueng kah beuklam&lt;/em&gt;? (ke mana kamu lari tadi malam?),” tanya seorang pria berseragam pegawai kepada temannya saat bertemu di kantor bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke Blang Bintang,” jawab orang yang ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blang Bintang yang jaraknya sekira 15 km dari Banda Aceh memang menjadi pilihan untuk warga menghindari dari gulungan tsunami. Pada akhir tahun daerah ini memang dipadati para pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada di antara pengungsi enggan menempati barak yang sudah direlokasi. Mereka lebih memilih menempati tenda-tenda seadanya ke kampung masing-masing. Warga beralasan karena jauh dari tempat mereka mencari rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasir, seorang warga Asoe Nanggroe, Kecamatan Meuraxa mengakui mereka di tempatkan di Jantho, Aceh Besar. “Karena jauh dengan tempat kami bekerja, saya nggak mau tinggal di sana,” jawab dia beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku masih trauma, apalagi dengan kejadian gempa Senin malam, namun tak ada pilihan lain. Nasir mengaku pasrah termasuk jika terjadi tsunami seusai gempa yang berpusat di kawasan kepulauan Nias itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke manapun pergi, kalau sudah ajal, pasti akan mati,” ujarnya. [&lt;strong&gt;Munawardi Ismail&lt;/strong&gt;]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111243718531117150?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111243718531117150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111243718531117150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111243718531117150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111243718531117150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/04/antara-dantes-peak-dan-gempa-aceh.html' title='Antara Dante’s Peak Dan Gempa Aceh'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111071680487744935</id><published>2005-03-25T04:25:00.000-08:00</published><updated>2005-03-25T05:40:44.183-08:00</updated><title type='text'>Makam Endatu</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/MakamIM.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Makam Iskandar Muda, Raja Kerajaan Acheh Darussalam yang termanshur itu. Di sinilah rajaku beristirahat.&lt;br /&gt;[Photo Mounaward D. Ismail]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111071680487744935?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111071680487744935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111071680487744935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111071680487744935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111071680487744935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/makam-endatu.html' title='Makam Endatu'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111124674858904618</id><published>2005-03-19T07:33:00.000-08:00</published><updated>2005-03-19T07:39:08.593-08:00</updated><title type='text'>Wartawan Tsunami Kongkow di Shantou [2]</title><content type='html'>Reporter: Dandhy DL – Shantou, China, 2005-03-19 11:31:49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, selain di Aceh, wartawan &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; juga menemukan kasus di mana para korban tsunami dari pihak Tamil mendapat perlakuan diskriminatif dalam hal penerimaan bantuan oleh pemerintah dan militer Sri Lanka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, Abdoolcarim mengakui, kasus-kasus tersebut tidak diliput secara khusus. Menurutnya, yang akan dilakukan &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; adalah mengawal nasib para korban tsunami seperti yang dilakukannya dengan menampilkan empat foto perempuan Aceh yang berdiri di depan puing-puing rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah foto-foto perempuan Aceh yang selamat kendati sempat terseret arus. Keempat-empatnya telah kehilangan rumah. Kami mencatat identitas dan keberadaan mereka. Satu tahun lagi, tepat setahun peringatan tsunami, kami akan kembali dan mengontak mereka. Dan kami akan beritakan bagaimana nasib mereka setelah setahun. Apakah nasib mereka berubah, tetap seperti ini, atau lebih buruk,” tandas Abdoolcarim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agenda Liputan pasca-Tsunami&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di luar agenda jurnalisme gaya &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; tadi, menurut Profesor Jun Oguro dari Universitas Ryukoku, Jepang, tak banyak media yang dapat merumuskan sasaran liputannya dengan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga diakuinya menimpa media-media di Jepang yang meliput tsunami. Oguro yang didaulat berbicara dalam sesi yang sama bersama &lt;em&gt;acehkita&lt;/em&gt; bahkan menyimpulkan, dari 120 surat kabar yang terbit di Jepang, dengan oplah yang mencapai 53 juta eksemplar per hari, koran Jepang tak bisa berbuat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Koran di Jepang memang melaporkan buruknya tsunami. Tetapi mereka tidak melaporkan apa yang seharusnya mereka laporkan,” cecar Oguro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut profesor ini, ada lima jenis berita yang dilaporkan koran-koran Jepang sepanjang topik tsunami. Pertama, tentang gambaran situasi selama tsunami. Para wartawan Jepang melaporkan mengambil sumber kantor berita asing dan gambar-gambar stasiun televisi lokal yang serta memuat pernyataan resmi sebagai sumber berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebagaimana halnya media di China, koran di Jepang memfokuskan liputan pada nasib turis Jepang yang jadi korban. Mereka mendapat informasi ini dari &lt;em&gt;tourist agency&lt;/em&gt; dan kedutaan besar Jepang di negara-negara yang terkena tsunami, serta mengutip keterangan-keterangan dari Departemen Luar Negeri di Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara topik ketiga yang banyak diliput adalah situasi detail yang terjadi di lokasi bencana di mana sejumlah wartawan Jepang juga melaporkan langsung dari area tsunami seperti Phuket, Sri Lanka atau Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik keempat adalah analisis ilmiah tentang mengapa bencana ini terjadi. Untuk urusan yang satu ini, menurut Profesor Oguro, jurnalisme Jepang terhitung kawakan. Sebab, selain karena nama tsunami berasal dari Jepang, media massa Jepang juga memiliki kewajiban menulis berita tentang gempa bumi, sekecil apapun skalanya. “Mereka harus menulis setiap gampa bumi walaupun kecil, karena ini penting bagi warga masyarakat,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, Jepang sendiri menjadi “langganan” tsunami sejak 1896 di mana 22.000 orang tewas. Disusul bencana tahun 1923 yang menewaskan hingga 105.000 jiwa dan di tahun 1995 dengan jumlah korban tercatat 6.433 orang yang terjadi di Kobe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara topik kelima yang paling sering diangkat dalam pemberitaan koran Jepang adalah bantuan untuk negara-negara yang terkena tsunami dari PBB, Palang Merah Internasional dan organisasi non-pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu, bagi Profesof Oguro, apa yang dilakukan para wartawan Jepang itu tidak cukup. Di mata Oguro, jurnalis di Jepang telah gagal menjalankan perannya sebagai &lt;em&gt;watchdog&lt;/em&gt; “untuk mengecek kekuasaan pemerintah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oguro menilai, wartawan Jepang seharusnya mencari tahu, apa yang telah dilakukan pemerintah Jepang sebelum dan sesudah terjadi tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari amatan saya tehadap editorial di media, tidak ada topik tentang sistem peringatan dini. Jepang ternyata tidak punya informasi dan sumber daya manusia untuk melakukan itu dan membantu dunia,” serga Oguro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada koran yang bilang Pemerintah Jepang sudah bagus. Tapi mereka tidak menginformasikan poin penting di mana. Apa yang pemerintah Jepang lakukan sebelum tsunami? Ini tidak dipersoalkan media. Bila pemerintah Jepang tidak lakukan apa-apa, mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati isinya pedas, profesor yang terlihat muda usia ini tetap berbicara dengan tenang. Pun ketika dia mencecar wartawannya sendiri dengan kesimpulan, “Pemerintah Jepang harus didesak agar membuat &lt;em&gt;global warning system&lt;/em&gt;. Tapi koran Jepang tidak lakukan itu. Maka, kesimpulan saya adalah “koran Jepang melaporkan buruknya tsunami, tapi mereka tidak melaporkan apa yang seharusnya mereka laporkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Delapan Topik dan Agenda Liputan di Aceh&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sementara itu, dalam forum yang bertajuk &lt;em&gt;Journalist Covering Disaster&lt;/em&gt; (Wartawan Meliput Bencana) ini, &lt;em&gt;acehkita&lt;/em&gt; memaparkan delapan topik liputan di Aceh selama proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca-tsunami serta agenda liputan yang perlu dilakukan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan topik tersebut adalah: (1) masih terjadinya kontak senjata yang mempengaruhi proses penanggulangan bencana, (2) kasus-kasus kekerasan terhadap warga sipil, khususnya korban tsunami, (3) rencana relokasi dan penolakan warga, (4) potensi sengketa tanah dan kehilangan hak milik atas tanah, (5) kontroversi kehadiran pihak-pihak asing di Aceh, (6) polemik seputar pengaturan tata ruang dan penyusunan &lt;em&gt;master plan&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;blue print&lt;/em&gt;, (7) kondisi kehidupan sehari-hari para korban tsunami yang berstatus pengungsi, dan (8) transparansi penyaluran dana bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati sejumlah wartawan China dan Hongkong mengaku tidak dapat ikut “mengawal” agenda liputan itu, kecuali oleh media di Indonesia sendiri, namun mereka mengaku akan memasukkannya sebagai bagian dari &lt;em&gt;editorial policy&lt;/em&gt; dalam memberitakan tsunami, khususnya di Indonesia dan Sri Lanka yang memiliki pola yang sama, yakni, masih terjadinya konflik bersenjata di tengah bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Infrastruktur Indonesia Payah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut para wartawan China dan Hongkong, selain faktor batasan dari pemerintah dan militer, kondisi liputan di Aceh dipersulit dengan masalah infrstruktur telekomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Thailand, karena kondisi ekonominya bagus, kami bisa meliput dengan fasilitas telekomunikasi yang baik. Sementara di Indonesia dan Sri Lanka tidak,” sindir Rose Liqui, kepala reporter &lt;em&gt;Phoenix TV&lt;/em&gt; yang berpusat di Hongkong tapi bekerja di biro mereka di Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan yang sama juga diungkap Abdoolcarim. Menurutnya, seperti halnya di Aceh, di hari-hari pertama bencana di India, para reporter &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; harus mondar-mandir dari medan liputan di pesisir selatan ke Madras yang berjarak seratusan kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thailand (fasilitas telekomunikasinya) bagus, tetapi India, Sri Lanka dan Indonesia, sangat merepotkan,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, bagi &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt;, Aceh dipilih sebagai fokus karena menderita kehilangan paling besar, kendati secara personal mereka mengakui lebih terpukul melihat kerusakan di Pukhet, Thailand. Maklum, para wartawan yang telah mapan secara ekonomi ini lebih banyak menghabiskan waktu liburannya di Pukhet daripada Sabang, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kami pernah tahu bagaimana Pukhet, maka ketika melihat kerusakan seperti itu, secara pribadi, kami lebih terpukul daripada melihat Aceh atau Sri Lanka. Tetapi, bagaimana pun juga, Aceh menderita lebih besar. Karena itu, mengapa kami fokuskan liputan ke sana,” papar Abdoolcarim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pekan-pekan pertama setelah bencana, kantor PT Telkom tempat wartawan televisi biasa mengirim gambar melalui satelit memang tak beroperasi. Tetapi sejatinya bukan rusaknya fasilitas telekomunikasi akibat bencana yang mereka keluhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mau buktinya?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“Jangankah di Aceh atau Medan, di Jakarta pun internet lambatnya bukan main,” kata Hu Jun Li dari &lt;em&gt;Southern Weekend&lt;/em&gt; sembari nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Shantou akses internet juga lambat kendati tertulis 100 mbps (&lt;em&gt;megabyte&lt;/em&gt; per detik),” balas &lt;em&gt;acehkita&lt;/em&gt; mencoba bersikap “nasionalis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tetapi kan di sini para wartawan tidak sedang butuh untuk meliput bencana dan mengejar &lt;em&gt;deadline&lt;/em&gt;,” tangkisnya. “Lagipula, internet di sini gratis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Skakmat&lt;/em&gt;! [tamat]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111124674858904618?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111124674858904618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111124674858904618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111124674858904618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111124674858904618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/wartawan-tsunami-kongkow-di-shantou-2.html' title='Wartawan Tsunami Kongkow di Shantou [2]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111124635332763941</id><published>2005-03-19T07:22:00.000-08:00</published><updated>2005-03-19T07:33:09.176-08:00</updated><title type='text'>Wartawan Tsunami Kongkow di Shantou [1]</title><content type='html'>Reporter: Dandhy DL – Shantou, China, 2005-03-19 10:26:58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zoher Abdoolcarim sedang dalam perjalanan pulang ke Hongkong setelah menikmati libur Natal dan akhir pekan bersama keluarga. Editor Senior majalah &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; ini santai saja memacu mobilnya ketika tiba-tiba teleponnya berdering sekitar pukul 11.00 waktu setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Minggu, 26 Desember 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam sebelumnya, sebuah gempa dahsyat berskala 8,9 richter yang berepisentrum di Samudera Indonesia telah mengirim gelombang tsunami ke pantai-pantai berpenduduk padat di Aceh, Sri Lanka, Thailand dan India yang menewaskan lebih dari 250.000 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi informasi itu terlalu mewah untuk wartawan sekelas Abdoolcarim sekalipun. Di jam itu, yang dia terima hanyalah informasi adanya tsunami yang menewaskan ratusan orang di Sri Lanka. Pun demikian, Abdoolcarim mulai gemetar ketika salah seorang editornya yang tengah berlibur di Pukhet, Thailand, mengabarkan situasi yang tak kalah buruknya. Pukhet adalah kawasan wisata pintai tersohor yang juga dihantam tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mantan Editor Eksekutif majalah &lt;em&gt;Asiaweek&lt;/em&gt; ini masih belum memutuskan apa-apa. Majalah mingguannya, &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; edisi Asia yang beroplah 350.000 eksemplar, baru saja terbit hari Sabtu. Tak ada yang bisa dia lakukan di hari Minggu itu, pun bila benar korbannya mencapai ratusan orang dan terjadi di dua negara sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdoolcarim terlonjak ketika jam 13.00, dia mengetahui korban sudah menembus angka 10.000 orang di Sri Lanka, dan gelombang pasang itu juga “menyenggol” India dan Aceh. Dia lantas menghubungi markas &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; di New York untuk mendiskusikan kemungkinan penerbitan edisi khusus, bersamaan dengan diberangkatkannya wartawan ke Sri Lanka pada hari Minggu sore. Disusul tambahan wartawan ke Madras, India, dan Thailand keesokan harinya. Aceh sendiri baru dapat dimasuki &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; pada hari Selasa, 28 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total wartawan yang dikerahkan markas TIME di Hongkong untuk meliput tsunami di Asia mencapai 15 orang dan 6 fotografer. Menurut Abdoolcarim, dari 21 orang jurnalis yang dikirimnya ke garis depan bencana, yang kebagian Aceh mengalami guncangan batin lebih serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wartawan kami sudah berpengalaman meliput perang di Afghanistan atau Irak. Tapi mereka yang saya kirim ke Aceh, &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; melihat tragedi ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cara Abdoolcarim berbagi pengalaman mengendalikan ruang redaksi (&lt;em&gt;newsroom&lt;/em&gt;) di masa bencana. Tak hanya Abdoolcarim, sejumlah wartawan, editor dan pemimpin redaksi dari beberapa media di Asia membagi kisah-kisah serupa antara 17-20 Maret 2005. Ajang &lt;em&gt;kongkow&lt;/em&gt; yang difasilitasi Cheung Kong School of Journalism and Communication, Universitas Shantou ini memang disediakan bagi mereka yang meliput dan mengatur liputan tentang tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar yang hadir adalah wartawan-wartawan daratan (&lt;em&gt;mainland&lt;/em&gt;) China dan Hongkong. Media-media berpengaruh China seperti &lt;em&gt;Beijing Times&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sanlian Lifeweek, China Newsweek atau CCTV, dan Phoenix TV&lt;/em&gt; yang berbasis di Hongkong, berbagi “heroisme” dan merumuskan agenda liputan yang tepat di masa depan terhadap bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China sendiri tak tersentuh tsunami. Wartawan-wartawan China yang dikirim ke lokasi bencana, termasuk Aceh, rata-rata mengaku memfokuskan liputannya pada nasib warga China perantauan untuk diwartakan kepada khalayak pembacanya. Di Aceh misalnya, menurut Radio Nederlan, tercatat sedikitnya 6.800 etnis Tionghoa mengungsi ke Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tahu banyak warga China perantauan di negara-negara yang terkena tsunami, termasuk Indonesia. Dan pembaca kami di sini ingin mengetahui bagaimana nasib mereka. Termasuk yang di Aceh,” kata Liu Jun dari &lt;em&gt;Beijing Times&lt;/em&gt; yang disebut-sebut sebagai wartawan China pertama yang meliput di lokasi bencana. Dan lokasi pertama yang disambanginya adalah Pukhet karena banyak turis asal China di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Liu, rata-rata, wartawan China daratan yang hadir dalam acara yang juga disponsori oleh Journalism and Media Studies Center, Universitas Hongkong itu, pernah datang ke Aceh. Seperti Chan Shi dari &lt;em&gt;Shoutern&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Metropolitan Daily&lt;/em&gt;, Wu Qi dari Sanlian &lt;em&gt;Lifeweek&lt;/em&gt; dan Zhu Yuchen dari China &lt;em&gt;Newsweek&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, menurut Liu Jun, kendati dalam situasi bencana, tak mudah mendapatkan visa masuk ke Indonesia dari Kedutaan Indonesia di China. “Susah dapat visa ke Indonesia. Bisa-bisa dua minggu dan bencana sudah lewat,” keluh Liu dalam bahasa China yang diterjemahkan ke Inggris melalui jasa interpreter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, bila sebagian wartawan China baru bisa masuk Indonesia bersamaan dengan digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Tsunami, 6 Januari atau 11 hari setelah bencana. Itupun, menurut beberapa wartawan, karena mereka menggunakan fasilitas rombongan pejabat-pejabat China yang menghadiri KTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran pula, gara-gara merasa tanggung dan ketinggalan dengan wartawan lain, sebagian dari mereka memilih meliput tsunami dari Jakarta saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang Jianguang, editor China &lt;em&gt;Newsweek&lt;/em&gt;, misalnya, tak turun ke Aceh. Dia mengakui, untuk jenis informasi lapangan, dia hanya meliput dari kamar hotel dengan cara membeli koran Indonesia sebanyak mungkin yang lalu diterjemahkan dan dirangkum. Selebihnya, dia meliput kebijakan-kebijakan pemerintah Jakarta, bantuan internasional dan kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tentu saja, tak ketinggalan, upaya pemerintah China dalam membantu penanganan tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada juga yang keluar masuk Aceh sampai dua kali, seperti Hu Jun Li, dari Shouthern Weekend yang berbasis di Beijing. Selama di Aceh, Hu yang lumayan fasih bahasa Inggris ini menginap di Hotel Medan, di kawasan Rex, Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengenali foto Anda, di mana ada kapal besar yang terbawa gelombang sampai di depan hotel tempat saya menginap,” kata Hu kepada &lt;em&gt;acehkita&lt;/em&gt;. Secara jurnalistik, sebenarnya tak ada yang istimewa dari foto itu. Setiap wartawan yang masuk Banda Aceh, pasti tak melewatkan pemandangan itu. Kapal besar itu sendiri baru ditarik kembali ke tengah laut setelah tantara Australia turun tangan, awal Februari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Meliput Konflik&lt;br /&gt;Para wartawan China dan Hongkong yang meliput di Aceh rata-rata mengaku tak dibekali latar belakang yang cukup tentang konflik yang telah terjadi hampir 30 tahun itu. Tetapi mereka mendengar tentang Aceh yang ingin memerdekakan diri dari Indonesia. Tak heran, bila mereka terkejut saat &lt;em&gt;acehkita&lt;/em&gt; menunjukkan foto-foto korban kontak senjata selama penanganan bencana tsunami dan kasus-kasus kekerasan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami hanya meliput di Banda Aceh dan Meulaboh. Itulah sebabnya kami tak begitu paham tentang situasi di luar kedua daerah tersebut. Dan kami senang telah mendengarnya dari Anda,” aku Wu Qi dari &lt;em&gt;Sanlian Lifeweek.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wu Qi tak sepenuhnya salah. Pemerintah dan aparat militer Indonesia memang membatasi akses bagi relawan atau jurnalis asing untuk menyambangi daerah-daerah di luar Banda Aceh dan Meulaboh seperti Bireuen, Aceh Utara atau Aceh Timur. Padahal, dua yang disebut pertama, juga terkena tsunami. Tetapi, faktanya, kasus-kausus kekerasan dan kontak senjata juga terjadi di daerah bencana, seperti di Aceh Besar yang luput dari pemberitaan para jurnalis asing. Tapi tidak bagi Abdoolcarim dari &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tahu perang masih terjadi di tengah bencana. Dan kami mengikuti perkembangan perundingan damai di Helsinki antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi rasa saling tidak percaya (distrust) terlalu besar di Aceh. Sehingga kekerasan dan perang masih terjadi,” kata Abdoolcarim menjawab acehkita melalui &lt;em&gt;video conference&lt;/em&gt; antara Shantou-Hongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, selain di Aceh, wartawan &lt;em&gt;TIME&lt;/em&gt; juga menemukan kasus di mana para korban tsunami dari pihak Tamil mendapat perlakuan diskriminatif dalam hal penerimaan bantuan oleh pemerintah dan militer Sri Lanka. [&lt;strong&gt;bersambung&lt;/strong&gt;]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111124635332763941?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111124635332763941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111124635332763941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111124635332763941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111124635332763941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/wartawan-tsunami-kongkow-di-shantou-1.html' title='Wartawan Tsunami Kongkow di Shantou [1]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111071666537928472</id><published>2005-03-15T04:22:00.000-08:00</published><updated>2005-03-15T12:16:44.383-08:00</updated><title type='text'>Gunongan</title><content type='html'>&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/Gunongan.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt; &lt;br /&gt;Semasa hidupnya, Sultan Iskandar Muda mempersunting seorang putri Pahang. Rakyat Aceh menabalkan dengan sebutan Putroe Phang. Gunongan ini berada di Taman Gairah yang tak jauh dari Keraton Darut Dunya. Monumen ini khusus dibuat untuk putri asal negeri jiran, Malaysia itu. [Photo Mounaward D. Ismail]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111071666537928472?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111071666537928472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111071666537928472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111071666537928472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111071666537928472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/gunongan.html' title='Gunongan'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111064843954185991</id><published>2005-03-14T09:26:00.000-08:00</published><updated>2005-03-13T04:37:38.946-08:00</updated><title type='text'>Lestarikanlah Dirinya!</title><content type='html'>&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/3175932a.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumoh Aceh ini terletak di kompleks Museum Negeri Aceh. Belakangan ini hampir tidak kita temui lagi warisan endatu ini. Maka lestarikanlah dia!&lt;br /&gt;[Mounaward D. Ismail]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111064843954185991?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111064843954185991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111064843954185991' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111064843954185991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111064843954185991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/lestarikanlah-dirinya.html' title='Lestarikanlah Dirinya!'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111069130917370406</id><published>2005-03-13T21:20:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T21:21:49.176-08:00</updated><title type='text'>”Jiwa Jurnalisku Menyentak” [5]</title><content type='html'>Catatan Harian Munawardi Ismail - Waspada&lt;br /&gt;Artikel ini sudah pernah dimuat Acehkita.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Banda Aceh, kami tak sanggup membendung airmata. Konon lagi mengingat puing-puing yang membukit di banyak tempat. Sebab di jalur tersebut sebelumnya kami lewat. Setelah gempa sebelum tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotli bahkan berulang kali memuji sang pencipta. “Kita masih beruntung terhindar dari musibah dahsyat ini,” tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa “beruntung?” Sebagai umat yang beragama, aku bukan saja menganggap itu seperti Hotli. Tapi sebagai sebuah kebesaran Allah yang sudah diberikan kepada aku dan Hotli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Lokasi -lokasi yang dipenuhi tumpukan bukit-bukit itu baru beberapa menit lalu kami lewati. Satu jam kemudian kami balik lagi, ternyata semua luluhlantak. Lantas bagaimana jika sekian menit saja kami terlambat? Pasti kami juga “tamat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya. Ketika pulang ke Banda Aceh setelah singgah sejenak di Lhokseumawe kami bagai tak sanggup menampung airmata. Kami tak ingat lagi berapa anggota keluarga yang sudah menjadi korban. Atau di mana jika mereka masih selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya ada airmata buat mereka. Tapi sayang, itu tak kami punya. Menangis pun tak kuasa. Tak ada airmata untuk keluarga, bila mengingat ratusan ribu rakyat Aceh yang turut menjadi korban sapuan tsunami. Rasanya kering sudah sumur airmata kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu juga dengan tempat tinggal. Aku nyaris tak tahu harus bermukim di mana. Tempat kos-ku nyaris tak bisa dihuni. Banyak baju di dobi (laundry), yang tak sempat diselamati. Tak jauh beda dengan Hotli. Rumah kos-nya ikut masuk lumpur. Dia sempat menyelamatkan banyak dokumen pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan masuk rumahnya belasan mayat “menyambut” kedatangan kami. Dia mencari bapak kos-nya, namun tak ditemui. Nasibnya sama dengan warga yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makanya jangan tanya di mana kami memejamkan mata. Mengungsi sudah pasti. Nani menjadi dewi penolong. Berkat kebaikan hati dia, aku dan Murizal bisa menghuni rumahnya. Alhamdulillah. Semoga Allah membalas kebaikannya, aku membatin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups. Tiba-tiba aku tersentak. Ternyata aku baru kembali dari masa dua hari lalu. Di mana kondisi masih amat darurat. Karena itulah yang membuat kami segera kembali. Berbuat semampunya. Kendati dalam kuantitas yang sedikit, aku yakin bantuan yang diberikan Nani kepada rekan-rekan jurnalis amat bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi, taget pertama kami adalah Yayan (Radio El Shinta Jakarta). Saat kami temui, mantan produser di Radio Baiturrahman ini sedang membersihkan rumah dari lumpur tsunami. Selesai menurunkan sedikit sembako, kami berangkat untuk meliput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, puing-puing masih banyak berserak. Bantuan alat berat tak cukup “kuat” mengangkut lumpur dan puing-puing tsunami. Akhirnya gajah pun dilibatkan. Kehadiran binatang berbelalai itu amat membantu dalam membuka jalan-jalan yang selama itu masih terhalang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu tentu kami tak tinggal diam. Banyak foto yang kami abadikan saat binatang raksasa itu bekerja untuk kemanusiaan. Menurut pawangnya, untuk tugas ini mereka menurunkan tiga ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mendapat berita dan foto-foto, aku mulai berpikir mau kerja di mana? Ketika itu tak ada satupun wartawan lokal yang bekerja kecuali kami bertiga. Baru beberapa hari kemudian, Adward (Acehkita) dan Murizal Hamzah (Sinar Harapan) mulai melakukan kegiatan yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi di Banda Aceh cuma kami yang “bernyanyi”. Pun demikian ada juga rekan yang bekerja di media nasional, yang didukung rekannya dari Jakarta. Sedangkan mereka dibebas-tugaskan untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jurnalis media cetak seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, semua menurunkan wartawannya ke Tanah Rencong. Tentu lengkap dengan segala perangkat kerja. Alat komunikasi telepon satelit, komputer dan generator. Terus terang masuknya kawan-kawan dari Jakarta membuat perasaan kami lega. Karena mereka bisa meng-cover semua berita dari musibah tsunami yang terdahsyat di dunia. Kami sedikit banyak masih trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kami kerja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sedikit tertolong dengan adanya fasilitas internet gratis di Kantor Pos setempat. Saat itu cuma baru satu unit komputer yang dioperasikan. Kalau lagi ramai user (pengguna internet), tentu saja kami harus antri. Sarana komunikasi sudah mulai siuman, setelah pingsan gara-gara gelombang laut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantorku di Medan, tidak terlalu membenaniku dengan banyak tugas. Mau kerja silakan, isirahat pun tak dilarang. Tapi jiwaku tak bisa terima, begitu melihat koran esok harinya tanpa ada foto dan beritaku. Jiwa jurnalisku menyentak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dalam kondisi seperti yang dialami warga yang lain. kami kuatkan diri. Kendati sekali-kali seperti orang sakit “jiwa”: sedikit saja ada getaran, kami pikir gempa. Keluar rumah adalah langkah selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bekerja, tentu saja aku tak punya perangkat apa-apa. Semua komputer di kantor ludes digenangi tsunami. Akibatnya banyak foto dan berita yang tak terkirim ke redaksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, aku tak buat berita karena mereka juga punya kegiatan sendiri. Dalam satu pekan itulah aku cuma mengirim foto-fotonya saja ke redaksi. Dalam kondisi serba darurat sudah cukup membantu, pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang membuat aku kian leluasa menjelajah semua ground zero. Sebab tak perlu khawatir hasil jepretan tak bisa terkirim. Langkah ini, kemudian membuat aku “terdampar” hingga ke Lhok Nga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki kawasan ini, aku bagai berada di planet lain. Bukan daerah yang selama ini kami lintasi. Baik untuk sekadar menikmati sunset, atau memancing di Leupung. Kawasan wisata ini sudah rata. Tak banyak bangunan yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keude Bieng di mana,” tanyaku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan masuk ke Pantai Lampuuk di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu … &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana lapangan golf yang kerap dipakai pejabat dan pengusaha untuk mengisi hari liburnya? Lapangan yang kerap membuat pejabat tak ingat rakyat itu pun tak berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan ke arah pabrik semen tak bisa dilalui. Jembatan berangka baja sudah tidak ada lagi. Cuma ada satu unit perahu bagi yang ingin menyeberang. Dua lokasi markas militer, Kompi Senapan B dan Zeni Tempur (Zipur) yang letaknya berhadap-hadapan itu, sudah tak tersisa. Hanya sebuah beton kecil yang sudah retak, yang bisa dijadikan penanda markas itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekatnya, ada penjara wanita, tempat dipenjarakannya Cut Nurasikin (yang dihukum karena menyuarakan referendum) dan beberapa wanita yang diklaim sebagai pasukan inong balee (divisi GAM). Tak ada tanda-tanda mereka bisa meloloskan diri dari kepungan air yang ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menumpang perahu nelayan, aku menyeberang menuju pabrik semen. Kembali perasaan asing membayang. Dua unit kapal menghadang jalan sebelum mencapai pabrik semen. Menurut sejumlah warga, kapal tongkang tersebut dipakai untuk mengangkut batu bara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai kuabadikan semua, aku hendak pulang. Sampai di jembatan tak ada lagi perahu yang menyeberangkan kami tadi. Tak jelas ke mana? Aku tertahan dalam terik mentari membakar kulit, sekitar 1 jam. Hampir saja tak bisa pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyeberangi Krueng Raba di Kecamatan Lhok Nga ini berkat bantuan warga setempat dengan memakai drum sebagai bahan pelampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari Lhok Nga, aku jelajahi Peukan Bada, Lamjame, Lamteumen, Lamjabat hingga Ule Lheue. Semua sama. Subhanallah. Aku kembali merasa bagai berada di negeri asing. Hanya bendera-bendera dwiwarna yang dipasang di tengah ground zero yang menyentakku dari keterasingan. Aku kurang tahu siapa yang pasang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Ulee Lheue yang membuatku paling berkesan. Pasalnya baru tiga hari sebelum tsunami aku sempat mengabadikan sejumlah bangunan di sana. Tapi kini semua tak tersisa. Rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan Punge Jurong, sebuah rumah megah yang menjadi perhatian ku setiap lewat ke sana juga sudah tak tersisa. Begitu pula dengan wilayah lain yang menjadi sapuan tsunami. &lt;br /&gt;Foto-foto itulah yang membuat aku seketika kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu untuk kerja aku numpang sama rekan dari Tempo Cs. Mereka bermarkas di salah satu bangunan di Pendopo Gubernur Aceh. Di sana ada Ali Anwar dan Edy Can cs yang dengan senang hari membantu. Di situlah aku pindahin foto-foto dari kamera ke komputer. Kemudian kukopi ke disket, baru kemudian lari ke kantor pos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Medan sendiri sudah mengirim tenaga untuk memback-up. Mereka ternyata berkonsentrasi di Bandara Sultan Iskandar Muda, sekitar 15 km dari Banda Aceh. Sementara peralatan kerja untuk mengganti yang sudah rusak sudah dikirim, sayang belum ada lokasi strategis untuk merelokasi kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, untuk kegiatan serupa aku “kerjasama” dengan Encik Razali, Ruslan dan Datok Natsir dari Kantor Berita Bernama Malaysia, termasuk LKBN Antara. Take and give-lah, ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hubungan bilateral” ini terus kupelihara. Ini menyebabkan semua kegiatan liputan hampir normal, sehingga tak ada yang tak tercover. Cuma yang tersisa kelelahan. Sebab tak jarang untuk sekali kerja harus gonta-ganti tiga komputer akibat minus program yang diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua tak kupedulikan. Toh, jika semua yang file yang kukirim bisa terkirim, perasaan lega menyeruak. Rasa lelah sirna. Pulang membaringkan badan di Lamlagang, kawasan yang aman dari tsunami. Begitulah siklusnya saban hari yang kujalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada tanggal 5 dan 6 Januari 2005, aku kerja di rumah rekan sekantor. Di mana saat semua kondisisnya menjurus normal. Korannya sudah mulai dibaca dan beredar di Banda Aceh. Untuk pertama dibagi gratis buat pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, aku teringat masa-masa penuh tantangan yang tak terlupa. Temasuk bantuan mereka-meraka yang membuat kerja ini menjadi bermakna. Kecuali untuk memenuhi hak publik, juga untuk kemanusiaan. Kendati pada akhirnya cuma dua pilihan: meliput atau menolong? Selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111069130917370406?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111069130917370406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111069130917370406' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111069130917370406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111069130917370406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/jiwa-jurnalisku-menyentak-5.html' title='”Jiwa Jurnalisku Menyentak” [5]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111062758618870091</id><published>2005-03-11T03:38:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:43:07.556-08:00</updated><title type='text'>Saat Televisi Masih Buta [4]</title><content type='html'>Catatan Harian Munawardi Ismail - Waspada&lt;br /&gt;Artikel ini sudah pernah dimuat Acehkita.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, kami berniat menginap di mobil Hotli (Global TV) yang parkir di jalan. Cuma makan roti atau sekadar membasahi kerongkongan, menjadi menu makan malam. Lalu ketika malam beranjak larut, Hotli keluarkan ide; membuat api unggun. Kayu bawaan arus tsunami berserak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu masih hari Minggu, 26 Desember 2004. Orang di luar Banda Aceh, benar-benar belum tahu apa yang terjadi. Tak ada televisi yang menayangkan gambar situasi di Banda Aceh. Telepon putus. Listrik mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu api menyala, banyak yang bergabung, sekadar menghangatkan badan. Sementara puluhan warga yang berteduh di dalam gedung PWI itu banyak yang memilih tidur di luar. Tak peduli digigit nyamuk. Yang penting saat gempa susulan mereka tak ada di dalam bangunan. Trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidur praktis tak nyenyak. Bukan karena sempit di dalam mobil. Tapi memang was-was saat bergoyang. Trauma gempa masih terasa. Pukul 04.00 pagi, ketika aku berada di luar mobil, gempa terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hotli, bangun! Gempa lagi.”  Dia pun bergegas keluar dari mobilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari menjelang pagi, kami tak tidur lagi. Agenda pagi itu sudah jelas: antre minyak dan premium.  Maklum selain air, bahan bakar juga sangat susah didapat. Ratusan orang rela antre untuk mendapatkannya. Apalagi kami yang berencana pergi ke Medan, Sumatera Utara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya untuk memberi infomasi ke kantor masing-masing, menulis berita dan mengirim gambar. Apalagi, saat itu belum banyak jurnalis yang masuk ke Banda Aceh. Yang ada di Banda Aceh sendiri tak tahu harus berbuat dengan informasi dan visual yang sudah di tangan. Informasi terputus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus kabari dulu bahwa di Banda Aceh butuh banyak obat-obatan dan bantuan,” kataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotli sepakat. Keputusan itu juga diamini Nani Afrida (The Jakarta Post). Nani sudah mendata nama-nama wartawan yang dikabarkan masih selamat, tapi belum terlihat orangnya. Begitu juga dengan yang menjadi korban, Nani sudah punya catatan. Dia adalah Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana kami yang lain adalah mencari bantuan. Agenda itu sudah final. Siap untuk dijalankan, cuma tinggal menunggu waktu, jika bahan bakar sudah dapat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 06.43 pagi, hari kedua (Senin, 27 Desember 2004), kami bergerak. Dengan berjalan kaki, kami menuju Peunayong mencari plastik atau apa saja yang bisa membantu menampung bensin atau solar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengambil rute Jalan Sri Safiatuddin.  Di depan Kodam Iskandar Muda ada beberapa jenasah yang belum diangkat. Di depan sebuah bank milik swasta nasional juga terdapat mayat yang ditaruh di atas sofa. “Santai” kelihatannya. Hotli lantas menjepret itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rex, Peunayong yang biasanya ramai dengan tamu hotel yang sarapan pagi, kini banyak mayat tergeletak. Malah sebuah kapal besar milik nelayan Lampulo kandas di depan pintu masuk sebuah hotel di sana.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan ini masih menggodaku untuk mengambil gambar. Dengan kondisi seadanya, kulihat kamera masih berkedap-kedip. Ada peluang pikirku. Setelah kuambil dua kali, ternyata bisa. Setelah itu dia pun padam. Tak “bernyawa” lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah pikirku. Aku cuma tak bisa mengambil gambar, orang lain malah banyak yang kehilangan keluarga, harta benda dan tragisnya lagi kehilangan nyawa. Kalaupun ada yang selamat, pasti trauma berat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Debat batin” itu ternyata bisa membuat rasa kecewaku hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang Jalan Ahmad Yani di Peunayong yang kami lewati, banyak tumpukan puing-puing tersangkut di deretan pertokoan. Masih dalam kawasan yang sama, dua toko bangunan peninggalan zaman dulu roboh juga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami makin kaget begitu melihat banyak perahu yang kandas di dekat jembatan Peunayong. Di tempat yang sama juga ada belasan mayat yang ditutup alakadar. Sejumlah pria setiap lewat membuka kainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kanan kami, sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan, terpampang. Untuk melihat hempasan ombak Ulee Lheue, tak perlu lagi repot-repot ke sana. Dari atas jembatan pun bisa. Kampung Jawa, Keudah, Peulanggahan sudah rata! Apalagi Lampulo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dramatisnya pemandangan ini hanya bisa dirasakan oleh warga Banda Aceh atau mereka yang melihat kondisi sebelumnya. Bagi yang baru pertama kali berkunjung ke Banda Aceh, mungkin tak berarti apa-apa. Ini seperti warga Jakarta yang tiba-tiba kehilangan tugu Monas saat bangun di pagi hari. Tapi bagi yang tak pernah tahu Monas, tentu bukan soal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, penjara Keudah juga hancur. Bagaimana tahanan di dalamnya. Kami belum mendapat jawaban. Lantas apa kabar mantan Juru Runding GAM, Tgk Sofyan Ibrahim Tiba, termasuk mantan Walikota Drs Zulkarnain.  Kami juga tak tahu. Belakangan, Zulkarnain diketahui meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas jembatan yang menghadap ke barat, sejauh mata memandang hanya kehancuran. Di bawahnya ada puluhan boat yang selamat tertangkar di sana. Sedangkan di sebelah kanan, di atas Pasar Ikan, sebuah perahu yang terbuat dari fiber tertambat di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, tolong kami. Kami tidak bisa keluar,” teriak seorang wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget. Hotli juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya datang dari arah sebuah reruntuhan bangunan. Di atas itulah, sebuah perahu yang terbuat dari bahan fiber tadi, tersangkut. Tak lama kemudian, kembali dia mengulang minta bantuan. Dia berteriak tak bisa keluar akibat terhalang kayu. Dia meminta pertolongan supaya kayu disingkirkan. Kasihan juga, tak ada yang bisa mengulurkan tangan. Karena memang memindahkan reruntuhan itu tak bisa dengan tangan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar, Bu ya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” kataku yang kemudian disambung seorang pria tak jauh dari kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ibu-ibu yang terperangkap tadi, kembali mengulang kata-kata yang sama.  “Hai…neu tulong kamoe, hana jeut meuteubiet.” Aku menanyakan, berapa orang yang ada di situ. Dia menjawab ada tiga. Tapi suaranya satu. Berarti selain dia, ada jenasah di dalamnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa kami perbuat. Demikian pula dengan beberapa orang yang mendengar. Aku kembali mengulang: “Neusaba mak beh, kamo hana lom jeut meutulong, mungken entreuk cot uroe katroh bantuan.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu terdiam sebentar. Selang lima menit kembali dia berteriak. Kali ini dia ingin memberitahu, bahwa di bawah tumpukan puing-puing masih ada orang yang terperangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat aku ingat kata-katanya. “Hoii… kamoe teukurong di sinoe…(kami terkurung di sini).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, tiba-tiba tanah bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gempa lagi,” kata Hotli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, buru-buru kami balik lagi ke Simpang Lima. Kami pulang dari jalan yang berbeda. Kali ini melewati Jalan Tuanku Daudsyah. Soal banyak mayat yang berserak, sudah jadi pandangan biasa.  Tumpukan puing-puing membukit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa yang datang telah mengkalutkan pikiran kami dan tak ingat lagi akan nasib perempuan yang terkurung di dalam reruntuhan yang tertindih perahu itu. Tapi beruntung, beberapa orang di sana juga mendengar ada warga yang masih terkurung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jalan Tuanku Daudsyah memang terkenal sebagai kawasan pemukiman Tionghoa. Selain itu, kawasan ini juga sentranya salon mobil. Mengkilapkan mobil di situlah lokasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lantai dua mereka mengintip keluar. Ada yang sedang mengeluarkan mayat, ada pula yang sibuk mencari sisa-sisa harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Bang, gimana kok belum ada bantuan,” tanya seorang bapak-bapak kepada kami. Sepertinya dia tahu kami jurnalis, apalagi tanda pengenal yang dipakai Hotli begitu menonjol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya, dia mengira kami tim mengirim bantuan. “Kami belum bisa kirim kabar ke Jakarta. Mungkin nanti sore kami ke Medan. Semua komunikasi terputus, tak bisa apa-apa,” jawab Hotli yang pernah bekerja sebagai fotografer Agency France Press (AFP) ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan berlumpur itu, kami terus melangkah. Di daerah ini airnya di bawah lutut, sekitar tulang kering. Seorang satpam duduk santai menjaga sebuah swalayan yang sudah ditarik tali police line di simpang Jalan Khairil Anwar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kami tak bisa belok ke kanan, karena tumpukan puing-puing itu lebih parah. Pintu gerbang sebuah hotel tetutup dengan puing. Lantas kami memilih ke kiri. Di sini tumpukannya juga lebih parah. Tapi mau tak mau kami harus melewatinya. Dengan susah payah, melewatinya. Ada sejumlah mayat yang juga tergetak di sana. Hari kedua pagi itu, belum tercium aroma busuk jenasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan dengan bantuan tongkat kayu. Sambil berjalan kami menusuk-nusukkan tongkat itu ke puing-puing yang berserak. Ups… Aku melihat ada sesosok mayat terjepit tumpukan kayu. Secara reflek, tongkat kutarik. “Mayat Li,” ujarku kepada Hotli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mencapai badan jalan, di bawah batang asam jawa, seekor anjing warna hitam terikat di rantai. Hotli mendekat. Malah anjing itu galak. Hotli pun mengelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai shalat dzuhur kami berangkat ke Sigli, Pidie, ke rumah Nani. Ibunya gundah nian. Selentingan kabar berhembus; Sigli juga tenggelam. Tapi jalan menuju Sigli amat padat. Banyak warga yang mengungsi. Sementara warga luar Banda Aceh juga masuk mencari keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di SPBU sekitar Montasilk, antrean kendaraan terjadi sepanjang tiga kilometer lebih. Kami kepanasan dalam mobil..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 15.00 kami tiba di Tijue. Tidak ada kejadian yang menonjol di sekitar Masjid Al Falah, Kota Sigli. Tak ada air tsunami seperti yang dirumorkan. Di masjid itu cuma menaranya yang runtuh akibat goyangan gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, kami melihat bapak Nani sehat walafiat. Perasaan lega. Kami disuguihi teh manis hangat. Cukup untuk menghilangkan dahaga seharian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai melepas lelah, kami menyalakan televisi di frekuensi Metro TV. Langsung terpampang “Indonesia Menangis”. Mayoritas beritanya tentang korban gempa dan tsunami di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Metro TV belum punya gambar apa-apa tentang situasi di Banda Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini belum apa-apanya jika dibandingkan dengan yang tejadi di Banda Aceh,” kataku ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya hasrat untuk segera mencapai Medan semakin mengebu-ngebu. Tujuaannya untuk menyampaikan informasi tentang Banda Aceh yang sebenarnya. Dengan demikian, apa yang diinginkan seorang pria Tionghoa atau ibu-ibu yang terperangkap tadi terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata dia terngiang lagi. “Hai, Bang, gimana kok belum ada bantuan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memutuskan kembali lagi ke Banda Aceh. Dengan maksud, setelah itu segera menuju Medan. Keesokannya (Selasa, 28 Desember 2004), kami berangkat ke Medan. Nani terlihat kewalahan menerima telepon dan SMS dari berbagai kalangan yang menanyakan kondisinya, keluarga dan kondisi Banda Aceh tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami tiba juga di Sumatera Utara. Sepanjang jalan, lagi-lagi banyak rumor yang terdengar. Katanya, jalan di Kecamatan Panteraja, Pidie, putus. Ternyata nggak benar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Medan, Nani dan Hotli mencari sejumlah bahan kebutuhan untuk rekan-rekan jurnalis di Aceh yang menjadi korban tsunami. Sedangkan aku minta izin ke kantor. Mengolah berbagai foto yang selama ini hanya tersimpan di kamera, tak bisa dipublikasikan. Perasaan sedikit lega, ketika foto-foto itu disiarkan. Masyarakat sudah mulai tahu kejadian yang sebenarnya. Kondisi darurat.  Sangat darurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencari perbekalan baru, terutama untuk kamera dan sebagainya, kami pun kembali ke Aceh. Tenaga kami masih dibutuhkan. Apalagi kami warga di sana. Tak boleh meninggalkan Aceh; tanah kepedihan, Tanah Rencong yang tak pernah henti mendapat cobaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111062758618870091?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111062758618870091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111062758618870091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111062758618870091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111062758618870091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/saat-televisi-masih-buta-4.html' title='Saat Televisi Masih Buta [4]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111062709138771649</id><published>2005-03-09T03:29:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:42:07.876-08:00</updated><title type='text'>Kesaksian di Menit-menit Awal [3]</title><content type='html'>Catatan Harian Munawardi Ismail - Waspada&lt;br /&gt;Artikel ini sudah pernah dimuat Acehkita.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika posisi kami sudah terkurung, di kawasan jembatan Pante Pirak, kami tak lagi bertindak. Rencananya, aku dan Hotli ingin ke Lamlagang, rumah Nani Afrida, jurnalis The Jakarta Post. Karena semua jalur ke sana dikepung air berlumpur, kami pun mundur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat Hotli (Global TV) masih mengabadikan sejumlah momen dengan handycam yang baru sebulan lebih dibeli. Kemudian kami menuju ke kendaraan masing-masing di kawasan Simpang Lima. Di sana, Yuswardi (TEMPO) dan Muhammad Saman (Analisa) sudah stand by. Selain mereka, tampak pula sejumlah wartawan Serambi Indonesia. Selain membahas nasib kawan-kawan seprofesi, kami juga membahas apa saja yang “menarik”. Tentu saja secara jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang ada juga setengah bergurau. Pikirku wajar, kalau tegang-tegang sekali bisa stress. Sementara sejumlah warga juga menumpang di kantor PWI, termasuk penyanyi Aceh, Syarifah Raykhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya tak tahu, kalau dia ada di sana. Menurut Yuswardi, dia juga lari dikejar tsunami. Katanya, penyanyi Kupi Ulee Kareng ini saat gempa masih di kamar mandi. Jadi dia lari menyelamatkan diri bersama keluarga hanya dililit handuk di badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendatangi dia, sebab kami masih bertetangga di Peunayong. “Gimana, Bang, sempat lari juga?” tanyanya. Setelah itu kami ngobrol tentang dahsyatnya gempa serta tsunami. Lantas aku pamit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak warga yang duduk di halaman. Mereka masih takut di dalam. Sebab gempa masih menggoyang, kadang kala antara 30 menit sampai satu jam sekali.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menumpang motor RX King milik Saman, aku dan Yuswardi berboncengan bertiga hendak menuju Lingke. Di sana, adik dan sanak keluarga Yuswardi belum diketahui nasibnya. Dia terlihat gelisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara barang-barang seperti komputer, baju serta peralatan lain sudah diselamatkan. Tapi kamera coolpix pinjaman dari jurnalis lain terjatuh saat menyelamatkan barang-barang. Pikirannya makin gamang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mampir dulu ke Rumah Sakit Kesdam. Sejumlah ambulan, mobil polisi, tentara serta mobil bak terbuka milik masyarakat, silih berganti keluar masuk. Ada yang membawa jenasah, ada pula korban yang luka berdarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang pelataran atau kaki lima rumah sakit, banyak korban luka belum mendapat perawatan. Seorang perawat terlihat kewalahan melayani permintaan obat. Apalagi untuk sekadar mengoles betadine.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih memang melihat mereka yang terluka. Obat-obatan kurang. Air tak ada. Makanan apalagi. Wajah perih menghiasi mereka-mereka yang bersandar di dinding. Ada pula yang tergeletak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kami bertiga masuk. Banyak yang tertatih. Ada pula yang merintih, minta air dan sebagainya. Aku melangkah ke bangsal belakang. Di sana ada puluhan mayat yang sudah ditutupi kain seadanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka lagi kamera. Masih ada “sinyal” kehidupan. Seperti tadi pagi, aku pun mengabadikan dua kali petik. Itu pun dengan susah payah. Selamat, dua foto masih bisa. Ingin kuhapus yang tak perlu, tapi takut baterai betul-betul habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada seorang pria berbaju merah menggotong sendiri satu jenasah. Kamera kumasukkan ke tempat semula.  Lalu kubantu pria tadi menempatkan mayat seorang laki-laki. “Sudah di sini saja,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ruang itu sudah penuh dengan jenasah. Kami pun berinisiatif menggeser mayat yang di lorong, supaya bisa muat yang lain. Begitu tergeser, warna merah mengotori lantai. Itu darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar ruangan, ambulan makin sering terdengar. Satu kereta sorong muncul ke hadapanku. Lagi, mayat laki-laki. Bersama dengan empat pria kami letakkan di kamar lain. Sementara di bangsal lain, banyak korban yang kakinya sobek. Bagian kepala dekat mata kanan hancur, nampaknya dihantam beton atau kayu. Tak jauh dari situ ada pria yang punggungnya terbelah.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku masuk ke bangsal lain. Tiba-tiba ada yang memanggil. “Bang Nawar,” suaranya lemah, nyaris tak terdengar. Aku mendekat. Ternyata sepupu, namanya Safrina, ibu rumah tangga beranak dua, tinggal di Keudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan anaknya terlepas dari gendongan. Suaminya tak tahu di mana. Kulihat tidak ada luka di bagian tubuhnya, kecuali sedikit goresan di tumit. Aku hanya bisa bilang sabar. Setelah kutempatkan di posisi yang aman, aku hendak mencari abangnya.  Aku minta dia agar tak ke mana-mana sampai aku kembali lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampingku, di atas meja, seorang dokter sedang membuat nafas buatan pada seorang wanita tua. Tangan sang dokter menekan dada memompa. Tapi tak berhasil. Dia menghembus nafas terakhir. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit mundur. “Aauww…” Ada yang berteriak di belakangnya. Kakiku juga terasa menginjak sesuatu. Begitu kulihat ternyata kaki seorang pria kira-kira 23 tahun. Dia merintih. Aku merasa berdosa. Berulang kali aku minta maaf. Dia sendiri kulihat bisa terima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada air?” pintanya. Aku lagi-lagi minta maaf, karena tak ada apa yang dia minta. Padahal saat itu kehausan juga.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahan lagi melihat itu. Sempat kuucap: “Neusaba syedara beh, dang-dang na bantuan (bersabarlah saudaraku, sembari menunggu bantuan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku keluar. Di sana kulihat Saman dan Yuswardi lalulalang. “Droe kuh han jeut ku kalon (saya tidak sanggup melihat),” katanya. Begitu pula dengan Saman. Aku meneruskan apa yang kubisa. Memapah misalnya. Sebab pikiranku juga mulai tak tahan. Antara sedih dan shock. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ikut mobil polisi yang akan evakuasi. Tapi batal. Karena sudah banyak orang. Aku bertahan di situ bertiga. “Kamu lakukan apa saja yang bisa. Bekerja sebagai wartawan tak memungkinkan. Kita tak bisa kirim berita,” ujarku sama Saman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Tapi dia juga sama seperti Yuswardi, tak kuasa melihat hal semacam itu. Akhirnya kami sepakat melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju kawasan Lingke yang tak jauh dari kantor Gubernur Aceh terpaksa kami tempuh lewat simpang BPKP Lambuk. Karena sebelumnya menerobos via Rumah Sakit Jiwa tidak tebus. Air mengenangi jalan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan sebuah rumah, sejumlah perempuan berdiri mengeliling seorang pria yang terbaring. Sekilas kami lihat dia bukan korban dari gempa dan tsunami. Tapi sebelum gempa dan tsunami datang, dia sudah sakit terlebih dahulu. Kami perkirakan dia ditandu ke luar karena takut tertimpa bangunan roboh atau takut ikut hanyut terbawa air pasang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawa saja ke rumah sakit,” kataku yang dibenarkan Yuswardi dan Saman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tak bisa menerobos Jalan Panglima Nyak Makam. Air hitam tergenang di badan jalan. Di sana ada tiga tentara terlihat santai di mobilnya. Mereka bercerita kalau kawannya ikut menjadi korban bahkan ada yang tak bisa menyelamatkan motornya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga terpaksa diskusi kecil. Yuswardi masih terlihat resah. Pikirannya tetap teringat adik kandungnya yang belum diketahui nasibnya. Lantas alternatif lain adalah lewat Simpang Tujuh Ulee Kareng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melintasi salah satu simpang yang tembus ke ujung jembatan Lamyong. Di tengah jalan, Saman yang menjadi “sopir” sepeda motor, putar haluan.  Lalu kami ambil simpang satu lagi yang jalannya tembus ke Prada. Di tengah jalan, banyak orang juga balik haluan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tak bisa lewat juga,” gumam Saman. Sekilas Yuswardi kecewa. Tapi kelihatannya maklum dan bisa menerima. Karena tak ada jalan lain, kami kembali ke Simpang Lima. Tapi begitu melintasi jembatan kembar Simpang Surabaya, kami tak jadi ke Simpang Lima. Kami ingin jalan ke Peuniti dengan melewati Jalan Tgk Syik Ditiro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pangkal jalan, dua pria menghadang. Jalan menuju ke sana ditutup menggunakan kayu seadanya. Dia melarang kami lewat. Yuswardi segera mengeluarkan jurus kata-kata “kami meliput.” Dan kami pun masuk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas jembatan Peuniti ada 20-an mayat tergeletak. Ditutup dengan kain seadanya. Selain orang tua, anaknya banyak juga. Di sana sudah ada Gade Salam, seorang anggota DPRD Provinsi NAD. Dia terlihat sedang memberi pengarahan kepada warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan warga lainnya yang selamat membuka kain penutup mayat. Sudah pasti mencari sanak handai taulannya. Di antara salah satu jenasah, ada secarik kertas yang sudah diisi tulisan. Aku tak ingat lagi namanya. Tapi alamatnya dari Ajun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini alamat yang kami temukan di dompet dia,” ujar seorang warga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama di sana, perjalanan kami lanjutkan ke arah Masjid Raya Baiturrrahman, karena hari sudah menjelang petang. Menurut kabar, air sudah mulai surut. Di simpang itu, ada juga penghalang seperti yang kami temui diawal tadi.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau meliput,” kata kami sambil menunjukkan kartu pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat jembatan Krueng Daroy, masih dalam kawasan Peuniti, ada 25 mayat digotong warga dibawa ke jalan. “Di mana ambulans, ya, kasihan ini belum diangkat,” tanya warga di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kondisinya serba darurat, Pak. Ambulan juga sibuk evakuasi mayat,” jawabku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami sepakat untuk melihat Masjid Baiturahman. Ternyata jalan menuju ke sana tidak gampang. Kami melintas hati-hari di pagar Kodim. Dekat tugu Adipura, kami bersua dengan sejumlah pria yang sedang bagi-bagi makanan ringan. Kami pun kebagian, meski sepotong, tapi sudah bisa mengganjal perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama di sana, setelah melihat kondisi halaman masjid yang porak-poranda, kami berteduh di dalam taman yang besar di seberang jalan depan masjid raya. Lagi-lagi aku bersua dengan seorang ibu. “Munawar ya,” tanya dia. Aku mengangguk. Oh, ternyata dia orang yang termasuk rajin bertandang ke rumah orang tua angkatku. Kalau tak salah masih famili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar keluh kesah dia. Dan bahkan dia minta agar kubawa ke mana aku pergi.  Belum sempat ku-iya-kan, semua orang berlari. “Air naik… Air naik…,” terdengar teriakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari kami, seorang pria paruh baya seketika memanjat pohon yang ada di taman itu. Kami pun berlari. Yang jelas ikut-ikutan. Tak lama, kami pun sepakat kembali ke Simpang Lima. Saman mengambil motor yang diparkir persis di dekat jembatan Peuniti. Aku berpapasan dengan seorang polisi. Dia terlihat sibuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada beberapa pajabat teras Polda menjadi korban,” ungkapnya menjawab pertanyaanku. Sayang, semua itu cuma terpendam saja. Tak bisa diberitakan. Mau buat berita tak bisa. Semua  fasilitas mati. Telepon, konon lagi internet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sepanjang median Jalan Chik Ditiro, warga Peuniti yang kawasannya paling rendah mengungsi ke situ. Tenda-tenda kecil menghiasi sepanjang jalan. Ruat warga kusam dan tegang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang sedang berjalan kaki juga tak kurang. Mereka membawa apa saja yang masih tersisa. Pendek kata, semua warga yang selamat bermaksud keluar Banda Aceh, mengungsi. Tujuannya, kalau bukan ke Lambaro, ya Jantho, ibukota Aceh Besar yang berjarak sekitar 40 km dari Banda Aceh yang sudah porak-poranda.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di persimpangan jalan menuju ke Lambaro, sepeda motor dan kendaraan roda empat berlari kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi,” tanya Saman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat kami belok kiri, ke arah Beurawe, terlihat warga malah mengambil jalur berlawanan.  “Air naik… Air naik…” teriak sejumlah pengendara sepeda motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tak percaya. Melihat ke arah jembatan banyak orang sedang berlari. Lantas, kami bertanya ke seorang polisi yang berpakaian tak lengkap sedang mengatur lalulintas. Dia juga memberi jawaban yang sama. “Air naik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah ke Jantho saja, atau Lambaro, yang penting jauh dari Banda Aceh,”  ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara warga melakukan hal itu. Maka kami pun tancap gas ke arah Lambaro. Baru sampai di Lueng Bata, kami berhenti. Istirahat di depan rumah warga setempat. Kami mulai tak percaya rumor air naik. Karena di depan masjid tadi, rumor itu tidak terbukti.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kami kembali ke tujuan semula. Memang tak ada air pasang yang naik seperti tsunami yang sudah menghancurkan sebagian besar Kota Banda Aceh. Itu hanya rumor yang dikembangkan orang tak bertanggungjawab. Dan tak hanya di Banda Aceh. Belakangan, kami mendengarnya terjadi di Pidie, Bireuen hingga Lhokseumawe. Buntutnya, harta warga dijarah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111062709138771649?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111062709138771649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111062709138771649' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111062709138771649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111062709138771649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/kesaksian-di-menit-menit-awal-3.html' title='Kesaksian di Menit-menit Awal [3]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111024558893489512</id><published>2005-03-07T17:27:00.000-08:00</published><updated>2005-03-07T17:33:08.940-08:00</updated><title type='text'>Menolong atau Meliput? [2]</title><content type='html'>Catatan Harian Munawardi Ismail - Waspada&lt;br /&gt;Artikel ini sudah pernah dimuat Acehkita.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengabadikan momen gempa terbesar dalam sejarah Aceh itu, aku segera kembali ke kantor di kawasan Peunayong. Lokasinya tak jauh dari pusat jajanan warga kota yakni Rex atau hanya selemparan batu dari Hotel Medan yang belakangan terkenal karena sebuah perahu raksasa tiba-tiba parkir di depannya akibat terbawa tsunami. Membawa serta ratusan jenasah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang berpikir tsunami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku kembali ke kantor untuk mengganti baterai kamera sekalian transfer foto yang sudah penuh. Maklum kamera coolpix-ku kapasitasnya kecil. Kemampuannya juga tidak sehebat gempa bumi yang sudah kurasakan 20- 25 menit lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kantor, aku meminta bantuan sekretaris kantor yang biasa disapa Bang Teuku, lengkapnya Teuku Ardiansyah. “Aku mau transfer foto, ini memorinya sudah penuh,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lampu mati,” jawabnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita hidupkan genset saja,” sambungku bersemangat.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kulihat dia setuju. Tapi sedetik kemudian, dia berubah pikiran. Dengan alasan yang masuk akal, akupun mengalah. Kemudian beberapa foto yang angle-nya sama ku-delete. Baterai sudah memberi sinyal low.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan masih was-was, aku berniat masuk ke dalam kantor melihat komputer yang biasa kupakai kerja. Lantas kudorong pintu yang terbuat dari kaca hitam tebal. Tak ada isi bangunan yang rusak. Lalu dengan tergesa-gesa, kugantikan sandal jepit dengan sepatu sport yang jarang kupakai. Biar lebih gampang bergerak, pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor yang selama ini kupakai untuk liputan, masih berdiri di tempatnya. Tidak bergeser. Setelah kukeluarkan, perasaan baru lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku ingin pulang. Dalam hitungan detik, kubuat agenda kilat. Sambil jalan pulang melihat keluarga bapak angkatku, aku ingin mengambil sejumlah bangunan yang roboh akibat digoyang gempa.  Arahku menuju Rex dan Peunayong atau kawasan Kota. Atau lebih mudah menggambarkannya, ruteku menuju... arah laut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Tak jauh dari kantor, menuju Jalan Khairil Anwar, sebuah rumah makan dinding kanannnya copot. Tiang telepon melintang jalan. Sementara sejumlah hotel yang ada di kawasan itu kulihat masih utuh. Termasuk Hotel Medan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak jauh dari Losmen Aceh Barat, sebuah bangunan baru yang didesain artistik menjadi tak berbentuk. Warga yang mendiami daerah itu terlihat banyak berdiri di luar, mengantisipasi gempa susulan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya. Bocah lusuh juga terlihat bersimpuh tanpa daya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fotonya bagus, Bang,” kata seorang anak yang kutaksir masih berusia 13 tahun. Yang dimaksudnya sebenarnya kamera, bukan foto. Dari dia aku tahu kalau di dalam tak ada korban. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selesai menjepret tiga kali. Aku langsung pergi. Firasat tak enak. Apakah keluargaku di Jalan Pocut Baren juga mengalamai hal yang sama. Ingin rasanya kutelepon. Kembali kuraih telepon genggam. Blank, tak ada sinyal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku sempat berpikir lead apa yang akan kubuat nanti untuk berita. Alor di Nusa Tenggara Barat, Nabire di Papua sudah, kini Aceh juga diguncang gempa dahsyat. Sekilas pikiranku menerawang terus, hingga ke tayangan televisi mengenai reruntuhan bangunan  dan jalan terbelah di Alor atau Nabire. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pikiranku seakan berhenti pada satu stasiun televisi yang membahas musibah gempa di Indonesia sejak 10 tahun terakhir, termasuk tsunami di Bayuwangi.  Seorang seismolog yang diwawancarai televisi itu mengatakan, tsunami akan muncul 50 menit setelah gempa.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pernyataan seismolog itu masih lekat erat. Tapi aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi di Aceh setelah peristiwa minggu pagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian, akupun putar kiri melintasi Jalan Panglima Polem yang berakhir di Kampung Mulia. Melewati Tepekong, rumah ibadah umat Budha, banyak orang yang putar haluan, menjauhi arah laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahuku semakin bertambah. Apa yang terjadi, aku belum tahu. Aku juga tak melihat ada orang-orang yang kukenal melintas, atau rekan jurnalis lain kecuali Yuswardi, yang tadi berjumpa di kawasan swalayan runtuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh meter di depan, orang-orang mulai riuh. Ada yang berlari-lari kecil seperti orang melakukan sa’i antara Safa dan Marwah. Ada pula yang masih berjalan santai, tapi dengan mimik ketakutan. Aku tambah penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat orang mulai panik. Paniknya melebihi waktu gempa. “Kenapa, Bang?” tanyaku pada orang yang kebetulan melintas di depan. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Karena melihat orang berlari, dia pun melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin penasaran, setelah kulihat ke arah Pasar Peunayong, orang berlari semua. Seperti sedang ikut lomba maraton massal. Tapi rautnya penuh ketakutan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pakir sepeda motor dekat median jalan. Kubuka tas pinggang dan seketika kamera menyala. Kujepret suasana panik. Tapi aku tidak puas, fotonya kurang menceritakan suasana yang benar-benar panik. Kuambil sekali lagi, baru lega sedikit, meski aku sendiri tetap tak puas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan detik, orang yang berlari makin ramai, mulai sepeda motor, mobil, beca mesin dan lain-lain. Aku pun kembali bertanya pada seorang pria yang mengendarai sepeda motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya air laut naik,” ujarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa belum yakin sampai ada teriakan, “Air laut naik… Air laut naik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama aku sempat berpikir, lho kok air laut naik ke daratan. Tapi entah bagaimana, aku kembali terbayang wajah seismolog yang di televisi swasta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air naik… Air naik…” teriak seorang pemuda sambil terus berlari. Tapi tak seorang pun yang melihat air. Yag penting berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai tersentak, aku bergumam: tsunami! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih untung tidak berteriak. Bisa-bisa dianggap sableng. Berapa orang yang tahu arti tsunami. Aku semakin yakin yang datang adalah tsunami. Makanya aku putar haluan. Tujuanku ke Pocut Bareng, gagal. Aku tancap gas ke arah lain, menjauhi laut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang Jalan Panglima Polem mulai di depan penjahit hingga Simpang Lima, arus padat. Semua berlomba cepat. Mendekati lampu mereh, jalur makin padat. Suara klakson di mana-mana. Tak jauh beda suasananya seperti bulan puasa menjelang buka. Pemandangan semacam itu sering dijumpai di bulan suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena padat, aku menerobos trotoar depan sebuah warung internet. Di ujung trotoar aku terperangkap beton. Sementara di sampingku, sebuah mobil Kijang menabrak sepeda motor yang ada di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacau memang. Termasuk aku yang dengan seketika menurunkan sepeda motor dari trotoar tinggi tanpa memikirkan lagi risiko mesin retak atau pecah. Dengan memotong jalan, kuarahkan motor ke Jalan T Angkasa, atau arah Rumah Sakit Kesdam.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuanku sebenarnya ingin menghindar dari air lebih dulu. Karena itu air asin. Makanya aku parkir di gedung PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang lebih tinggi. Pangalaman tahun 2000, saat terjadi banjir, gedung itu tak terjilat air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah parkir, dengan lari kecil ke Simpang Lima, aku bermaksud mengambil foto dengan baterai yang tersisa. Dari tugu Simpang Lima yang biasa dipakai demonstran, sudah banyak manusia berdiri di sana. Mereka mengucapkan doa karena telah selamat dari air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus air di Jalan Sri Ratu Safiatudddin di mana aku sempoyongan digoyang gempa, terlihat deras menyeret apa saja. Termasuk mobil, dan kios-kios. Air itu hitam dan pekat. Aku sendiri tak menyangka kalau tsunami membawa air hitam pekat berisi Lumpur. Beda dengan visual yang kulihat di televisi tentang tsunami di Banyuwangi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kios-kios itu juga mengalir ke jalan T Nyak Arief. Tak lama kemudian kulihat Bedu, fotogrefer Serambi Indonesia, muncul. Di sebelah kiri, muncul Hotli (kamerawan Global TV) dengan mobil Landrover-nya. Dia parkir di sana. Sebuah handycam di tangannya mengabadikan kejadian di depan mata. Rekaman ini, diputar berulang-ulang di RCTI, karena Global TV sama-sama berada di bawah Bimantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara seorang rekan wartawan Waspada yang bertugas di Aceh Tamiang, Muhammad Hanafiah, bercerita, dia melihat arus tsunami itu berwarna hitam setinggi pohon kelapa sedang menuju kawasan Kota. Karena itu, dia buru-buru lari dari tempat penginapan, sehingga kakinya bengkak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian, ketika arus sudah berhenti, tak jauh dari kami, jenasah seorang wanita mengapung. Mulai ada korban, gumamku. “Sudah, angkat saja ke Rumah Sakit Kesdam,” kataku kepada empat pemuda seraya membenarkan letak busana perempuan malang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kondisi panik reda dan air sudah tenang, aku bersama Hotli berniat menuju Masjid Raya Baiturrahman. Belum sampai di sana, sejumlah warga sedang memanggil-manggil seorang pria dan anak kecil di bawah jembatan Pante Pirak yang tersangkut jaring nelayan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolong atau meliput? Kuputuskan dua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengambil foto dua kali jepret, kami pun bahu-membahu berusaha menarik tali besar yang dipasang untuk menarik seorang bapak dan bocah perempuan berusia sekitar dua tahunan itu. Sedangkan di bawah, tiga aparat kepolisian berusaha membantu melepaskan dan mengangkat anak tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragmen ini juga ditayangkan di RCTI, hasil rekaman Hotli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ada belasan pria, termasuk aku, terus berusaha menarik tali itu. Lewat perjuangan lelah tiga polisi tadi, anak tersebut berhasil diangkat ke atas jembatan. Kemudian kami sarankan dibawa ke Rumah Sakit Kesdam. Kondisi bocah itu kedinginan. Kaki merah tergores,  di bawah matanya lumpur menempel. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Kemudian, pria itu pun diselamatkan. Lelaki yang ikut terserat arus itu berusaha menyeleamatkan bocah itu. Tapi ketika ditanyai, dia juga tak tahu itu anak siapa. Sementara jalan menuju Masjid Baiturrahman tak bisa dilewati. Deretan pertokoan tempat Radio Flamboyan mengudara, tinggal dua lantai. Satu lantai lagi terbenam. Amblas ke dalam tanah akibat gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan jalan SA Mahmudsyah yang menuju Kodim 0101 Aceh Besar.  Ada belasan mobil di sana. Nasib pertokoan baru di sana juga tak jauh beda. Parahnya dia cuma tinggal satu lantai saja. Runtuhnya bangunan bangunan akibat gempa. Sepanjang mata hanya kehancuran yang tertatap. Masya Allah [bersambung]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111024558893489512?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111024558893489512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111024558893489512' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111024558893489512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111024558893489512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/menolong-atau-meliput-2.html' title='Menolong atau Meliput? [2]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111012870205314511</id><published>2005-03-05T09:00:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:43:49.766-08:00</updated><title type='text'>Menolong atau Meliput? [1]</title><content type='html'>Munawardi Ismail – Waspada&lt;br /&gt;Artikel ini sudah pernah dimuat di Acehkita.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi 26 Desember 2004 aku terbangun bagai terpental dari ranjang. Seketika aku sudah berdiri. Prosesnya beda dengan yang biasa. Pagi itu memang ada hentakan hebat yang membuatku seketika tersentak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini gempa,” gumamku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang kualami pagi itu. Aku kos di sebuah pertokoan lantai dua di Jalan Sri Ratu Safiatuddin. Di tempat itulah, selama ini aku bermukim. Lokasi tersebut amat strategis bagiku. Selain dekat dengan Rex di Peunayong --yang merupakan pusat keramaian malam-- kantorku juga tak jauh dari situ.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, entah bagaimana, dalam hitungan detik, aku bagai telempar dari tidur. Aku langusung ingat, beberapa bulan lalu, tempat tidurku pernah juga diguncang gempa, namun tidak sehebat ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bagai prajurit terlatih, belum masuk getaran ketiga, aku sudah berada di tengah jalan. Saat itu, aku setengah terlanjang, karena hanya celana pendek yang kupakai. Hanya satu baju kaos warna merah yang sempat kubawa turun dan di tengah jalan baru kupakai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri, persis di pintu gerbang sebuah markas besar penjaga keamanan negeri ini. Ada seorang kopral berjaga-jaga di sana. Kulihat dia santai saja. Tidak panik seperti orang lain yang sudah keluar dari dalam bangunan, takut runtuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat berpikir panjang, getaran selanjutnya menyusul. Kali ini lama. Bukan seperti gempa tadi yang membangunkanku. Semua panik. Kulemparkan pandangan ke ujung jalan, atau ke arah kiblat. Semua orang berwajah pucat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan detik, getaran itu makin dahsyat. Geteran gempa kali ini amat luar biasa. “Apakah ini sudah kiamat?” pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa detik kemudian, getarannya makin luar biasa. Laílahhaillallah. Aku tak ingat lagi berapa kali mengucapkan asma Allah. Getarannya makin hebat saja. Berdiri tak mampu lagi. Di dekatku ada tiga pria lain yang sempoyongan. Sama seperti yang kualami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah tempat kuberpijak tak pernah berhenti bergetar. Seketika aku ikut-ikutan tiarap. Padahal itu bukan kontak senjata. Tiarap pun tidak membantu menghilangkan goncangan yang membuat kehilangan keseimbangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konyolnya, di saat genting semacam ini pikiran langsung teringat kamera yang masih di kamar dan tak sempat kubawa keluar. Ini berita bagus. Pikiranku berputar tak tahu entah ke mana, Alor, Nabire di Papua termasuk Kobe di Jepang yang katanya menjadi langganan gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat berpikir jauh, apalagi getarannya makin hebat, aku dan tiga tetangga sebelah berniat hendak pindah ke Simpang Lima yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat kami berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat berlari jauh, tiba-tiba atap dan dinding depan gedung asuransi dari Kanada yang berada 80 meter di hadapan kami rontok. Seorang tamtama TNI yang berada dekat kami juga berbalik arah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik selanjutnya sederetan pertokoan di belakang Makodam Iskandar Muda yang berdiri kokoh, terdengar berderit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu... Bruuk… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu mengapul menghalangi pandangan. Kendati tidak sama seperti saat runtuhnya gedung Word Trade Centre di New York sana, tapi debunya sedikit banyak ikut menempel di rambutku. Karena aku cuma 30 meter dari pertokoan milik toke-toke non pribumi itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula terdengar jeritan orang. Tapi semua hanya bisa diam. Nafsi-nafsi (berpikir tentang nasib sendiri-sendiri, red). Lalu pikiranku makin kacau. Pada satu sisi, jiwa jurnalisku menghentak sekuat gempa tadi. Tapi apa daya bangunan tiga lantai baru saja roboh, praktis tak ada yang berani dekat bangunan setelah menyaksikan banyak gedung yang runtuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur bangunan berlantai dua sebelah kanan jalan Ratu Safiatuddin tidak ambruk. Pun demikian aku masih sempat menduga, gempa susulan pasti akan terjadi dalam rentang waktu tidak lama. Lalu dengan modal nekat, meski sedikit was-was, aku langsung menuju kamar tidur di lantai dua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial, pintu masuk lantai dasar terkunci. Aku sedikit panik, takut gempa susulan datang. Aku pun berlari mencari rekan yang sama-sama tidur di lantai atas. Ternyata sama. Dia juga tidak sempat membawa kunci. Aku pun “merayu” agar dia mau memanjat dinding. Ternyata dengan senang hati dia bersedia untuk alasan yang masuk akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pintu dibuka, ternyata gelap. “Lampu ka mate,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit susah payah aku merangkak ke lantai atas sambil meraba dinding sebagai panduan. Sukses. Tapi pintu kamar susah kubuka. Akibat terhalang beberapa dokumen yang jatuh dari lemari.  Lutut makin bergetar, membayangkan gempa yang meruntuhkan bangunan beberapa menit lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat badan sudah berada di kamar, benda pertama yang kuraih adalah pesawat telepon selular. Handphone kupakai sebagai penerang. Senter tak tahu entah di mana. Aku ingat handphone karena letaknya tak jauh dari tilam yang kupakai membaringkan badan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dapat, dengan cahaya seadanya, kuraih sebuah tas pinggang yang didalamnya berisi peralatan kerja. Kamera, pulpen, notes, alat perekam dan disket. Masih dalam posisi berdiri kurang stabil, aku merasa masih terombang-ambing, bagaikan pelampung dihempas gelombang laut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku raih sepotong celana hitam yang sudah kupakai selama dua hari. Selain itu aku tak ingat apa-apa. Yang kuingat bagaimana jalannya agar bisa segera turun kembali ke bawah. Aku tak sempat membereskan buku dan tumpukan majalah yang berserak. Kubiarkan begitu saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu kukunci pintu. Lalu bagaikan ada yang mendorong dari belakang, aku langsung keluar. Ketika sampai di bawah baru sadar, baju terbalik, celana masih terbuka resletingnya, tali pinggang tidak masuk pada yang seharusnya. Semua kacau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli. Langsung kunyalakan kamera. Sayangnya kamera coolpix itu baterainya sekarat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Foto bagus. Ada korbannya nggak ya…” aku ngomong sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu yang terbayang bahwa inilah satu-satunya bangunan yang runtuh akibat gempa. Kamera pun kumainkan. Berbagai sudut kubidik. Lalu aku ingat telepon ke Jakarta dan Medan. Tenyata tak bisa. Komunikasi terputus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara, “Tolong… tolong... bagaimana kami turun,” teriak dua warga Tionghoa di atas lantai tiga bangunan yang runtuh itu. Tidak ada tangga. Alternatifnya loncat. Itu yang kusarankan. Tapi mereka tak ada yang berani karena terlalu tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang warga yang kukira pegawainya, juga melarang mereka loncat. Karena kehadiran orang itu pula, aku pun lalu mengarahkan lensa kamera dan beranjak. Tidak ada yang pernah mengira akan ada hal yang lebih buruk setelah gempa. Cepat atau lambat, orang di atas lantai tiga itu, toh akan tertolong juga. Begitu pikirku. Apalagi sudah ada orang yang dikenalnya di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku segera menuju ke kantor tempatku bekerja, yang jaraknya cuma belasan meter dari toko yang runtuh itu. Alhamdulillah masih kokoh, retak pun tidak. Lalu ke mana kawanku yang tinggal di situ. “Dia sudah keluar bersama istri, ipar serta dua anaknya,” kata seorang warga di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun putar haluan ke lokasi semula. Tak lama, muncul kawan lainnya sekantor. Dia melaporkan sebuah swalayan ternama di Banda Aceh ikut rata dengan tanah. “Cepat kau ambil fotonya. Mungkin ada korban yang terperangkap,” perintah dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu perintah dua kali, setengah berlari aku menuju ke lokasi. Di sana kulihat sudah ada ‘wartawan Media Center” Kodam Iskandar Muda. Seroang kamerawan sedang menerima arahan dari Mayor Solih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, terlambat lu, gua udah ambil gambar dari tadi,” katanya mengejek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kehilangan akal, aku pun bilang, “Toko di samping kodam juga roboh. Untung nggak runtuh ke arah kodam.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat dia sedikit bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah kau ambil dulu gambar di sana,” perintah Mayor Solih pada sohibnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aku menjepret swalayan yang sudah ambruk itu. Pada seorang satpam, aku bertanya ada korban tidak. Setelah kupastikan tidak ada yang terperangkap. Kamera coolpix pun menyala.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai kufoto semuanya. Muncul Yuswardi (koresponden Tempo di Banda Aceh). Kami pun bercerita apa yang kami saksikan dan rasakan masing-masing.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Kapolda Aceh yang juga Penguasa Darurat Sipil Daerah (PDSD), Irjen Pol Bahrumsyah Kasman muncul lengkap dengan pengawalnya plus Kapolresta Banda Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kukira foto sudah cukup, aku langsung angkat kaki. Selain perasaan tak enak, aku juga ingin keliling kota melihat di wilayah mana saja yang rusak. Sebab, berdasarkan laporan rekan-rekan yang kukenal, banyak bangunan yang roboh, termasuk sebuah hotel cukup tenar di bilangan Taman Sari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori kameraku penuh. Dengan tergesa-gesa aku segera pulang ke kantor. Pertama ingin transfer foto ke komputer, selanjutnya mengabadikan kerusakan akibat gempa yang dua hari kemudian baru kutahu berkekuatan 8,9 skala Richter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mengira hal yang lebih buruk bakal terjadi. [bersambung]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111012870205314511?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111012870205314511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111012870205314511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111012870205314511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111012870205314511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/menolong-atau-meliput-1.html' title='Menolong atau Meliput? [1]'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111009806509068230</id><published>2005-03-04T00:33:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:51:22.870-08:00</updated><title type='text'>Galau Jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku merasa sepi di tengah kebisingan kota ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak banyak lorong yang kutingkahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kecuali....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku bagai makhluk asing...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sepi di tengah bisingnya Jakarta...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kasihan &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt; gua&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111009806509068230?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111009806509068230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111009806509068230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111009806509068230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111009806509068230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/galau-jakarta.html' title='Galau Jakarta'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111009942423639660</id><published>2005-03-03T00:56:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:49:16.836-08:00</updated><title type='text'>Apakabar ‘Ruis Costa’ Martunis?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mounaward&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARTUNIS, bocah asal Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh seketika menghentak pandangan dunia. Bukan saja karena dia selamat dari amukan tsunami yang melanda Aceh 26 Desember lalu, tapi karena bencana itu sendiri membawa berkah bocah berusia 7,5 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Gara-gara kebiasaannya mengenakan kostum sepakbola milik salah satu negara di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya. Martunis, anak kedua pasangan Sarbini dan Salwa adalah satu dari sekian banyak anak-anak di Serambi Makkah yang selamat dari amukan tsunami. Saat ditemukan, bocah berkulit hitam ini sedang mengenakan kostum tim nasional Portugal yang kondang dengan warna merah marun dan hijau itu. Sementara yang menyelamatkannya adalah kru sebuah stasiun televisi Inggris yang langsung menyiarkan kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita itu lalu disiarkan di seantero Eropa. Maka dalam waktu sekejap saja, Martunis telah meraih simpati seluruh daratan Eropa, terutama Portugal. Akibatnya, sejumlah pemain sepakbola tenar asal negara yang pernah menjajah Malaka dan Maluku itu, ingin membantu siswa SD 81 Tibang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, sejumlah situs olahraga di negeri ini dan di Eropa ramai-ramai menurunkan berita tersebut. Sehingga Martunis menjadi buah bibir di Portugal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak media asing terus memburu bocah “beruntung” ini. Sampai-sampai dia “dikejar” ke kampung neneknya. Sebelumnya, sempat beredar kabar dia kabur ke sebuah kamp penampungan pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dilacak, ternyata bocah yang hobi sepakbola ini “sembunyi” di rumah neneknya di Lamreng, Ulee Kareng, Banda Aceh atau sekitar 2 km sebelah selatan Kampus Universitas Syiah Kuala. Lamreng sendiri tak jauh dari Lamnyong, kawasan perdagangan yang juga ikut porak-poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai Lamreng, bisa melalui Lamnyong dan lewat Simpang Tujuh Ulee Kareng, atau melalui jalan-jalan tikus lainnya. Tapi lokasi ini kini ramai dikunjungi wartawan asing untuk membuat profil Martunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Martunis lantas mengalahkan cerita ratusan pengungsi lain yang menempati sebuah masjid yang tak jauh dari rumah nenek Martunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia memang sejak kecil sudah suka memakai baju sepakbola,” ujar Sarbini (35) sang ayah yang mendampingi Martunis membuka cerita kepada sejumlah wartawan termasuk acehkita, Kamis (20/1) petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pria yang berprofesi sebagai nelayan ini, buah hatinya yang biasa disapa Tunis ini memang gandrung sepakbola. Karena itu, Tunis minta ayahnya membeli baju replika timnas Portugal pada Euro 2004 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itu bukan karena Portugal jagoan hebat. Tapi memang dia penggemar berat Rui Costa. “Setiap beli baju dia selalu minta nomor punggung 10. Kalau yang lain tak mau,” sambung pria berkumis tebal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarbini sendiri dengan Rp 25.000 lalu menghadiahi baju tersebut lengkap dengan celananya. Saat terjadinya gempa yang disusul tsunami di hari Minggu pagi, rencananya Martunis ingin bermain sepakbola dengan bocah seusianya di lapangan sepakbola kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kejadian, Sarbini sedang tidak berada di rumah. Menurut Martunis, saat gelombang tsunami muncul, dia, kakak, adik serta mamanya, menumpang mobil pick up milik tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mobil itu tidak selamat dari gulungan gelombang tsunami dan akhirnya tenggelam. Martunis sendiri entah bagaimana ceritanya bisa muncul di permukaan air meski dia tidak bisa berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Tunis berpisah dengan kakak dan adik serta bundanya untuk selamanya, Tunis mengaku sempat menarik lengan adiknya yang minta tolong. Namun apa daya, tangan mungilnya kalah dengan arus tsunami itu. Adiknya terus diseret arus. Tunis dengan meraih sepotong kayu, lalu mengapung-apung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sebuah kasur yang mengambang melintas di dekatnya, Martunis pun berpikir untuk pindah ke kasur yang lebih lebar itu. Namun kasur kapuk itupun akhirnya tenggelam dan Martunis memanjat batang pohon bangka untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya mukjizat yang membuat Tunis selamat saat dia kembali diseret arus balik tsunami dan mendamparkannya di kawasan rawa-rawa tak jauh dari Makam Ulama Aceh, Tgk Syiah Kuala, di Desa Deah Glumpang, kecamatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martunis mengaku sempat 19 hari bertahan di rawa-rawa. Waktu yang mengejutkan bagi seorang manusia untuk bertahan hidup tanpa makanan dan minuman yang memadai, apalagi bagi seorang anak kecil seperti Martunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki. Dengan mengandalkan mi instan kering dan air mineral yang terapung di sekitarnya, ia bertahan sampai akhirnya ditemukan oleh penduduk di pantai Kuala, pada 15 Januari 2005 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ia diserahkan pada awak televisi Inggris yang sedang meliput di sekitar tempat itu. Gambar Martunis pun beredar di stasiun televisi asing sebagai salah satu korban tsunami yang selamat dengan keajaiban: 19 hari bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kedua Sarbini dan Salwa ini mengaku melihat banyak mayat yang mengapung di sekitarnya selama terombang-ambing di rawa-rawa. Tapi dia tak mendapati mayat ibu, adik dan kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditemukan, Martunis kemudian dibawa ke Rumah Sakit Fakinah untuk mendapatkan perawatan karena ia mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) dan kurang makanan. “Saat dikasih makan, dia makannya sangat lahap dan cepat, sehingga awak televisi Inggris tersenyum-senyum,” cerita ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Martunis hanya mengalami luka kecil akibat terkena kayu di perutnya. Selain itu, kulitnya mengelupas karena terus-terusan berada di laut siang dan malam. "Kalau terik matahari saya panas tak ada tempat berlindung," katanya mengenang kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh perawatan di rumah sakit, Martunis dijemput ayahnya. “Saya dengar dari orang ada anak kecil yang ditemukan. Makanya saya datang ke sana,” ujar Sarbini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lamreng, Sarbini tinggal di rumah rumah ibunya, Jauhari. Sementara ibu, kakak dan adiknya belum ditemukan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cerita Martunis tak akan “seseru” sekarang, andai dia ditemukan tanpa kostum timnas Portugal bernomor punggung 10 yang biasa dipakai Ruis Costa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaos yang dibelikan ayahnya saat Piala Eropa itu telah menarik simpati pejabat sepakbola dan pemain nasional Portugal seperti Cristiano Ronaldo, Luis Figo, Nuno Gomes, Gilberto Madail, serta Luiz Felipe Scolari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketertarikan itu, Martunis memperoleh tawaran pertama dari bintang muda Manchester United, Christiano Ronaldo, yang juga anggota tim nasional Portugal, untuk menginap di rumah Ronaldo di Inggris guna menyaksikan pertandingan klub elite Liga Premier tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang tim nasional Portugal Luis Figo juga telah menyatakan keinginannya untuk membantu Martunis, meskipun belum jelas bentuk bantuan itu dan kapan tepatnya akan diserahkan. Sementara itu, pelatih Luiz Felipe Scolari juga berniat untuk membelikan anak itu sebidang tanah di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111009942423639660?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111009942423639660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111009942423639660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111009942423639660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111009942423639660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/apakabar-ruis-costa-martunis.html' title='Apakabar ‘Ruis Costa’ Martunis?'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111011718284492987</id><published>2005-03-02T05:35:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:48:18.916-08:00</updated><title type='text'>Ibunda Meutya Berdoa Anaknya Dibebaskan Penyandera</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Munawardi Ismail&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;METTY Rumaiti ibunda Meutya Hafid sudah tak kuasa menahan tangis. Dia tidak mendapat firasat buruk apapun menyangkut dengan penyanderaan anaknya di Irak. Kabarnya Meutya Hafid dan Budiyanto yang sedang bertugas di Negeri 1001 malam disandera kelompok Mujahidin Irak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ibu empat anak itu mendengar kabar hilangnya Meutya, Jumat (18/2) siang dari presenter Metro TV Desy Anwar yang datang kerumahnya memberitahu. “Kami harap kepada penyandera untuk membebaskan Meutya. Dia seorang Muslimah yang taat,” ungkap Ny Metty seperti disiarkan Metro TV, Sabtu sore kemarin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ibunda Meutya yang didamping dua anaknya mengharapkan kepada kelompok penyandera untuk membebaskan puterinya. Karena anak bungsu dari empat bersaudara itu tidak ada urusan dengan masalah politik. “Dia menjalankan tugasnya sebagai wartawan,” ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh karena itu, lanjut dia, sebagai sesama Muslimhendaknya pihak penyandera dengan segara membebaskan Meutya Hafid dan juru kamera Budiyanto. “Dia seorang anak yatim yang menjadi tulang punggung keluarga kami,” imbuhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sejak puterinya ditugaskan ke Irak, Metty selalu berdoa agar Allah SWT selalu melindunginya dan bungsu berusia 26 tahun itu selamat kembali ke Indonesia dengan selamat. Telepon terakhir Meutya pada 13 Februari, Metty sedikit tenang karena menerima kabar bahwa Meutya menceritakan dalam keadaan baik-baik saja. Namun dia menyebutkan akan berada di Irak sampai 25 Februari untuk meliput acara 10 Muharram di Karbala, Irak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam pembicaraan per telepon tersebut Ny Metty berpesan agar kepada anaknya yang terkecil itu untuk tidak lupa menunaikan ibada shalat dan berdoa. “Meski mama berdoa di sini, Meutya juga harus berdoa. Danjangan lupa makan yang teratur agar tidak sakit,”pesannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam seminggu, lanjut Metty, selama berada di Iraksejak 31 Januari, Meutya selalu menelpon ke rumahsampai tiga kali. Namun sejak 13 Februari, Meutyatidak pernah lagi menelpon ke rumah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Sosok Meutya &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selain mengabari ibunya, gadis itu juga mengirimkan pesan kepada kakaknya, Fini Hafid lewat layanan pesan singkat (SMS). Fini menerima SMS terakhir kali dari Meutya pada 13 Januari pukul 19.06 WIB. Isinya; Teh Fini, Meutia diminta kembali ke Irak, pulang masih lama tanggal 25. diambil positifnya sajalah. &lt;em&gt;They like my reporting. I guess&lt;/em&gt;. Nggak apa-apa kok, &lt;em&gt;I’ll be fine&lt;/em&gt;. Mau liputan 10 Muharram. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Siapa Meutya Hafid? Dia, anak bungsu pasangan Dr Anwar dengan Metty Rumaiti. Anak pertama mereka adalah almarhum Farid, kemudian Safitri dan Fini. Sedangkan ayahnya sudah meninggal hampir sembilan bulan lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam halaman friendsternya dia mengaku punya hobi special: &lt;em&gt;Reporting…reporting…&lt;/em&gt; &lt;em&gt;reporting…Love reporting!!&lt;/em&gt; Di televisi milik Surya paloh dia memanduacara &lt;em&gt;lifestyle&lt;/em&gt;. Dia juga pernah meliput di Aceh ketika musibah tsunami terjadi di daerah modal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengenai penguasaan bahasa asing Meutya ini tak perlu diragukan lagi. Maklum, sekolahnya banyak dihabiskan di luar negeri. Dia sempat menimba ilmu di &lt;em&gt;CrescentGirls School Singapore dan School of Manufacturing Engineering&lt;/em&gt; UNSW Sidney Australia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gadis cantik yang demen menonton serial Friends dan Oprah Winfrey ini semasa remaja sekolah di SMAN 8 Jakarta, SMPN 1 Jakarta dan SD Menteng 02 Jakarta. Meutya juga aktif dengan organisasi ASEAN Scholars, Perhimpunan Alumni Jepang PERSADA dan PPIA Sydney. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kini ibu dan kakak-kakanya berharap-harap cemas. Mereka selalu berdoa semoga anaknya dibebaskan parapenyandera di Irak.(&lt;em&gt;dari berbagai sumber&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111011718284492987?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111011718284492987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111011718284492987' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111011718284492987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111011718284492987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/ibunda-meutya-berdoa-anaknya.html' title='Ibunda Meutya Berdoa Anaknya Dibebaskan Penyandera'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-111009906758462614</id><published>2005-03-01T00:50:00.000-08:00</published><updated>2005-03-12T03:50:19.393-08:00</updated><title type='text'>Kawanku, si ganteng itu</title><content type='html'>&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y22/bromartani/aldi.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-111009906758462614?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/111009906758462614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=111009906758462614' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111009906758462614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/111009906758462614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/03/kawanku-si-ganteng-itu.html' title='Kawanku, si ganteng itu'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10944425.post-110883411527682890</id><published>2005-02-19T09:27:00.000-08:00</published><updated>2005-02-19T09:28:35.283-08:00</updated><title type='text'>Nestapa di Gunung Balam</title><content type='html'>Reporter: Alfian Hamzah  Pena Indonesia, 2005-02-19 18:01:23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CALANG, 19 Februari 2005 - Dua orang warga Calang menunjukkan siapa-siapa saja yang tetap merana di tengah ‘kemajuan’ proyek pembangunan Kota Calang, Aceh Jaya, setelah tsunami: 50 jenazah yang hingga kini masih berserak di pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 40 hari kemudian, banyak jenazah korban tsunami di pesisir Barat Aceh belum dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besarnya terhimpit sampah kayu yang menggunung atau terperangkap di rawa-baru di piringan Gunung Balam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, terpisah tiga kilometer dari Bukit Carak, lokasi pengungsi Calang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari bau yang menyengat, jasad korban tsunami itu sebagiannya bisa ditelusuri keberadaannya dari jejak kawanan babi dan patok-patok tunggal di antara tumpukan papan dan kusen, batang kelapa, rangka mobil, kulkas dan peralatan dapur rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lainnya telah mengering, tinggal tulang-belulang berserak, dan nyaris menyatu dengan sampah di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini ada satu,” kata Jamaluddin, 32, menunjukkan sesosok mayat-tinggal-kerangka yang terjepit pokok kelapa di pinggir jalan Desa Kampung Blang - satu dari enam desa di Calang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hari-hari sebelumnya, hanya sedikit pengungsi yang turun ke pesisir siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yang ada pun, sebagiannya  sibuk dengan kegiatan sendiri, dari mengumpulkan papan dan balok untuk mempercantik gubuk di pengungsian atau untuk keperluan mendirikan rumah darurat di atas halaman semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat-pejabat tinggi pemerintah dan anggota dewan semestinya mengajak pengungsi Calang menguburkan mayat dengan bergotong-royong, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sehari misalnya sepuluh orang mau kerja bakti, satu minggu sudah habis semua mayat dikuburkan. Tapi entah kemana kemana larinya ‘kucing-kucing’ itu. Tiba-tiba nanti kalau desa bersih, mereka sudah pulang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekannya Bachtiar menambahkan. “Yang semestinya (mayat-mayat) ini dulu yang dikuburkan baru yang lain dikerjakan. Aparat (tentara) juga semestinya turun menguburkan mayat. Apa juga guna mereka datang ke sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaluddin dan Bachtiar masih ada hubungan darah. Berdua mereka kehilangan hampir 40 orang keluarga dekat dalam musibah tsunami lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu mayat dari yang hilang itu yang berhasil mereka temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan, kurang dari satu kilometer dari mayat tak terurus itu, puluhan tentara berteduh di balik tenda-tenda raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tengah menjaga ratusan orang pekerja asal luar Aceh yang sejak pagi mendirikan rangka kayu barak-barak pengungsi di Desa Dayah Baro dan Keutapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah jalan setapak menjelang Gunung Balam- sebenarnya bukit namun orang Aceh menggunakan kata “gunung” untuk itu - Bachtiar giliran menunjukkan tulang belulang manusia di sebuah area landai yang masih tergenangi air setinggi selutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lama ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebagian besar wilayah Calang lainnya, piringan Gunung Balam masih tak tersentuh alat berat hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan sampah dan puing-puing kota oleh pihak tentara dan PT Adikarya - kontraktor pembangunan barak pengungsi - sejauh ini terpusat radius satu kilometer dari markas pasukan Marinir di dekat Bukit Carak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu juga sudah dimakan babi,” kata Jamaluddin, saat melintas di dekat sebuah kubur yang koyak dengan tulang belulang manusia yang berserak di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak babi malam sebelumnya masih segar di antara dua patok kayu penanda nisan kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua jam mengintari Gunung Balam, Pena Indonesia menjumpai belasan kubur yang koyak dan isinya berhamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fisiknya, hanya beberapa yang berpagar dengan nisan dan menghadap kiblat. Selebihnya lebih mirip ‘timbunan tanah’ dengan papan seadanya untuk mencegah tanah tergerus air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil jalan, Bachtiar menjelaskan kalau masyarakat yang datang ke Gunung Balam - entah itu dengan maksud mencari jasad sanak keluarga atau mencari ‘harta karun’ seperti dari emas di badan mayat atau uang di antara lemari rumah yang hanyut, atau papan untuk menambal gubuk di pengungsian atau bahkan aluminium bekas untuk diperdagangkan sekalipun - hanya mengubur mayat yang mereka kenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak yang hanya ditimbun tanah saja. Kalaupun ada yang digali, paling satu siku,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebulan setelah tsunami,” kata Jamaluddin menambahkan, “belum ada itu yang dimakan babi. Tapi sekarang ini. sudah berapa yang kita lihat sejak jalan tadi? Dua belas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bachtiar menunda menjawab dan mempercepat langkah menghindari sesosok kerangka yang membusuk di dekat jalan setapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian, dia menunjukkan dua tengkorak yang menyembul di antara tumpukan sampah kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat kan? Hanya ditutup papan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sana juga. Pas di bawah kain hitam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Bachtiar sekalian menengok kebun duren miliknya di Gunung Balam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari huma di sela-sela pokok duren, dia menunjuk aliran sampah yang menggunung hingga ke Pulo Ie, Blang Dalam dan Gunung Nibung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang lihat gunung yang sana itu,” katanya mengarahkan telunjuk ke pepohonan di Gunung Nibung. “Baru di situ air (gelombang tsunami) berhenti. Di sana banyak mayat juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada 50 mayat yang kita lihat tadi, yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih, Bang,” kata Jamaluddin. “Itu tadi kita jalan begitu saja. Belum mencari. Kalau sampah-sampah itu diperiksa, bisa lebih 100 mayat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Pasukan Marinir menyebutkan dari hampir 8.000 orang penduduk Calang, 6.000 di antaranya dinyatakan hilang dan baru sekitar 600 orang yang mayatnya telah dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengarah pulang, Bachtiar menunjukkan satu lagi kubur yang koyak dengan jejak babi hutan di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu ada aparat di depan,” katanya berbisik, mengarahkan pandangan ke enam pasang mata yang memandangi dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang serdadu dengan handphone di tangan bertanya ke Jamaluddin di barisan depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habis lihat mayat, Bang,” katanya menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara-tentara itu kebetulan kena giliran menjaga proyek pembangunan barak pengungsi di pesisir, kurang dari satu kilometer tempat mereka duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mineral dan makanan ringan dalam plastik berlogo Walubi menemani mereka siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana,” kata seorang serdadu menunjukkan kawasan pembangunan barak pengungsi - kerjasama Walubi dan Pasukan TNI-AL - Calang, “juga masih ada mayat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian, di sebuah tumpukan sampah sekitar sepuluh meter dari barak pengungsi yang tengah dikerjakan, Bachtiar menunjukkan dua mayat manusia yang terhimpit batang kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini,” katanya bergerak ke tumpukan sampah lain, “semestinya ada satu mayat lagi. Kemarin saya masih sempat tutupi pakai kain ini. Mungkin ada di bawah tumpukan ini. Ini (tumpukan) ini masih baru, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kain spanduk berlumpur masih terlihat di situ berikut jejak rantai buldozer di seputarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rangka mobil yang seharusnya berada tak jauh timbunan sampah dan mayat tak terurus itu telah hilang dari pandangan. “Mungkin mobilnya sudah dibawa sama aparat,” kata Bachtiar. [pi]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10944425-110883411527682890?l=mounawardismail.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mounawardismail.blogspot.com/feeds/110883411527682890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10944425&amp;postID=110883411527682890' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/110883411527682890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10944425/posts/default/110883411527682890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mounawardismail.blogspot.com/2005/02/nestapa-di-gunung-balam.html' title='Nestapa di Gunung Balam'/><author><name>Sjech Mount</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JmQGJai1ARM/SVz5-WnpmmI/AAAAAAAAAlc/4pIcFda4trI/S220/mounablog1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
